Biografi KH. Tolchah Mansoer

 
Biografi KH. Tolchah Mansoer

Daftar Isi Profil KH. Tolchah Mansoer

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Pelopor Pendiri IPNU
  6. Karier-Karier

Kelahiran

KH. Tolchah Mansoer lahir pada 10 September 1930 dikota Malang Jawa Timur. Beliau merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan KH. Mansoer dan seorang janda yang bernama Siti Nur Khatidjah.

Tapi sayangnya sang kakaknya, Ahmad Mansoer meninggal saat masih bayi, sedangkan adiknya, Mardhiyah, lahir beberapa tahun kemudian.

Selain Mardhiyah dan alm. Ahmad, KH. Tolchah Mansoer juga mempunyai saudara seibu bernama Raden Isman, atau lebih dikenal dengan Oesman. Oesman adalah anak pernikahan pertama sang Ibu Khotijah dan dengan Jalaluddin Krama Asmara, seorang bangsawan dari Bangkalan Madura.

Mereka bercerai pada saat usia pernikahan mereka masih sangat muda, yaitu saat Oesman belum genap setahun. Oesman akhirnya dirawat Khotijah bersama suami keduanya, KH. Mansoer. Sejak saat itu, Oesman menggunakan nama belakang Mansoer, hingga nantinya ia menjadi seorang mayor dan ulama sekaligus.

KH. Mansoer yang berdarah Madura berkeinginan agar Muhammad Tholchah Mansoer bisa seperti kakaknya, Oesman (Mayor KH. Oesman Mansoer), yang kelak menjadi seorang ulama.

Wafat

Pada puncak keemasan karir intelektual ini, KH. Tolchah Mansoer dipanggil ke rahmatulloh pada 20 Oktober 1986, setelah sempat dirawat di RS. Dr. Sardjito Yogyakarta karena penyakit jantung yang dibawanya sejak lahir.

Setelah wafatnya, KH. Tolchah Mansoer, KH. Ali Maksum, Rais Aam Syuriah PBNU 1989-1994 menyarankan agar KH. Tholchah Mansoer dikebumikan di pemakaman keluarga Pesantren Krapyak Yogyakarta. Karena bagi KH. Ali Maksum, KH. Tolchah Mansoer adalah salah satu orang yang sangat berpengaruh dalam Nahdlatul Ulama (NU).

Yaitu, KH. Tolchah Mansoer, sangat berperan terhadap lahirnya IPNU serta kiprahnya dan pengabdiannya kepada NU dan umat Islam. Semoga apa yang telah diperbuatnya menjadi amal jariyah yang hingga kini pahalanya terus mengalir kepada Sang Guru Besar. Tentu, layak bagi generasi penerus NU, apalagi rekan dan rekanita IPNU-IPPNU mejadikannya teladan.

Keluarga

Pada 5 Desember 1957, KH. Tolchah Mansoer melepas masa lajangnya dengan menikahi Umroh Machfudzoh, putra kiai besar dan seorang Menteri Agama RI KH. Muhammad Wahib Wahab.

Sebelum pernikahan mereka digelar,awalnya KH. Wahib tak menyetujui pernikahan ini. Namun, berkat hasil shalat istikharah, Nyai Wahib, istri KH. Wahib, mendukung hubungan keduanya. Dukungan juga datang dari kakek Umroh, KH. Abdul Wahab Chasbullah, yang melihat keduanya cocok, sama-sama merupakan aktivis organisasi.

Pasangan Tholchah dan Umroh sangat inspiratif. Meski dari latar belakang keluarga yang berbeda, keduanya sama-sama menjadi pelopor di zamannya, khususnya pelopor para pelajar NU. Kedua behasil mengawinkan dua organisasi kepelajaran di tubuh NU. Tholchah ikut mendirikan Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan menjadi Ketua Umum IPNU yang pertama, begitu juga Umroh yang ikut mendirikan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) dan menjadu ketua umumnya yang pertama juga.

Buah dari pernikahan mereka, Tholchah dan Umroh dikaruniai tujuh orang anak, tiga di antaranya menjadi tokoh yang menonjol dalam kehidupan masyarakat. Anak pertama mereka, Muhammad Fajrul Falakh mengikuti ayahnya menjadi pakar hukum tata negara. Anak kelima, Safira Machrusah, sejak 13 Januari 2016 diangkat oleh Presiden Joko Widodo menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Republik Demokratik Aljazair. Rosa, panggilan akrabnya, juga mengikuti jejak ibunya pernah menjadi Ketua Umum IPPNU 1996-2000.

Anak ketujuh mereka, Romahurmuziy, kini menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan (DPP PPP). Si bungsu yang memiliki kesamaan tanggal lahir dengan ayahnya itu, menyelesaikan studi S1 dan S2 di Institut Teknologi Bandung (ITB) sebelum terjun ke dunia politik.

Pendidikan

Disela-selanya menuntut ilmu dijenjang pendidikan umum, ia giat mengaji. Proses berjalannya dua sistem pendidikan itu, bagi Tholchah remaja tidaklah lancar, tapi keduanya mampu dicapainya, walaupun memerlukan waktu lama. Ia juga termasuk kutu buku dan gemar akan ilmu, sekaligus otodidak, bahkan saat menginjak dewasa tak segan-segan menjual mobilnya untuk membeli kitab kuning dan buku.

Pendidikan pertama KH. Tolchah Mansoer di peroleh di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama Jagalan Malang (1937-1945), kemudian melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah ditempat yang sama hingga kelas III. Di Madrasah yang didirikan oleh KH. Nahrawi Thahir ini, KH. Tolchah Mansoer diasuh oleh KH. Muhammad Syukri Ghazali dan Kiai Murtaji Bisri.

Pada tahun 1947, pelajar usia 17 tahun ini menjadi sekretaris Sabilillah daerah pertempuran Malang Selatan, sehingga ia harus meninggalkan sekolahnya. Baru setelah perang kemerdekaan usai, ia meneruskan sekolah di Taman Madya Malang sampai lulus tahun 1951.

Setelah lulus Taman Dewasa, ia masuk Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik (HESP), Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Kuliahnya tidak berjalan lancar, karena ia memang aktivis organisasi. Pada tahun 1953, Muhammad Tholhah Mansur berhenti kuliah untuk sementara waktu dan baru tahun 1959 ia kembali ke bangku kuliah.

Semangat KH. Tolchah Mansoer untuk belajar tidak pernah surut, walaupun telah menikah beliau tetap kembali ke bangku kuliah untuk menyelesaikan studinya, hingga kemudian Ia mampu menyelesaikan jenjang sarjana dan menjadi Sarjana Hukum pada tahun 1964.

Meskipun waktu yang diperlukan oleh KH. Tolchah Mansoer untuk menempuh sarjana hukum memakan waktu 13 tahun. Namun, berkat kegemarannya membaca beliau mampu menyelesaikan gelar Doktor Ilmu Hukum ( Jurusan Hukum Tata Negara) dalam waktu relatif singkat. Yakni dalam waktu hanya lima tahun.

Dengan Promotor Prof. Abdul Baffar Pringgodigdo, S.H, KH. Tolchah Mansoer berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Hukum Universitas Gajah Mada dengan judul disertasi “Pembahasan Beberapa Aspek Tentang Kekuasaan-kekuasaan Eksekutif dan Legislatif Negara Indonesia (17 Desember 1969)”. Disertasi ini kemudian diterbitkan menjadi buku oleh penerbit Radya Indria, Yogyakarta (1970).

Pendidikan ilmu-ilmu kesilaman didapatkannya dari guru-guru ngaji, khususnya KH. Syukri Ghazali ketika ia belajar di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Jagalan. Kebetulan rumah KH. Tolchah Mansoer tidak jauh dari madrasah dan rumah mantan ketua umum Majelis Ulama Indonesia itu. Selesai sekolah ia langsung mengaji, demikian pula ketika ia membantu KH. Syukri Ghazali mengajar di madrasah tersebut.

Disamping itu ia mengaji posonan (bulan Ramadhan) ke beberapa pondok pesantren. Diantaranya, di Pondok Pesantren Tebuireng dan Pondok Pesantren Al-Hidayah, Soditan Lasem. Di bawah asuhan KH. Ma’shum. Karena ia memang santri yang cerdas dan otodidak, maka wajarlah bila KH. Tolchah Mansoer akhirnya menjadi seorang ulama besar.

Pelopor Pendiri IPNU

Dalam kehidupan organisasi, KH. Tolchah Mansoer telah menjadi aktivis organisasi sejak usia remaja, terutama dikalangan NU. Ketika masih duduk dibangkuTsanawiyah, Ia pernah menjadi Sekretaris Ikatan Murid Nahdlatul Ulama (IMNU) kota Malang (1945). Pada saat itu Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) belum lahir, baru pada sembilan tahun kemudian KH. Tolchah Mansoer menjadi salah satu penggagas berdirinya IPNU.

Pengalaman organasisi berikutnya yang diperoleh oleh KH. Tolchah Mansoer adalah saat beliau berpindah ke Yogyakarta. Saat itu Ia pernah menjabat sebagai menjadi wakil Departemen Penerangan Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) dan menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) wilayah Yogyakarta.

Meskipun pernah menduduki berbagai jabatan strategis dalam beberapa organisasi Islam yang pernah ada saat itu, sebagai generasi muda NU yang militan ia mempunyai gagasan mendirikan organisasi Islam yang khusus mewadahi pelajar NU.

Gagasan ini kemudian Ia sampaikan dan akhirnya pada Konferensi Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di Semarang (22 Februari 1954) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) didirikan. Kemudian, berdasarkan konferensi tiga kota di Solo rekan Tholhah dipilih secara aklamasi terpilih sebagi ketua umumnya.

Setahun kemudian menyusul berdirinya Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang dipimpin oleh Ny Hj.Umroh Mahfudlah (1955). Jabatan ketua umum ini dipertahankannya dalam Muktamar I di Malang (1955), Muktamar II di Pekalongan (1957) dan Muktamar III di Cirebon (1958).

Sampai sekarang kedua organisasi ini tetap hidup, walaupun pada tahun 1985 sesuai UU Nomor 8 Tahun 1985 yang melarang adanya organisasi pelajar selain OSIS, maka IPNU menjadi Ikatan Putra Nahdlatul Ulama dan IPPNU menjadi Ikatan Putri Putri Nahdlatul Ulama. Di era reformasi kondisi telah berbeda maka sejak tahun 2003 IPNU dan IPPNU kembali menjadi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama sebagaimana semula sewaktu didirikan.

Karier-Karier

Perjuangan KH. Tolchah Mansoer selanjutnya adalah sebagai ketua Pengurus Wilayah Partai NU Daerah Iistimewa Yogyakarta. Setelah terjadi fusi empat partai islam (NU, Parmusi, PSII dan Perti) menjadi Partai Persatuan Pembangunan (5 Januari 1973), beliau lebih banyak berperan aktif di Jamiyah Nahdlatul Ulama, disamping sebagai guru besar di beberapa perguruan tinggi dan mubaligh.

Sebagai gantinya Dra. HJ. Umroh Mahfudloh (istrinya), tampil sebagai aktivis PPP, bahkan sampai menjadi ketua DPW PPP Daerah Istimewa Yogyakarta dan beberapa kali menjadi anggota DPRD I Yogyakarta dan DPD/MPR RI. Prof. Dr. KH. Tolchah Mansoer, adalah salah seorang tokoh yang ikut membidani kembalinya ke Khittah 1926.

Dalam Muktamar NU ke 27 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukerejo, Asembagus Situbondo, yang diasuh oleh KH. As’ad Syamsul Arifin. Dalam Muktamar tersebut, beliau terpilih sebagai salah seorang Rois Syuriah PBNU dibawah pimpinan Rois Aam KH. Ahmad Shiddiq dan Wakil Rois Aam KH. Rodli Sholeh.

Sesuai dengan aktivitasnya dalam organisasi, maka KH. Tolchah Mansoer pernah beberapa kali memegang jabatan dalam pemerintahan terutama di Daerah IstimewaYogyakarta. Ia pernah terpilih menjadi anggota DPR mewakili NU (1958) dan tahun itu juga ia diangkat sebagai anggota Dewan Pemerintah Daerah (DPD), kemudian badan ini diubah namanya menjadi BPH (Badan Pemerintah Harian) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (1958). BPH Merupakan lembaga eksekutif di daerah yang bertugas membantu kepala daerah.

Profesi Utama KH. Tolchah Mansoer adalah sebagai pendidik sekaligus juru dakwah dan penulis. Sewaktu masih kuliah tingkat doktoral, beliau menjadi asisten dosen di IAIN Sunan Kalijaga (Sekarang UIN Sunan Kalijaga).

Setelah lulus beliau masih tetap mengajar di IAIN, kemudian juga di beberapa perguruan tinggi lainnya seperti IKIP Yogyakarta (sekarang UNY), Akademi Militer di Magelang, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Akademi Administrasi Negara, Universitas Hasyim Asy’ari Jombang, Universitas Nahdlatul Ulama Solo dan lain-lain.

Guru Besar Hukum ini pernah memegang jabatan di beberapa perguruan tinggi, diantaranya Pembantu Rektor IAIN Sunan Kalijaga, kemudian Dekan Fakultas Ushuluddin, Direktur Akademi Administrasi Niaga Negeri di Yogyakarta (1965-1967), Rektor Universitas Hasyim Asy’ari (1970-1983) merangkap Rektor Institut Agama Islam Imam Puro, Purworejo (1975-1983) dan Dekan Fakultas Hukum Islam UNU (Universitas Nahdlatul Ulama) Surakarta.

Dan juga pernah menjadi anggota badan Wakaf IAIN Sunan Kalijaga dan Badan Penyantun Taman Siswa Yogyakarta. Ulama sekaligus guru besar ini wafat pada hari senin 20 Oktober 1986 dan makamkan di kompleks makam Dongkelan Yogyakarta.

 

Sumber: *Diambil dari buku Ensiklopedi Ulama Nusantara karya H.M. Bibit Suprapto, S.H.,M.Sc.,M.Si