Al-Habib Muhammad bin Husein al-Aydrus lahir di kota Tarim, Hadramaut pada 1888 M. Kewalian dan sir beliau tidak begitu tampak di kalangan orang awam. Namun di kalangan kaum ‘arifin billah derajat dan karomah beliau sudah bukan hal yang asing lagi, karena memang beliau sendiri lebih sering bermuamalah dan berinteraksi dengan mereka.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Biografi Habib Muhammad bin Husein Alaydrus (Habib Neon)
Kelahiran
Al-Habib Muhammad bin Husein al-Aydrus lahir di kota Tarim, Hadramaut pada 1888 M. Kewalian dan sir beliau tidak begitu tampak di kalangan orang awam. Namun di kalangan kaum ‘arifin billah derajat dan karomah beliau sudah bukan hal yang asing lagi, karena memang beliau sendiri lebih sering bermuamalah dan berinteraksi dengan mereka.
Wafat
Habib Neon wafat pada 30 Jumadil Awwal 1389 H atau bertepatan dengan 22 Juni 1969 M dalam usia 71 tahun. Sesuai dengan wasiatnya, beliau dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Pegirikan, Surabaya, di samping makam paman dan mertuanya, Habib Mustafa Alaydrus.
Setelah beliau wafat, dakwahnya dilanjutkan oleh putra ketiganya, Habib Syaikh bin Muhammad Alaydrus dengan membuka Majelis Burdah di Ketapang Kecil, Surabaya. Haul Habib Neon diselenggarakan setiap hari Kamis pada akhir bulan Jumadil Awwal.
- Baca juga: Mengenal Sayyid Alwi Alaydrus Malang
Perjalanan
Sejak kecil habib Muhammad dididik dan diasuh secara langsung oleh ayah beliau sendiri Al-’Arifbillah Habib Husein bin Zainal Abidin Alaydrus. Setelah usianya dianggap cukup matang oleh ayahnya, Habib Muhammad dengan keyakinan yang kuat kepada Allah SWT merantau ke Singapura. Beliau berpedoman dengan pesan di dalam Al-Qur'an;
أَلَمْ َتكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فتَهَاجَرُوْا فِيْهَا
“Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” (QS. An-Nisa’: 97)
Setelah merantau ke Singapura, beliau pindah ke Palembang, Sumatera Selatan. Di kota ini beliau menikah dan dikaruniai seorang putri. Dari Palembang, beliau melanjutkan perantauannya ke Pekalongan, Jawa Tengah, sebuah kota yang menjadi saksi bisu pertemuan beliau untuk pertama kalinya dengan Al-Imam Al-Quthb al-Habib Abu Bakar bin Muhammad As-Seggaf, Gresik.
Kemudian saat di Pekalongan, beliau seringkali mendampingi Habib Ahmad bin Tholib Al-Atthos. Dari Pekalongan, lalu beliau pidah ke Surabaya tempat Habib Musthafa Alaydrus yang tidak lain adalah pamannya sendiri.
Mungkin perjalanan Habib Neon ini sebagaimana yang digambarkan oleh seorang penyair, Al-Hariri. Dalam sebua syair dikatakan;
وَحُبِّ البِلَادَ فَأَيُّهَا أَرْضَاكَ فَاخْتَرْهُ وَطَنْ
“Cintailah negeri-negeri mana saja yang menyenangkan bagimu dan jadikanlah (negeri itu) tempat tinggalmu.”
Akhirnya beliau memutuskan untuk tinggal bersama pamannya di Surabaya, yang waktu itu terkenal di kalangan masyarakat Hadramaut sebagai tempat berkumpulnya para wali Allah. Di antaranya adalah Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya dan masih banyak lagi para habaib yang mengharumkan nama kota Surabaya waktu itu.
Pewaris Rahasia
Selama menetap di Surabaya, Habib Muhammad Al-Aydrus masih suka berziarah, terutama ke kota Tuban dan Kudus selama 1-2 bulan. Dikatakan bahwa para Sayyid dari kelua
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

