Biografi Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh

 
Biografi Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Jasa, dan Karier
4.1       Jasa-jasa Beliau
4.1.1    Pelopor Lahirnya IPPNU
4.2       Karier Politik
4.3       Peranan di NU (Nahdlatul Ulama)

5          Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

Nyai. Hj. Umroh Mahfudzoh lahir pada 4 Februari 1936 M di Kabupaten Gresik. Beliau merupakan anak pertama dari lima bersaudara, dari pasangan KH. Wahib Wahab dengan Hj. Siti Channah.

Beliau juga merupakan cucu dari KH. Abdul Wahab Chasbullah (pendiri NU dan Rais Aam PBNU 1946-1971).

1.2       Riwayat Keluarga

Nyai. Hj. Umroh Mahfudzoh melepas masa lajangnya dengan dinikahi oleh KH. Tholchah Mansoer. Pernikahan tersebut berlangsung pada 05 Desember 1957.

Sebelum melangsungkan pernikahan, awalnya sang ayah, Kiai Wahib tak menyetujui pernikahan ini. Namun, berkat hasil shalat istikharah, Nyai Wahib, istri Kiai Wahib, mendukung hubungan keduanya. Dukungan juga datang dari kakek Umroh, KH. Abdul Wahab Chasbullah, yang melihat keduanya cocok, sama-sama merupakan aktivis organisasi.

Dari pernikahan mereka, KH. Tholchah Mansoer dan Nyai. Hj. Umroh Mahfudzoh dikaruniai tujuh orang anak, tiga di antaranya menjadi tokoh yang menonjol dalam kehidupan masyarakat. Anak pertama mereka, Muhammad Fajrul Falakh mengikuti ayahnya menjadi pakar hukum tata negara. Anak kelima, Safira Machrusah, sejak 13 Januari 2016 diangkat oleh Presiden Joko Widodo menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Republik Demokratik Aljazair. Rosa, panggilan akrabnya, juga mengikuti jejak ibunya pernah menjadi Ketua Umum IPPNU 1996-2000.

Selain itu, anak ketujuh mereka, Romahurmuziy, kini menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan (DPP PPP). Si bungsu yang memiliki kesamaan tanggal lahir dengan ayahnya itu, menyelesaikan studi S1 dan S2 di Institut Teknologi Bandung (ITB) sebelum terjun ke dunia politik.

1.3       Wafat

Nyai. Hj. Umroh Mahfudzoh meninggal dunia pada Jumat 6 November 2009, pagi pada sekitar pukul 06.45 WIB, di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.

Almarhumah meninggal pada usia 73 tahun, jenazah beliau dimakamkan sekitar pukul 15.30 WIB di pemakaman dekat kediaman Komplek Pondok Pesantren Sunni Darussalam, Tempelsari, Manguwoharjo, Sleman, Yogyakarta.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Masa Menuntut Ilmu

Sebagai cucu pendiri NU, masa kecil pendidikan Umroh banyak dihabiskan di pesantren, khususnya pada masa liburan yang banyak dihabiskan di Pesantren Tambakberas, Jombang, tanah kelahiran sang ayah.

Nyai. Hj. Umroh Mahfudzoh dibesarkan di tanah kelahirannya Gresik, lalu beliau mengawali pendidikannya di daerah kelahirannya yaitu di Madrasah Banat NU Gresik, Jawa Timur hingga kelas IV. Beliau sempat mengalami putus sekolah karena terjadi serangan Agresi Militer II yang dilakukan oleh Belanda pada tahun 1945-1946.  Setelah dipastikan keadaan aman kembali, Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh melanjutkan pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah NU Boto Putih, Surabaya. Setelah tamat dari MI NU Boto Putih, beliau beserta keluarganya pindah dari Gresik ke Jombang. Selanjutnya, beliau sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Tambak Beras selama 6 tahun. Setelah lulus dari MI Tambak Beras tersebutNyai Hj. Umroh Mahfudzoh mempunyai cita-cita untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah menengah dan sekaligus ingin belajar untuk merantau.

Akhirnya beliau pun diterima sebagai siswa di Sekolah Guru Agama (SGA) di Surakarta, Jawa Tengah. Ketika Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh  bersekolah di SGA, beliau tinggal di kediaman KH. Masyhud dan Nyai Syuaibah, tepatnya di Pondok Pesantren al-Masjhudiyah di daerah Keprabon, Solo, Jawa Tengah. Beliau merupakan santri dari kalangan putri kiai yang pertama kali nyantri di Solo, beliau nyantri bersama dengan saudara-saudaranya, seperti Jumi’atin Wahab, Mu’tamaroh Wahab, Mahfudzoh Wahab, dan juga Fathiyah Muhammad, serta teman-temannya seperti Latifah Hasyim, Romlah, Basyiroh Saimuri dan Atikah Murtadho.

Mereka inilah yang menjadi perintis adanya IPNU Puteri (IPPNU) di Solo, serta mendirikan kantor sekretariat IPNU Puteri di Solo pada waktu itu. Setelah lulus dari Solo, beliau lalu melanjutkan sekolahnya di Mualimat, Yogyakarta dan tinggal di daerah Kauman, Yogyakarta.
Setelah menikah dan mempunyai 3 orang anak, Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh  melanjutkan pendidikannya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sekarang menjadi UIN Sunan Kalijaga. Beliau kuliah di jurusan Hadits, Fakultas Syariah. Menurutnya walaupun sudah punya anak, bukanlah menjadi suatu beban maupun halangan untuk menuntut ilmu maupun berkarya.

2.2       Guru-Guru Beliau

  1. KH. Wahib Wahab
  2.  Hj. Siti Channah.
  3. KH. Abdul Wahab Chasbullah
  4. KH. Masyhud
  5. Nyai Syuaibah

2.3       Mengasuh Pesantren

Beliau pengasuh pondok pesantren Sunni Darussalam Sleman Yogyakarta

3          Penerus Beliau

3.1       Anak-anak Beliau

Anak-anak beliau yang menjadi penerus beliau adalah:

  1. Muhammad Fajrul Falakh mengikuti ayahnya menjadi pakar hukum tata negara.
  2. Safira Machrusah, sejak 13 Januari 2016 diangkat oleh Presiden Joko Widodo menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Republik Demokratik Aljazair.
  3. Rosa, panggilan akrabnya, juga mengikuti jejak ibunya pernah menjadi Ketua Umum IPPNU 1996-2000.

3.2       Murid-murid Beliau

Murid-murid beliau adalah para santri pesantren Darussalam Sleman.

4          Jasa, Karier, dan Peranan di NU (Nahdlatul Ulama)

4.1       Jasa-jasa Beliau

4.1.1    Pelopor Lahirnya IPPNU

Berdirinya IPNU yang khusus menghimpun pelajar-pelajar putra pada awal tahun 1954, memang tak lepas dari perjuangan Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh dan kawan-kawan untuk membuat organisasi serupa khusus untuk para pelajar putri.

Gagasannya dituangkan lewat diskusi intensif dengan para pelajar putri NU di Muallimat NU dan SGA Surakarta yang sama-sama belajar di pesantren asuhan Nyai Masyhud. Kegigihan Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh memperjuangkan pendirian IPNU-Putri (kelak berubah menjadi IPPNU) membawanya duduk sebagai Ketua Dewan Harian (DH) IPPNU. DH IPPNU adalah organ yang bertindak sebagai rahim pendirian sekaligus pelaksana harian organisasi IPPNU.

IPPNU lahir dari diskusi ringan yang dilakukan oleh beberapa remaja putri yang tengah menuntut ilmu di Sekolah Guru Agama (SGA) Surakarta, tentang keputusan Muktamar ke-20 NU di Surakarta. Dalam diskusi itu, Umroh dan teman-temannya merasa perlu adanya organisasi pelajar di kalangan nandliyat. Maka mereka mengusulkan adanya IPNU untuk pelajar putri.

Kalangan NU, baik Mulimat, Fatayat NU, GP Ansor dan Banom NU lainnya memutuskan untuk membentuk tim resolusi IPNU putri pada Kongres I IPNU di Malang Jawa Timur. Dalam pertemuan itu, disepakati bahwa peserta putri yang akan hadir di kongres Malang itu dinamakan IPNU putri.

Dalam suasana kongres, ternyata keberadaan IPNU putri sepertinya masih diperdebatkan secara alot. Semula direncanakan secara administratif hanya menjadi departemen di dalam tubuh organisasi IPNU. Hasil negosiasi dengan pengurus PP IPNU, bagi Umroh dan kawan-kawan, menimbulkan semacam kesan eksklusivitas IPNU yang hanya diperuntukkan pelajar putra.

Melihat hasil tersebut maka pada hari kedua kongres, Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh memotori peserta putri kongres yang hanya diwakili delegasi dari lima daerah (Yogyakarta, Surakarta, Malang, Lumajang dan Kediri) terus melakukan konsultasi dengan dua jajaran di pengurus badan otonom NU yang menangani pembinaan organisasi pelajar, yaitu PB Ma’arif, yang saat itu dipimpin bapak KH. Syukri Ghazali, dan ketua PP Muslimat NU saat itu, Nyai Mahmudah Mawardi.

Dari pembicaraan selama beberapa hari, telah membuat keputusan untuk membentuk organisasi IPNU Putri secara organisatoris dan administratif terpisah dengan IPNU. Tanggal 02 Maret 1955 M atau 08 Rajab 1374 H dideklarasikan sebagai hari kelahiran IPNU Putri. Untuk menjalankan roda organisasi dan upaya pembentukan cabang, ditetapkan, Umroh Mahfudzoh ditetapkan sebagai ketua umum. Saat itu, kantor PP IPNU Putri berkedudukan di Surakarta.

Namun,Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh dan kawan-kawan, mengusulkan perubahan nama dari IPNU Putri menjadi IPPNU. Kemudian, tak lama setelah itu, PB Ma’arif NU menyetujui perubahan nama itu, sehingga IPNU putri berubah menjadi IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama).

Aktivitas di IPPNU yang tidak begitu lama, diisi oleh Umroh dengan kegiatan sosialisasi dan pembentukan cabang-cabang IPPNU, khususnya di Jawa. Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh juga tampil sebagai juru kampanye partai NU pada pemilu 1955, sejak itulah awal mula ia mengenal dunia politik.

4.2       Karier Politik

Pada pertengahan tahun 50 an, Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh mulai terjun ke dunia politik, waktu itu beliau menjabat sebagai Seksi Keputrian Pelajar Islam Indonesia (PII), sebuah organisasi pelajar yang berafiliasi dengan Partai Masyumi, ranting SGA Surakarta. Namun, sejak berdirinya NU sebagai partai politik sendiri tahun 1952.

Naluri politik yang tersimpan selama belasan tahun ternyata tidak bisa dipendam Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh begitu saja. Aktivitas sebagai bendahara DPW PPP mengantarkannya terpilih sebagai anggota DPRD DIY periode 1982-1987.

Karir politiknya terus meningkat dari Wakil Ketua menjadi Pjs. Ketua DPW PPP DIY. Jabatan terakhir ini membawanya ke Jakarta sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Persatuan Pembangunan selama dua periode. Selain itu, beliau juga pernah menjabat sebagai Ketua Wanita Persatuan Pusat, organisasi wanita yang berada di bawah naungan PPP. Sebagai anggota dewan, Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh tercatat beberapa kali mengadakan kegiatan internasional, di antaranya muhibah ke India, Hongaria, Perancis, Belanda, dan Jerman.

Tinggal di Jakarta mempermudahNyai Hj. Umroh Mahfudzoh meneruskan aktivitasnya di NU sebagai Ketua Departemen Organisasi PP Muslimat NU, yang kemudian naik menjadi Ketua III. Sempat menikmati pensiun pasca pemilu 1997, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan oleh tokoh-tokoh NU mengajak Umroh terjun kembali ke dunia politik sebagai salah satu anggota DPR RI hasil pemilu 1999 dari Fraksi Kebangkitan Bangsa.

4.3       Peranan di NU (Nahdlatul Ulama)

Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh yang saat itu juga nyantri di Pesantren al Masyhudiyah Keprabon Solo asuhan KH. Masyhud dan Nyai Syuaibah, mulai terlibat aktif di NU sebagai Wakil Ketua Fatayat NU Cabang Surakarta.

Riwayat organisasi Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh berlanjut pada tahun 1962 sebagai pengurus seksi Sosial PW Muslimat NU DIY. Hingga menghantar jabatan beliau sampai menjadi, ketua PW Muslimat NU DIY diemban selama dua periode berturut-turut sejak tahun 1975.

Kedudukan ini mengantarkan Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh sebagai Ketua I Badan Musyawarah Wanita Islam Yogyakarta hingga tahun 1987. Kesibukan ini juga tidak menghalangi aktivitasnya sebagai Seksi Pendidikan Persahi (Pendidikan Wanita Persatuan Sarjana Hukum Indonesia) dan Gabungan Organisasi Wanita wilayah Yogyakarta.

Sementara itu, perhatian di bidang sosial disalurkan dengan menjabat sebagai Ketua Yayasan Kesejahteraan Keluarga (YKK) yang membidangi kegiatan-kegiatan di bidang peningkatan kesejahteraan sosial di wilayah Yogyakarta.

Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh hingga kini dan sampai kapanpun dikenang sebagai pendiri IPPNU. Bersama sang suami, dia telah mengabdikan diri untuk NU dan bangsa ini lewat jalur organisasi dan politik. Tangga organisasi yang dipijakinya juga runtut, dari mendirikan IPPNU, aktif di Fatayat NU, dan penggerak di Muslimat NU. Aktif di politik mulai dari partai NU, PPP, dan PKB, Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh adalah sekian dari perempuan-perempuan NU menginspirasi, menjadi pionir dan pelopor gerakan wanita, khususnya di kalangan umat Islam dan NU.

5         Referensi

https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/35449/1/14120070_BAB-I_V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf

 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya