Beliau adalah Mu`allim KH. M.Syafi`i Hadzami. Gelar mu`allim dan juga`allamah yang disandangnya menunjukkan betapa almarhum menempati posisi yang begitu terhormat dalam hirarki keulamaan di Betawi.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4. Karir
5. Karya-Karya
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. M. Syafi`i Hadzami lahir pada tanggal 31 Januari 1931 M, anak pertama dari pasangan Bapak Muhammad Saleh Raid dan Ibu Mini ini di Kawasan Rawa Belong. Beliau sejak kecil diasuh langsung oleh kakeknya.
1.2 Riwayat Keluarga
Sebagaimana kebiasaan masyarakat Betawi pada waktu itu, bahkan masyarakat Indonesia pada umumnya, maka KH. Syafi’i juga menikah di usia muda, yakni tujuh belas tahun.
KH. Syafi’i menikahi gadis teman sepermainannya di Batu Tulis, seorang gadis bernama Nyai Nonon. Ketika menikah KH. Syafi’i telah mengikuti neneknya pindah ke kawasan Kemayoran sepeninggal kakeknya.
1.3 Wafat
KH. Syafi’i Hadzami wafat pada hari Minggu, 7 Mei 2006 dalam usia 75 tahun. Banyak muridnya yang terkejut mendengar berita kewafatan KH. Syafi’i Hadzami. Tak henti-hentinya orang berdatangan untuk menshalati dan mendoakan kepergian beliau. Bahkan disebutkan shalat jenazah dilakukan tak putus dari siang hingga malam saking banyaknya yang datang.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
KH. M. Syafi`i Hadzami kecil, sering sekali diajak kakeknya untuk mengaji dan membaca dzikir di kediamannya KH. Abdul Fattah (1884-1947), seorang ulama kelahiran Cidahu, Tasikmalaya yang membawa Tarekat Idrisiah ke Indonesia.
Selain itu, beliau juga mengaji Al-Qur`an, dasar-dasar ilmu nahwu dan shorof kepada Pak Sholihin. Dari tahun 1948 sampai dengan tahun 1953 atau selama 5 tahun. Setelah selesai, kemudian beliau melanjutkan dengan belajar kepada KH. Sa`idan di Kemayoran.
Kepadanya, Kyai Syafi`i belajar ilmu tajwid, ilmu nahwu (dengan kitab pegangan berjudul Mulhatul-I`rab) dan ilmu fiqih (dengan kitab pegangan berjudul Ats-Tsimar Al-Yani`ah yang merupakan sarah dari kitab Ar-Riyadh Al-Badi`ah).
Selain belajar ilmu-ilmu agama, Kyai Syafi`i juga belajar ilmu silat kepadanya. KH. Sa`idan juga menyuruhnya untuk belajar kepada guru-guru yang lain, misalnya kepada Guru Ya`kub Sa`idi (Kebon Sirih), Guru Khalid (Gondangdia), Guru Abdul Majid (Pekojan), dan lain-lain. Dari KH. Mahmud Romli yang tinggal di daerah Menteng, Jakarta Pusat ini, Kyai Syafi`i menimba ilmu fiqih dan ilmu tasawuf. Kitab fiqih yang digunakan dalam belajar adalah Bujairimi, sedangkan kitab tasawufnya adalah Ihya `Ulumiddin.
Biasanya, yang membaca kitab-kitab tersebut adalah Guru Mahmud sendiri. Lebih dari 6 tahun (1950-1956), Kyai Syafi`i menimba ilmu darinya. Juga berguru kepada KH. Ya`kub Saidi yang bermukim di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, seorang alim lulusan Makkah.
Kepada gurunya ini, Kyai Syafi`i mengaji banyak kitab yang dibacanya di hadapan Guru Ya`kub sampai khatam; terutama kitab-kitab dalam ilmu ushuluddin dan mantiq. Di antara kitab-kitab yang dikhatamkan padanya adalah Idhahul Mubham, Darwis Quwaysinin dan lain-lain.
Kyai Syafi’i juga berg
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

