KH. Masyhuri Malik, Ulama, Nahdlatul Ulama, Bekasi, Jawa Barat
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-guru Beliau
2.3 Mendirikan dan Mengasuh Pesantren
3 Penerus Beliau
3.1 Anak-anak Beliau
3.2 Murid-murid Beliau
4 Organisasi, dan Karier
4.1 Riwayat Organisasi
4.2 Karier Beliau
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Masyhuri Malik dilahirkan di Batang, Jawa Tengah, pada tanggal 16 Oktober 1954. Ayahnya bernama H.Abdul Malik, dan ibunya Ny. Hj. Parmi Aisyah.
1.2 Riwayat Keluarga
Dari pernikahan beliau dengan Hj. Qomariyah, dikaruniai empat orang putra-putri yakni Athia Yumna, Ahmad Faisal, Muthia Diyani dan Hanna Fauziyah.
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Masyhuri Malik menempuh pendidikan dasar di tanah kelahirannya, di SDN Bawang dan SMP Limpung Batang. Pada saat yang sama beliau nyantri di Pondok Pesantren Plumbon Limpung Batang kepada KH. Syair (Rais Syuriyah PCNU Batang). Setelah beranjak remaja, Masyhuri diperintakan oleh ayahnya untuk melanjutkan belajar ke Pondok Pesantren Al Hidayat Lasem, berguru langsung kepada KH. Ma’shoem Ahmad, salah seorang sesepuh dan pendiri NU.
Menghabiskan masa remajanya di pesantren ini selama 6 tahun dari tahun dari 1969 sampai 1975. Di Pesantren Mbah Ma’shoem ini, beliau sempat ditunjuk sebagai sekretaris pondok, sembari diminta mendampingi Mbah Ma’shoem melayani tamu-tamu. Sampai di masa akhir nyantri, beliau diminta mengajar santri di pesantren Lasem.
Seperti para santri tempo dulu, sosok KH. Masyhuri Malik tidak merasa cukup hanya belajar di satu pesantren. Para kiai sendiri juga sering menganjurkan para santrinya untuk menambah ilmu dengan berguru kepada kiai-kiai di pesantren lain. Ada istilah “santri kelana” atau santri yang berkeliling dari satu pesantren ke pesantren yang lain.
Dengan menimba ilmu ke beberapa pesantren itu para santri tidak hanya sekedar menambah ilmu, tetapi banyak teman dari berbaga daerah sebagai bekal beraktifitas dan berorganisasi setelah selesai masa nyantri. Inilah juga yang dijalani oleh Masyhuri Malik semasa muda. Selama di Pesantren Mbah Ma’shoem, beliau juga meminta izin untuk mengikuti pengajian pasaran/khataman kitab-kitab tertentu kepada para kiai di beberapa pesantren seperti di Pesantren Poncol Salatiga, Kaliwungu Kendal, sampai ke Pesantren Ploso Kediri Jawa Timur.
Setelah enam tahun nyantri di Lasem, KH. Masyhuri Malik kemudian mel
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

