KH. Abdul Fatah Ulama Nahdlatul Ulama Banjarnegara Jawa Tengah
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru Beliau
2.3 Mendirikan dan Mengasuh Pesantren
3 Penerus Beliau
3.1 Anak-anak Beliau
3.2 Murid-murid Beliau
4 Organisasi dan Karier
4.1 Riwayat Organisasi
4.2 Karier Beliau
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Abdullah Faqih, demikian nama seorang bayi yang lahir pada pertengahan abad ke 19 yang kelak setelah menunaikan ibadah haji berganti nama Abdul Fatah. Diperkirakan beliau dilahirkan pada tahun 1860 M di dukuh Sawangan desa Selagara Kecamatan Madukara Kabupaten Banjarnegara Propinsi Jawa Tengah. Putera kedua dari empat putera Simbah Kiyai Naqim tersebut memang dilahirkan di tengah-tengah keluarga “Santri” yang memang teguh ajaran agama Islam.
Masa kecil KH. Abdul Fatah dihabiskan di kampung halamannya bersama orang tua dan saudara-saudaranya. Yahya adalah kakaknya, sedangkan Bahri dan Dahlan adalah adik-adiknya. Demikian menurut penuturan KH. Ridlo Fatah, putera bungsu KH. Abdul Fatah.
1.2 Riwayat Keluarga
Seperti dirasa cukup, KH. Abdul Fatah mengakhiri masa lajangnya setelah pulang dari Pondok Pesantren Kaweden Banyumas. Dalam perjalanan pulangnya, beliau singgah di rumah Kepala Desa Parakancanggah, Mbah Rebath, untuk menunaikan sholat Maghrib. Dikisahkan, bahwa usai melaksanakan sholat Maghrib, Mbah Rebath terus berbincang-bincang dengan sang tamu (pemuda yang dulunya bernama Abdullah Faqih). Diantara isi percakapannya beliau menanyakan tentang, ” jati diri sang tamu, darimana dan mau kemana”, begitulah kira-kira ringkasannya.
Sebagai seorang santri yang perwira dan tertanam jiwa ketulusan dan kejujuran. Pemuda tersebut menjawab dengan tegas, bahwa namanya Abdullah Faqih, “baru pulang dari Pondok Pesantren Kaweden Banyumas, kemudian akan menuju rumah di Desa Sawangan”.
Mendengar sang tamu baru mondok, Mbah Rebath tertarik sekali, sehingga beliau memanggil Danu, puteranya. Kata Mbah Rebath, ”Nu... ini ada tamu, santri Pondok, dari Sawangan, coba ditawari saja menjadi Kiai disini, kalau bersedia akan saya buatkan Langgar (Mushola)”. Pemuda Abdullah Faqih akhirnya menjawab dengan sikap bijak, “ saya bersedia jika orang tua saya memberikan izin”, katanya.
Setelah diadakan pertemuan antara Mbah Rebath, Mbah Danu dengan orang tua Abdullah Faqih, akhirnya maksud baik Mbah Rebath kesampaian juga, bahkan pemuda KH. Abdul Fatah diminta pula untuk menikahi puterinya Mbah Danu yang bernama Sinun. Seperti di jelaskan di atas, bahwa Sinun saat tergolong anak-anak (kurang lebih 6 tahun), sehingga setelah pernikahan praktis belum bisa berkump
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

