KH. Romzi Al Amiri Mannan lahir tanggal 12 Juli 1969 dari pasangan KH Abdul Mannan dan Nyai Hj Qina’ah.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 RiwayatKeluarga
1.3 Wafat
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-guru Beliau
2.3 Mengasuh Pesantren
3 Penerus Beliau
3.1 Anak-anak Beliau
3.2 Murid-murid Beliau
4 Organisasi,dan Karier
4.1 Riwayat Organisasi
4.2 Karier Beliau
4.3 Karya Beliau
5 Referensi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Romzi Al Amiri Mannan lahir tanggal 12 Juli 1969 dari pasangan KH Abdul Mannan dan Nyai Hj Qina’ah. Lahir dari keturunan “darah biru,” dalam strata sosial masyarakat Madura, adalah suatu keistimewaan. Masyarakat bakal segan dan tunduk hormat pada titah sang kiai. Tumbuh di Pondok Pesantren Hidayatut Thahlibin, membuatnya jarang berhubungan dengan dunia luar. Beruntung. Karena masyarakat di luar pesantren ada yang jadi pencuri, pengemis sebab minimnya pengetahuan terhadap ilmu agama.
Oleh sebab itu, Kiai Abdul Mannan Ibrahim tak membiarkan putranya bergaul dengan sembarang orang. Namanya Lora Mohammad Romzi Mannan, biasa dipanggil Ra Romzi. Beliau merupakan putra ke enam dari sepuluh bersaudara. Di antara saudara-saudaranya ialah Nyai Hj Umayyah (kakak lain ibu), KH Subairi, KH Maimon, KH Mahsun, Nyau Hj Fatimah, KH Muhdar, KH Abrori, KH Herul Wi’am dan KH Noval.
1.2 Riwayat Keluarga
Setelah itu di akhir tahun 1993, di usia 26 tahun KH. Romzi Al Amiri Mannan menikah dengan Neng Nur Lathifah Wafi, putri kelima Kiai Hasan Abdul Wafi dan Nyai Aisyah.
1.3 Wafat
Beliau wafat di Rumah Sakit di daerah Dringu, Wonolangan, Kab. Probolinggo pada hari, Rabu 07 Oktober 2020, sekitar jam 09.30, jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga besar pesantren Nurul Jadid
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Masa Menuntut Ilmu
Sejak usia dini KH. Romzi Al Amiri Mannan belajar ngaji kitab kuning dan Al-Quran pada abahnya. Namun semasa KH. Romzi Al Amiri Mannan duduk di bangku kelas IV Madrasah Ibtidaiyah (MI) tahun 1977 duka itu tiba-tiba datang menghampiri keluarganya. Abahnya yang selama ini menemani hari-harinya, pulang menghadap pangkuan yang Maha Kuasa. Bagi KH. Romzi Al Amiri Mannan, kepergian sang abah, meski keras, sama dengan kepergian seorang guru yang selalu telaten membimbing dan mengajarinya.
Larut dalam duka bukanlah tipikal KH. Romzi Al Amiri Mannan. Hidup harus terus mengalir dan belajar tak boleh berhenti. Sehingga ketika ayahnya tiada, ibu dan saudara-saudaranya secara bergantian mengajarinya ngaji. Berkat kecerdasannya, pada masa KH. Romzi Al Amiri Mannan duduk dibangku M
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

