Fatimah dilahirkan pada hari Jumat di Makkah, pada 20 Jumadil Akhir, lima tahun sebelum diutusnya sang ayah tercinta, Muhammad bin Abdullah, menjadi Rasul, hal Ini adalah pendapat yang populer di kalangan Ahlussunnah. Yaitu ketika Rasulullah SAW terpilih menjadi penengah kaum Quraisy yang sama-sama mengklaim berhak untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Biografi Sayyidah Fatimah Az-Zahra binti Muhammad Rasulullah SAW
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Nasab
1.4 Wafat
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Perpisahan dengan Sang Kakak
3.2 Sosok yang Tegar Melihat Keadaan Ayah Bunda
3.3 Menjadi Pembela Ayah
3.4 Ditinggal sang Bunda Tercinta
3.5 Masa Hijrah dan Tinggal di Madinah
3.6 Menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA
3.7 Peran Sayyidah Fatimah Az-Zahra di Medan Perang
3.8 Kedudukan Fatimah di antara Istri-istri Rasul
3.9 Perpisahan dengan Ayah Tercinta
4. Teladan
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Sebagian menuturkan bahwa Fatimah dilahirkan pada hari Jumat di Makkah, pada 20 Jumadil Akhir, lima tahun sebelum diutusnya sang ayah tercinta, Muhammad bin Abdullah, menjadi Rasul, hal Ini adalah pendapat yang populer di kalangan Ahlussunnah. Yaitu ketika Rasulullah SAW terpilih menjadi penengah kaum Quraisy yang sama-sama mengklaim berhak untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Kelahiran Sayyidah Fatimah Az- Zahra didahului oleh peristiwa hebat dan penting dalam perjalanan kehidupan sang ayah, Nabi Muhammad SAW. Sayyidah Fatimah Az-Zahra merupakan putri keempat dari Nabi Muhammad SAW dengan Sayyidah Khadijah .
Beliau menghampiri sang istri, Sayyidah Khadijah dan putrinya yang baru lahir tersebut, lalu mengusap sang permata hatinya dengan penuh cinta dan rasa syukur. Beliau membelainya dengan penuh kasih dan sayang. Sang bayi yang mungil disusukan langsung oleh ibunya, Sayyidah Khadijah , tidak kepada perempuan lain sebagaimana lazimnya adat pada waktu itu. beliau memilih sendiri untuk menyusui dan membesarkannya. Dengan demikian, Sayyidah Khadijah mulai membuka hal baru bagi perempuan untuk mendidik anaknya sendiri dari lahir. Sebagaimana bayi memiliki sifat seperti orang yang menyusuinya, maka Sayyidah Fatimah Az-Zahra pun mewarisi sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh sang ibu.
Dari sejak kelahiran sang buah hati, Nabi Muhammad telah melihat pada diri putrinya tersebut ada tanda-tanda keberkahan dan kebaikan. Oleh karena itu, beliau memberinya nama Fatimah dengan gelar Az-Zahra (yang bersinar wajahnya bak bunga), karena ia adalah bunganya Muhammad SAW. Fatimah juga bergelar Al-Batul, yakni wanita yang dikhususkan untuk beribadah kepada Allah karena banyaknya kesamaan antara diri beliau dengan Maryam binti Imran, maka Fatimah tidak pernah haid selamanya, ketika melahirkan pun mengeluarkan darah nifasnya hanya waktu itu saja.Tindakan beliau dalam menjaga dan merawat Nabi Muhammad SAW, serta beliau adalah sebaik-baik wanita penduduk surga secara mutlak. Selain bergelar Az-Zahra dan Al-Batul, Fatimah juga digelari Ummu Abiha (ibu bagi ayahnya), karena di usianya yang masih belia sepeninggal sang Ibu, Sayyidah Khadijah beliau lah yang mengurus keperluan rumah tangga sang ayah.
Fatimah
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

