Selain melakukan dakwah keberbagai tempat, Syaikhona mendirikan Pondok Pesantren Al-Barkah pada tahun 1963. Bertujuan untuk lebih dapat melayani umat serta membantu para pelajar dan mahasiswa yang datang ke Cianjur untuk mencari ilmu.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Perjalanan Dakwah
3.2 Mendirikan Pesantren
3.3 Pembimbing dan Mursyid Ihya Ul Ihya
4. Karir-Karir
5. Karya-Karya
6. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Abdul Qodir Rozy lahir pada hari Jum’at, di Kampung Cibadak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur tanggal 15 September 1935 Masehi bertepatan dengan 29 Jumadil Akhir 1345 Hijriah. Beliau adalah putra kelima dari sembilan bersaudara. Ayahnya bernama KH. Fakhrur Rozy bin KH. Muhammad Yunus dan Ibunya bernama Nyai Hj. Hindun binti Abdurrahman.
1.2 Wafat
KH. Abdul Qodir Rozy atau akrab disapa Ajengan Koko ini wafat pada usia 86 tahun pada hari Ahad 28 Februari 2021.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Kecintaan Syaikhona terhadap ilmu, tidak terlepas dari gemblengan orang tuanya. Diceritakan dalam buku biografi beliau yang ditulis oleh Ustadz Rusli bahwa ketika Syaikhona masih duduk di Sekolah Dasar, orang tuanya mewajibkan beliau untuk mengikuti pengajian kitab kuning dengan jadwal lima kali mengaji dalam satu hari. Sehingga waktu bermain sangat jarang dialami oleh beliau sewaktu masih kecil.
Karena jadwal dan sistem pengajian yang diterapkan oleh orang tuanya sangat disiplin, tidak jarang dalam mengikuti pelajaran dari ayahandanya tercinta, sambil meneteskan air mata karena sangsi yang diterima akibat mengantuk sewaktu mengaji ataupun belum menghapal pelajaran yang diberikan. Akan tetapi dengan tekad yang sangat kuat untuk bisa mengaji, jiwa yang ikhlas serta semangat yang tidak mengenal putus asa, beliau jadikan modal utama dalam tholabul ilmi.
Adalah suatu perkara yang cukup langka dimana orangtua mampu memberikan pendidikan kepada anak secara khusus sampai menguasai beberapa kitab dengan pemahaman yang baik. Begitulah hal yang terjadi terhadap Syaikhona dalam pendidikan bersama kedua orangtuanya. Dengan rasa tanggung jawab yang tinggi kedua orang tua beliau mendidik dan mengajar sampai beliau berusia enam tahun.
Alhamdulillah, berkat perjuangan yang kuat, kesabaran dan ketekunan dalam mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Ayah Bundanya, semenjak kecil hingga mencapai usia enam belas tahun, beliau dapat menguasai seluruh pelajaran yang disampaikan kepadanya.
Di antara kitab-kitab yang diajarkan kepada beliau dari semenjak kecil adalah; Al-Qur’an bit Tajwid, Safinatunnaja, Tijanuddarori, Jurumiyyah, Riyadlul Badliah, Jauharuttauhid, Kholid Azhari, Fathul Qorib, Bidayatul Hidayah, Irsyadul Ibad dan Minhajul Abidin. Dengan kitab-kitab inilah beliau mendapatkan pemahaman dasar yang cukup baik dan kemudian dilanjutkan mengkaji lebih mendalam di pondok-pondok pesantren yang lain.
Jika kita lihat dari kitab kitab yang dipelajari mulai dari kecil, beliau memang lebih banyak mempelajari kitab kitab fiqih, sehingga tidak ragu lagi kalau kita mengatakan bahwa beliau seorang ulama yang faqih. Kecerdasan pemikirannya memang diakui oleh semua lapisan masyarakat, khususnya di
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

