Biografi KH. Wahid Hasyim

 
Biografi KH. Wahid Hasyim

Daftar Isi Profil KH. Abdul Wahid Hasyim

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Kiprah di Nahdlatul Ulama (NU) dan Kenegaraan
  6. Menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
  7. Menjadi Menteri Negara dan Menteri Agama
  8. Tokoh Muda BPUPKI
  9. Buah Pemikiran
  10. Karya-Karya
  11. Sumber

 

Kelahiran

KH. Abdul Wahid Hasyim merupakan anak pertama dari 15 orang anak dari pasangan KH. Hasyim Asyari dengan Nyai Nafiqah binti Kyai Ilyas. Wahid Hasyim  lahir di Jombang, pada hari Jumat legi, Rabiul Awwal 1333 H, atau 1 Juni 1914 M, ketika di rumahnya sedang ramai dengan pengajian.

Silsilah Wahid Hasyim dari jalur ayah ini bersambung hingga Joko Tingkir. Nasab leluhurnya dimulai dari KH. Hasyim Asyari Putra dari Halimah, Putra Layyinah, Putra Sihah, Putra Abdul Jabar, Putra Ahmad, Putra Pangeran Sambo, Putra Pengeran Benowo, Putra Joko Tingkir (Mas Karebet), Putra Prabu Brawijaya V (Lembupeteng). Sedangkan dari pihak ibu, silsilah tersebut betemu di Sultan Brawijaya V.

Adapun kelima belas putra dan putri KH. Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqah binti Kyai Ilyas diantaranya adalah Abdul Wahid Hasyim, Muhammad Ya’kub, Khoiriyah, Ubaidillah, Mashurroh, Abdul Hakim, Abdul Qodir, Azzah, Muhammad Yusuf, Chotijah, Abdul Karim, Fatimah, Aisyah, Hannah, dan Abdullah.

Wafat

Tanggal 19 April 1953 merupakan hari berkabung. Waktu itu hari Sabtu tanggal 18 April, KH. Abdul Wahid Hasyim bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat Nahdlatul Ulama (NU). Berkendaraan mobil Chevrolet miliknya.

Pada saat itu, Wahid Hasyim duduk di jok belakang bersama Argo Sutjipto dan putra sulungnya, Abdurrahman ad-Dakhil.

Pada waktu itu, sekitar daerah Cimahi dan Bandung waktu itu diguyur hujan. Lalu lintas di jalan Cimindi, sebuah daerah antara Cimahi-Bandung, cukup ramai. Sekitar pukul 13.00, ketika memasuki Cimindi, mobil yang ditumpangi KH. Abdul Wahid Hasyim bannya mengalami selip dan sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakang Chevrolet nahas itu banyak iring-iringan mobil. Sedangkan dari arah depan sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil zig-zag karena selip dari arah berlawanan.

Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan keras. Saat terjadi benturan, KH. Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk yang sudah berhenti. Keduanya luka parah. Wahid Hasyim terluka bagian kening, mata serta pipi dan bagian lehernya. Sementara sang sopir dan Abdurrahman tidak cidera sedikit pun. Sedangkan mobilnya hanya rusak bagian belakang.

Lokasi kejadian kecelakaan tersebut memang agak jauh dari kota. Karena itu usaha pertolongan datang sangat terlambat. Baru pukul 16.00 datang mobil ambulan untuk mengangkut korban ke Rumah Sakit Boromeus di Bandung.

Selama menunggu mobil ambulan Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto sudah tidak sadarkan diri, bahkan setibanya di rumah sakit, kondisi beliau berdua masih belum bisa sadar. Hingga pada pukul 10.30 WIB hari Ahad, 19 April 1953, Wahid Hasyim dipanggil ke hadirat Allah Swt, pada usia 39 tahun. Setelah beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 18.00 WIB, Argo Sutjipto menyusul menghadap Sang Khalik.

Atas wafatnya KH. Abdul Wahid Hasyim, maka berdasarkan Surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 206 tahun 1964 tertanggal 24 Agustus 1964, KH. Abdul Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, karena mengingat jasa-jasanya sebagai pemimpin Indonesia yang semasa hidupnya beliau turut berjuang sampai kemerdekaan nusa dan bangsa.

Baca juga: Wisata Ziarah dan Berdoa di Makam KH. Wahid Hasyim Jombang

Keluarga

Wahid Hasyim mengakhiri masa lajangnya pada usia sekitar 25 tahun dengan menikahi seorang gadis yang berumur 15 tahun, yaitu Solichah binti KH. Bisyri Syamsuri seorang pendiri dan pemimpin Pesantren Denanyar, Jombang serta salah satu pendiri Nahdlatul Ulama dan pernah juga menjadi Rais Aam PBNU.

Dari perkawinan ini Wahid Hasyim dikaruniai enam anak putra dan putri, diantaranya Abdurrahman ad-Dakhil (mantan Presiden RI), Aisyah (Ketua Umum PP Muslimat NU, 1995-2000), Shalahudin al-Ayyubi (Insinyur lulusan ITB dan Pengasuh PP. Tebuireng Jombang, sesudah KH. Yusuf Hasyim), Umar Al-Faruq (dokter lulusan UI), Lilik Khadijah dan Muhammad Hasyim.

Pendidikan

Wahid Hasyim kecil adalah sosok anak yang mempunyai kelebihan dengan otak yang sangat cerdas. Diusianya yang baru tujuh tahun, beliau sudah khatam al-Qur’an. Beliau belajar al-Qur’an langsung kepada ayahnya (KH. Hasyim Asyari).

Menginjak dewasa, Wahid Hasyim memulai pendidikanya dengan belajar di bangku Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng. Pada usia 12 tahun, atau setelah selesai dari di bangku madrasah, beliau diminta oleh ayahnya untuk membantu mengajar adik-adiknya dan anak-anak seusianya.

Sebagai anak tokoh, Wahid Hasyim tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Pemerintah Hindia Belanda. Beliau lebih banyak belajar secara otodidak. Selain belajar di madrasah, beliau juga banyak mempelajari sendiri kitab-kitab dan buku berbahasa arab.

Wahid Hasyim mendalami syair-syair berbahasa arab dan hafal di luar kepala, selain menguasai maknanya dengan baik. Pada usia 13 tahun beliau melajutkan pendidikannya ke Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo.

Tapi sayangnya, beliau hanya bertahan satu bulan. Dari Siwalan pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Lagi-lagi beliau di pesantren ini, mondok dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa hari saja.

Dengan berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu, seolah-olah yang diperlukan Wahid Hasyim hanyalah keberkatan dari sang guru, bukan ilmunya. Soal ilmu, demikian mungkin ia berpikir, bisa dipelajari di mana saja dan dengan cara apa saja. Tapi soal memperoleh berkah, adalah masalah lain, harus berhubungan dengan kiai. Inilah yang sepertinya menjadi pertimbangan utama dari Wahid Hasyim ketika itu.

Sepulang dari Lirboyo, Wahid Hasyim tidak meneruskan belajarnya di pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah. Sebab, menurut ayahnya, Wahid Hasyim bisa menentukan sendiri bagaimana harus belajar.

Dan betul saja, selama berada di rumah semangat belajarnya tidak pernah padam, terutama belajar secara otodidak. Meskipun tidak sekolah di lembaga pendidikan umum milik pemerintah Hindia Belanda, pada usia 15 tahun ia sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris dan Belanda. Kedua bahasa asing itu dipelajari dengan membaca majalah yang diperoleh dari dalam negeri atau kiriman dari luar negeri.

Baca juga: Mencari Inspirasi Ala Kiai Abdul Wahid Hasyim

Pada tahun 1932, ketika menginjak usia 18 tahun, beliau kembali melanjutkan pendidikannya ke Mekkah, di samping untuk menunaikan rukun Islam kelima juga untuk memperdalam berbagai cabang ilmu agama. Kepergiannya ke Mekkah ditemani oleh saudara sepupunya, Muhammad Ilyas, yang kelak menjadi Menteri Agama. Muhammad Ilyas memiliki jasa yang besar dalam membimbing Wahid Hasyim sehingga tumbuh menjadi remaja yang cerdas. Muhammad Ilyas dikenal fasih dalam bahasa arab, dan dialah yang mengajari Wahid Hasyim bahasa arab.

Di tanah suci ia belajar selama dua tahun. Dengan pengalaman pendidikan tersebut, tampak ia sebagai sosok yang memiliki bakat intelektual yang matang. Ia menguasai tiga bahasa asing, yaitu bahasa arab, Inggris dan Belanda. Dengan bekal kemampuan tiga bahasa tersebut, Wahid Hasyim dapat mempelajari berbagai buku dari tiga bahasa tersebut.

Otodidak yang dilakukan Wahid Hasyim memberikan pengaruh signifikan bagi praktik dan kiprahnya dalam pendidikan dan pengajaran, khususnya di pondok pesantren termasuk juga dalam politik.

Setelah kembali dari Mekkah, Wahid Hasyim merasa perlu mengamalkan ilmunya dengan melakukan memodernisasi, baik di bidang sosial, keagamaan, pendidikan dan politik.

Pada usia 24 tahun (1938), Wahid Hasyim mulai terjun ke dunia politik. Bersama kawan-kawannya, ia gencar dalam memberikan pendidikan politik, pembaharuan pemikiran dan pengarahan tentang perlunya melawan penjajah. Baginya pembaharuan hanya mungkin efektif apabila bangsa Indonesia terbebas dari penjajah.

Kiprah di Nahdlatul Ulama (NU) dan Kenegaraan

Pada tahun 1938 Wahid Hasyim banyak mencurahkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan NU. Wahid Hasyim ditunjuk sebagai sekretaris pengurus Ranting Tebuireng, lalu menjadi anggota pengurus Cabang Jombang. Kemudian untuk selanjutnya Wahid Hasyim dipilih sebagai anggota Pengurus Besar NU di wilayah Surabaya. Dari sini kariernya terus meningkat sampai Ma’arif NU pada tahun 1938.

Setelah NU berubah menjadi partai politik, ia pun dipilih sebagai ketua Biro Politik NU tahun 1950. Di kalangan pesantren, Nahdlatul Ulama mencoba ikut memasuki trace baru bersama-sama organisasi sosial modern lainnya, sepeti Muhammadiyah, NU juga membentuk sebuah federasi politik bernama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) lebih banyak di dorong oleh rasa bersalah umat Islam setelah melihat konsolidasi politik kaum nasionalis begitu kuat. Pada tahun 1939, ketika MIAI mengadakan konferensi, Wahid Hasyim terpilih sebagai ketua. Setahun kemudian ia mengundurkan diri.

Wahid Hasyim juga mempelopori berdirinya Badan Propaganda Islam (BPI) yang anggota-anggotanya dikader untuk terampil dan mahir berpidato di hadapan umum. Selain itu, Wahid Hasyim juga mengembangkan pendidikan di kalangan umat Islam.

Tahun 1944 ia mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang pengasuhnya ditangani oleh KH. A Kahar Mudzakir. Tahun berikutnya, 1945, Wahid Hasyim aktif dalam dunia politik dan memulai karir sebagai ketua II Majelis Syura (Dewan Partai Masyumi). Ketua umumnya adalah ayahnya sendiri. Sedangkan ketua I dan ketua II masing-masing Ki Bagus Hadikusumo dan Mr. Kasman Singodimejo.

Menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Ketika Muktamar ke-19 di Palembang Wahid Hasyim dicalonkan sebagai Ketua Umum, namun ia menolaknya, dan mengusulkan agar KH. Masykur menempati jabatan sebagai Ketua Umum. Kemudian atas penolakan Wahid Hasyim untuk menduduki jabatan Ketua Umum, maka terpilihlah KH. Masykur menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Namun berhubung KH. Masykur diangkat menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Ali Arifin, maka NU menonaktifkan KH. Masykur selaku ketua umum, dan dengan demikian maka Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Ketua Umum.

Baca juga: Alasan Kiai Wahid Hasyim Minta Bung Hatta Jadi Ketum PBNU

Disamping sebagai Ketua Umum PBNU, Wahid Hasyim menjabat Shumubucho (Kepala Jawatan Agama Pusat) yang merupakan kompensasi Jepang yang waktu itu merasa kedudukannya makin terdesak dan merasa salah langkah menghadapi umat Islam.

Awalnya Shumubucho adalah merupakan kompensasi yang diberikan kepada KH. Hasyim Asyari, mengingat usianya yang sudah uzur dan ia harus mengasuh pesanten sehingga tidak mungkin jika harus bolak-balik Jakarta-Jombang. Karena kondisi ini, ia mengusulkan agar tugas sebagai Shumubucho diserahkan kepada Wahid Hasyim, putranya.

Menjadi Menteri Negara dan Menteri Agama

Dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Soekarno pada September 1945, Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Menteri Negara. Empat tahun kemudian, pada tanggal 20 Desember 1949, Wahid Hasyim diangkat kembali menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Hatta. Kemudian, pada periode Kabinet Natsir dan Kabinet Sukiman, Wahid Hasyim tetap memegang jabatan Menteri Agama.

Demikian juga, sebelum itu, dalam Kabinet Syahrir pada tahun 1946, Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP.

Selama menjadi Menteri Agama, beliau telah membentuk beberapa programnya, diantaranya:

  1. Mendirikan Jam’iyah al-Qurra’ wa al-Huffazh (Organisasi Qari dan Penghafal al-Qur’an) di Jakarta
  2. Menetapkan tugas kewajiban Kementerian Agama melalui Peraturan Pemerintah no. 8 tahun 1950
  3. Merumuskan dasar-dasar peraturan Perjalanan Haji Indonesia
  4. Menyetujui berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dalam kementerian agama.

Pada tahun 1952 Wahid Hasyim memprakarsai berdirinya Liga Muslimin Indonesia, suatu badan federasi yang anggotanya terdiri atas wakil-wakil NU, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Darul Dakwah wa al-Irsyad. Susunan pengurusnya adalah Wahid Hasyim sebagai ketua, Abikusno Cokrosuyoso sebagai wakil ketua I, dan H. Sirajuddin Abbas sebagai wakil ketua II.

Tokoh Muda BPUPKI

Karier Wahid Hasyim dalam pentas politik nasional terus melejit. Dalam usianya yang masih muda, beberapa jabatan ia sandang. Diantaranya ketika Jepang membentuk badan yang bertugas menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan atau dikenal dengan BPUPKI. Wahid Hasyim merupakan salah satu anggota termuda setelah BPH. Dari 62 orang yang ada, waktu itu, Wahid Hasyim masih berusia 33 tahun.

Buah Pemikiran

Sebagai seorang santri, fokus utama pemikiran Wahid Hasyim adalah peningkatan kualitas sumberdaya umat Islam. Upaya peningkatan kualitas tersebut menurut Wahid Hasyim, dilakukan melalui pendidikan khususnya pesantren.

Untuk pendidikan pondok pesantren Wahid Hasyim memberikan sumbangsih pemikirannya untuk melakukan perubahan. Banyak perubahan di dunia pesantren yang harus dilakukan. Mulai dari tujuan hingga metode pengajarannya. Dalam mengadakan perubahan terhadap sistem pendidikan pesantren, ia membuat perencanaan yang matang. Ia tidak ingin gerakan ini gagal di tengah jalan. Untuk itu, ia mengadakan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menggambarkan tujuan dengan sejelas-jelasnya
  2. Menggambarkan cara mencapai tujuan itu
  3. Memberikan keyakinan dan cara, bahwa dengan sungguh-sungguh tujuan dapat dicapai.

Pada awalnya, tujuan pendidikan Islam khususnya di lingkungan pesantren lebih berkosentrasi pada urusan ukhrawiyah (akhirat), nyaris terlepas dari urusan duniawiyah (dunia). Dengan seperti itu, pesantren didominasi oleh mata ajaran yang berkaitan dengan fiqh, tasawuf, ritual-ritual sakral dan sebagainya. Meski tidak pernah mengenyam pedidikan modern, wawasan berfikir Wahid Hasyim dikenal cukup luas. Wawasan ini kemudian diaplikasikan dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan pendidikan.

Berkembangnya pendidikan madrasah di Indonesia di awal abad ke-20, merupakan wujud dari upaya yang dilakukan oleh cendikiawan muslim, termasuk Wahid Hasyim, yang melihat bahwa lembaga pendidikan Islam (pesantren) dalam beberapa hal tidak lagi sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Apa yang dilakukan oleh Wahid Hasyim adalah merupakan inovasi baru bagi kalangan pesantren.

Pada saat itu, pelajaran umum masih dianggap tabu bagi kalangan pesantren karena identik dengan penjajah. Kebencian pesantren terhadap penjajah membuat pesantren mengharamkan semua yang berkaitan dengannya, seperti halnya memakai pantolan, dasi dan topi, dan dalam konteks luas pengetahuan umum. Dalam metode pengajaran, setelah kembalinya dari Mekkah untuk belajar, Wahid Hasyim mengusulkan perubahan metode pengajaran kepada ayahnya.

Usulan itu antara lain agar sistem bandongan diganti dengan sistem tutorial yang sistematis, dengan tujuan untuk mengembangkan dalam kelas yang menggunakan metode tersebut santri datang hanya mendengar, menulis catatan, dan menghafal mata pelajaran yang telah diberikan, tidak ada kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau berdikusi.

Secara singkat, menurut Wahid Hasyim, metode bandongan akan menciptakan kepastian dalam diri santri. Perubahan metode pengajaran diimbangi pula dengan mendirikan perpustakaan. Hal ini merupakan kemajuan luar biasa yang terjadi pada pesantren ketika itu. Dengan hal tersebut Wahid Hasyim mengharapkan terjadinya proses belajar mengajar yang dialogis. Dimana posisi guru ditempatkan bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar.

Karya-Karya

Wahid Hasyim adalah seorang penulis yang cukup produktif. Meskipun dia tidak menulis sebuah buku, berbagai artikel ditulisnya baik menyangkut masalah keagamaan, pendidikan maupun isu sosial politik. Tulisan-tulisannya dipublikasikan di berbagai majalah dan koran. Secara umum, tulisan Wahid Hasyim dapat diklasifikasikan menjadi empat, yakni pendidikan, politik, administrasi departemen agama, dan agama.

Dalam bidang pendidikan, Wahid Hasyim memberikan perhatian terhadap reformasi pendidikan, misalnya pendidikan bagi anak, perkembangan kemampuan berbahasa, pendidikan agama, termasuk didalamnya pendirian perguruan tinggi agama, dan perlunya penggunaan rasio guna menyelesaikan masalah-masalah kekinian.

  1. Wahid Hasyim menulis sebuah artikel yang berjudul “Abdullah Oeybayd sebagai Pendidik”. Dalam artikelnya, dia menjelaskan bagaimana sebaiknya mendidik seorang anak. Dan pengamatannya terhadap Abdullah Oeybayd dalam mendidik anak, dia mengatakan bahwa anak-anak harus dilatih sejak dini untuk menggunakan segenap kemampuannya. Ini sangat penting untuk membiasakan mereka bersandar pada dan mengetahui kemampuan mereka sendiri. Dengan demikian, anak-anak akan tumbuh dengan percaya diri dan tidak mudah menyerah dalam menggapai cita-cita mereka.
  2. Berkaitan dengan perkembangan bahasa, Wahid Hasyim mencoba menumbuhkan rasa kebangsaan dengan mendorong anak bangsa untuk menggunakan bahasa Indonesia. dalam artikelnya “Kemadjuan bahasa, Berarti Kemadjuan Bangsa”, dia mengajak bangsa Indonesia untuk menggunakan bahasanya dalam percakapan sehari-hari.
  3. “Nabi Muhammad dan Persaudaraan Manusia”. Karya ini merupakan pidatonya pada acara pembukaan perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw yang diadakan di Istana Negara Jakarta, pada 2 Januari 1950, dan merupakan perayaan maulid pertama sesudah penyerahan kedaulatan Republik Indonesia.
  4. “Kebangkitan Dunia Islam”. Karya ini merupakan tulisannya di media Mimbar Agama edisi No. 3-4 Maret April 1951.
  5. “Beragamalah dengan Sungguh dan Ingatlah Kebesaran Tuhan”. Karya ini merupakan semacam pidato untuk perayaan Hari Raya Idul Fitri yang pada saat itu Indonesia masih terbentuk Serikat atau RIS (Republik Indonesia Serikat).
  6. “Hari Raya sebagai Ukuran Maju Mundur Umat”. Karya ini masuk dalam Berita Nahdlatul Ulama, No. 3, Th. Ke 7 Desember 1937, hlm 2-5.
  7. “Arti dan Isi al-Fatihah”. Karya ini masuk dalam Berita Nahdlatul Ulama, No. 14, Th. VII, 15 Mei 1938, hlm 1-3.
  8. “Islam Agama Fitrah (Dasar Manusia)”. Dalam Suara Muslimin Indonesia, No. 7, Th. Ke II, April 1944, hlm 2-4.
  9. “Latihan Lapar adalah Kebahagiaan Hidup Perdamaian”. Dalam Penyiaran Kementerian Agama No. 4, 1309, hlm 3-4.
  10. “Perkembangan Politik Masa Pendudukan Jepang dan Nota Politik". (November 1945).  

Sumber

Biografi singkat KH. Abdul Wahid Hasyim disarikan dari buku ”99 Kiai Kharismatik Indonesia” di tulis oleh KH. A. Aziz Masyhuri, terbitan Kutub, Yogyakarta.