Syaikh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin atau yang kerap disapa dengan panggilan Abah Anom lahir 1 Januari 1915 di Suryalaya, Tasikmalaya. Beliau merupakan anak kelima dari Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad, atau Abah Sepuh, pendiri Pesantren Suryalaya.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
3.2 Mendirikan Lembaga Pendidikan
3.3 Mursyid Thariqoh Qodariyyah
4. Teladan
4.1 Sosok yang Zuhud
4.2 Pelopor Pemberdayaan Ekonomi
4.3 Melawan PKI
5. Karomah
6. Chart Sisilah Beliau
7. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin atau yang kerap disapa dengan panggilan Abah Anom lahir pada tanggal 1 Januari 1915 di Suryalaya, Tasikmalaya. Beliau merupakan anak kelima dari Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad, atau Abah Sepuh, pendiri Pesantren Suryalaya. Sebuah pesantren tasawuf yang khusus mengajarkan Thariqoh Qadiriyyah wa Naqsyabandiyah (TQN).
1.2 Wafat
Abah Anom wafat pada tanggal 5 September 2011 di Tasikmalaya dalam usia 96 tahun.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Pada usia 8 tahun, Abah Anom memulai pendidikannya dengan belajar di sekolah dasar (Vervooleg school) di Ciamis. Lima tahun kemudian melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah di kota yang sama. Usai tamat Tsanawiyah, barulah beliau belajar ilmu agama Islam secara lebih khusus di berbagai pesantren. Beliau keluar masuk di berbagai macam pesantren yang ada di sekitar Jawa Barat, seperti Pesantren Cicariang dan Pesantren Jambudwipa di Cianjur dalam rangka mendalami ilmu-ilmu alat dan ushuluddin.
Sedangkan di Pesantren Cireungas, beliau belajar ilmu pencak silat. Minatnya untuk belajar silat diperdalam ke Pesantren Citengah yang dipimpin oleh Haji Djunaedi yang terkenal ahli alat, jago silat dan ahli hikmah. Kegemarannya menuntut ilmu menyebabkan Abah Anom menguasai berbagai macam ilmu keislaman pada usia relatif muda yakni 18 tahun.
Didukung dengan ketertarikannya pada dunia pesantren, akhirnya hal ini mendorong ayahnya yang merupakan Mursyid Thoriqot Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) untuk mengajarinya dzikir TQN. Sehingga beliau pun menjadi wakil talqin ayahnya pada usia relatif muda. Mungkin sejak itulah, beliau akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Abah Anom.
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
Abah Anom memiliki landasan teoritis yang kuat untuk merumuskan metode penyembuhan ruhani, semuanya ada dalam nama pesantren itu sendiri, yaitu "Inabah". Abah Anom menjadikan "Inabah" tidak hanya sekedar nama bagi pesantrennya, tapi lebih dari itu, hal itu adalah landasan teoritis untuk membebaskan pasien dari gangguan kejiwaan karena ketergantungan terhadap obat-obat terlarang.
Dalam kacamata tasawuf, "Inabah" adalah nama sebuah peringkat ruhani (maqam) yang harus dilalui seorang sufi dalam perjalanan ruhani menuju Allah SWT.
“Salah satu hasil dari muraqabatullah adalah Al-Inabah yang maknanya kembali dari maksiat menuju ke
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

