Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Mustaqim bin Husain, Tulungagung
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Mustaqim bin Husain, Tulungagung

1901 – 1970 M · 30.570 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Rumusan amalan-amalan beliau menekankan bahwa sebelum dan sesudah wirid harus meminta pada Allah agar mendapat 4 hal.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil KH. Mustaqim bin Husain, Tulungagung

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keturunan
  4. Kehidupan
  5. Kemuliaan
  6. Menerima Thariqah Syadzaliyyah
  7. Zaman Penjajahan Jepang (1942-1945)
  8. Usaha Ekonomi
  9. Hikmah Al-Maghfurullah
  10. Maqam dan Derajat
  11. Chart Silsilah
  12. Referensi

1. Kelahiran

Hadratussyekh Mustaqim bin Husain lahir di desa Nawangan, Kecamatan Keras, Kediri, pada tahun 1901 M. Ayah beliau bernama Husain bin Abdul Djalil, yang merupakan keturunan ke 18 dari Mbah Panjalu, Ciamis, Jawa Barat (Ali bin Muhammad bin Umar).

2. Wafat

KH. Mustaqim bin Husain Wafat Pada tahun 1970, pada hari Ahad tanggal 1 Muharram setelah Ashar, di mana di situ terdapat 4 orang yang menemani KH. Mustaqim yang sedang naza’. Salah satunya adalah Mayor TNI AD Shomad Srianto (mantan komandan KODIM Tulungagung). Pada saat naza’, KH. Mustaqim kelihatan nafasnya tersendat-sendat (idlthirob) dan sesak nafas. Akan tetapi sesak nafas beliau ini bukan berarti tanda-tanda su’ul khatimah.

Menurut kitab Tanbihul Mughtarrin halaman 45, jika ada guru mursyid pada saat naza’nya terlihat kesakitan dan sesak nafas/nafas tersendat-sendat, itu dikarenakan dua hal. Pertama, karena sangat senang akan bertemu dengan Allah. Kedua, karena rasa kasihan beliau kepada semua murid beliau, ingin memberikan pendidikan (tarbiyah) kepada para murid hingga mencapai ma’rifat billah . Oleh karena itu, karena saling tarik menariknya dua hal tersebut, sehingga jasad beliau terlihat mengalami nafas tersendat-sendat.

3. Keturunan

Putra-Putri KH. Mustaqim bin Husain dengan Ibu Nyai Hj. Halimah Sa’diyah

  1. Ibu Nyai Thowilah Sumaranten.
  2. Bapak KH. Arif.
  3. Bapak Muhsin.
  4. Bapak Yasin.
  5. Ibu Maratun.
  6. Bapak KH. Abdul Ghafur.
  7. Ibu Nyai Hj. Anni Siti Fatimah.
  8. Bapak KH. Kyai Ali Murtadlo.
  9. Romo KH. Muhammad Abdul Jalil.
  10. Ibu Nyai Siti Makhfiyah.
  11. Bapak Hanshon Athlab.

4. Kehidupan

Setelah beliau dewasa, Hadlratus Syaikh dinikahkan oleh Kyai Zarkasyi dengan putri dari Mbah H. Rois yang juga berdomisili di Kauman, yang bernama Ibu Nyai Halimah Sa’diyyah. Mbah H. Rois hanya mempunyai 2 anak, yang pertama bernama Sholeh Sayuthi, yang terkenal dengan sebutan Wali Sayuti. Yang kedua bernama Ibu Nyai Halimah Sa’diyyah yang dinikahkan dengan Hadlratus Syaikh Mustaqim.

Sebagai seorang suami, Hadlratus Syaikh melakukan kewajibannya mencari nafkah untuk keluarganya dengan menjadi tukang potong rambut, tukang jahit sepatu dan berdagang. Hadlratus Syaikh pernah mendirikan toko yang diberi nama Bintang Sembilan. Meskipun kehidupan ekonomi keluarganya selalu memprihatinkan, pada saat itu beliau tidak pernah meninggalkan kewajiban untuk berbuat amar ma’ruf, yaitu dengan mengajarkan dzikir yang dimasukkan ke dalam jurus-jurus pencak silat.

5. Kemuliaan

Ketika masih berusia 12-13 tahun, Hadlratus Syaikh Mustaqim bin Husain mengabdi kepada Kiai Zarkasyi di dusun Tulungagung.

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+