Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Moh. Djamaluddin Ahmad, Pendiri Pesantren Bumi Damai Al-Huhibbin
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Moh. Djamaluddin Ahmad, Pendiri Pesantren Bumi Damai Al-Huhibbin

1943 – 2022 M · 32.643 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Moh. Djamaluddin bin Achmad merupakan Pengasuh Pesantren Bumi Damai Al-Huhibbin, Tambakberas, Jombang. Dikenal sebagai pengampu kitab Hikam dan memiliki jamaah yang demikian banyak. Pengajiannya selalu dibanjiri hadirin, bahkan mereka dari berbagai daerah. 

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.     Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1   Lahir
1.2   RiwayatKeluarga
1.3   Wafat

2.     Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1   Pendidikan
2.2   Guru-Guru

3      Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1   Mendirikan Pesantren

4      Organisasi

​5.     Chart Silsilah Sanad
6.     Referensi

1  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1  Lahir
KH. Moh. Djamaluddin bin Achmad bin Hasan Mustajab bin Hasan Musthofa bin Hasan Mu’ali, lahir pada tanggal 31 Desember 1943 di Kampung Kedungcangkring, Desa Gondanglegi, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Achmad bin Hasan Mustajab dengan Nyai Hj. Mahmudah/Djumini (nama sebelum haji) binti Abdurrahman bin Irsyad bin Rifa’i. Beliau adalah anak ketiga dari empat bersaudara, yaitu: Gus Imam Ghozali yang meninggal pada umur 6 tahun, Kyai Jawahir, Kyai Moh. Djamaluddin, dan Kyai Zainal Abidin.

1.2  Riwayat Keluarga
Begitu tamat dari Mu’allimin, KH. Moh. Djamaluddin diambil menantu oleh KH. Abdul Fattah dijodohkan dengan putrinya yang bernama Nyai Churriyyah yang masih kelas I Mu’allimat.

Selama kurang lebih 3 tahun mondok di Lasem, beliau tidak pernah pulang ke rumah, suatu hari setelah Ashar beliau mendapat surat dari ibunya yang isinya, “Djamal muliho aku wis kangen.” Beliau menangis karena waktu itu sudah berencana dan menabung untuk mondok di Mranggen Demak yang diasuh oleh KH. Muslih bin Abdurrahman untuk khataman Kitab Al-Mahalli.

Pada waktu itu semua pakaian, kitab-kitab, dan koper telah disiapkan, karena keesokannya akan berangkat ke Demak. Beliau hanya bisa menangis, karena satu sisi beliau ingin mengaji, dan di sisi lain harus patuh pada ibunya. Akhirnya beliau sowan pada KH. Baidlowi tanpa mengatakan apapun dan hanya menangis saja, tanpa bertanya KH. Baidlowi berkata : "Cung, anak iku sing apik manut wong tuo.” Setelah sowan, beliau langsung pulang, sampai di Jombang pada malam hari jam 11, terpaksa menginap di kamar pondok dan tidak sowan KH. Fattah karena takut akan diakadi, sebab sebelum berangkat ke Lasem, beliau sudah positif diambil menantu namun belum akad karena permohonan keluarga Nganjuk agar menyelesaikan dahulu menuntut ilmu di pondok pesantren.

Ternyata kepulangan beliau diketahui oleh KH. Fattah dan Ibu Nyai Fattah yang ketika itu juga ada Ibu Nyai Iskandar, kemudian Ibu Nyai Fattah berpesan yang intinya, oleh karena akhir bulan Sya’ban itu akan diadakan Haflah Akhirussanah (Imtihan), maka keluarga Gondanglegi beserta ayah-ibu beliau, dan saudara-saudaranya akan diundang ke Tambakberas.

Pada pelaksanaan Akhirussanah, seluruh keluarga Gondanglegi menghadiri dan akan pulang keesokan harinya, namun KH. Fattah berpesan pada keluarga Gondanglegi agar nak Djamal t

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+