Syekh Abdullah Afifuddin lahir di Desa Sangga Lima, Kecamatan Gebang Langkat 3 Maret 1895. beliau merupakan putra bungsu dari Ali bin Panglima Bahar bin Syekh Ibrahim Waliyullah yang memiliki silsilah keturunan dari Maghribi Afrika Utara.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Kiprah di Politik
4. Karir-Karir
5. Referensi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Syekh Abdullah Afifuddin lahir di Desa Sangga Lima, Kecamatan Gebang Langkat pada tanggal 3 Maret 1895, beliau merupakan putra bungsu dari Ali bin Panglima Bahar bin Syekh Ibrahim Waliyullah yang memiliki silsilah keturunan dari Maghribi Afrika Utara.
1.2 Wafat
Syekh Abdullah Afifuddin wafat di Tanjung Pura pada tanggal 12 Desember 1973.
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Sejak kecil beliau diajarkan pendiidkan agama Islam oleh kakaknya yang bernama Hj. Aminah dan kakak iparnya bernama H. Tajuddin, seorang Imam Besar Masjid Azizi Tanjungpura. Pada masa awal ini beliau belajar membaca Al-Qur'an dan ilmu agama yang berupa fardhu 'ain saja. Kemudian meneruskan menuntut ilmu agama Islam di pesantren yang kemudian berbentuk madrasah yang bernama Madrasah Maslurah dan Madrasah Aziziah. Di antara guru-guru beliau di masa ini terdapat beberapa ulama yang terkenal di Langkat seperti: Syekh H. Mohd. Ziadah dan Syekh Mohd. Nur Minangkabau. Keduanya beliau pernah memegang pimpinan Madrasah tersebut.
Di samping menuntut ilmu tentang ke Islaman, Syekh Abdullah Afifuddin juga menuntut ilmu umum, di samping itu beliau juga menjadi guru bantu pada Sekolah Desa. Beliau lulus ujian Sekolah Rakyat pada tahun 1912 dan pada tahun 1913 beliau lulus ujian Kweekeling di Medan.
Di samping memperdalam pengetahuannya tentang agama, di dalam bulan November 1923 beliau dikirim atas biaya Sultan Abdul Aziz melanjutkan studi ke Makkah Mukarramah dan selama kurang lebih setahun di sini melanjutkan studi ke Al-Azhar Kairo.
Pada tanggal 15 April 1927 beliau kembali ke tanah air setelah lulus ujian di Al-Azhar dengan mendapat syahadah alamiyah. Gelar Afifuddin diperoleh beliau dibelakang namanya adalah dihadiahkan oleh Dewan Guru Al-Azhar.
2.2 Guru-Guru
1. KH. Tajuddin,
2. Syekh Muhammad Ziadah,
3. Syekh Muhammad Nur Minangkabau.
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Kiprah di Politik
Dalam kegiatan kemasyarakatan, selain menjadi Ketua Masyumi Langkat Hilir, beliau juga menjadi Anggota Masyumi Daerah Aceh (pada masa berada di Aceh). Ketika menghadapi Agresi Belanda yang kedua beliau mengadakan musyawarah alim ulama atas persetujuan Tgk. Daud Beureueh (ketika itu Gubernur militer dengan pangkat Mayor Jendral tituler).
Ulama yang menjadi peserta terutama sekali ulama-ulama yang berada di sekitar Aceh Besar. Tujuan dari musyawarah ini adalah untuk memantapkan integritas/kepaduan persatuan alim ulama dari semua/atau berbagai aliran dan golongan. Di antara alim ulama terkenal yang berpartisipasi dalam hal ini di antara lain yaitu, Tgk. M. Hasan Kruengkale, Tgk. Diujung Rimba, Tgk. Abdussalam Meuraxa, dll. Demikianlah diambil suatu kebula
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

