Biografi KH. Muhammad Wahib Wahab

 
Biografi KH. Muhammad Wahib Wahab

Daftar Isi Profil KH. Muhammad Wahib Wahab

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  5. Komandan Laskar Hizbullah
  6. Karier di Politik

Kelahiran

KH. Muhammad Wahib Wahab atau yang kerap disapa dengan panggilan Gus Wahib lahir pada 1 November 1918. Gus Wahib merupakan putra pertama salah satu pendiri NU KH. Abdul Wahab Chasbullah dengan Nyai Hj. Maimunah, putri KH. Musa yang berasal dari Surabaya.

Wafat

KH. Muhammad Wahib Wahab meninggal dunia di Jakarta pada 12 Juli 1986 di usia 68 tahun. Jenazah beliau dimakamkan di samping makam ayahandanya KH. Wahab Chasbullah di kompleks makam keluarga di Tambakberas.

Pendidikan

Semasa kecil Wahib Wahab belajar di pesantren orangtuanya sendiri di mulai dari Pondok Tambakberas. Setelah selesai belajar kepada orang tuanya, beliau melanjutkan dengan belajar ke beberapa pesantren, diantaranya, Pesantren Seblak Jombang, Pesantren Mojosari, Pesantren Nganjuk, Pesantren Kasingan Rembang dan Pesantren Buntet Cirebon. Hingga kemudian melanjutkan pendidikan tingginya di Merchantile Institute of Singapore tahun 1936 hingga 1938.

Pada 1939, kiai Wahib berangkat ke Tanah Suci selama setahun untuk memperdalam ilmu agama sekaligus menunaikan ibadah haji. Kehidupannya pun terus berlanjut.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Karier politik KH. Wahib Wahab cukup cemerlang. Beliau dikenal sebagai inisiator perwakilan NU ke luar negeri, seperti ke Singapura, Malaysia, Kamboja dan Saigon (Vietnam).  Selain pernah menjabat sebagai anggota DPR, juga pernah menjadi Menteri Agama dan Menteri Perhubungan Sipil-Militer. Pensiun dari jabatan Menteri Agama, Kiai Wahib Wahab memilih berbisnis, yaitu dengan membesarkan usahanya di bidang pabrik ubin dan menetap di Bandung.

Komandan Laskar Hizbullah

KH. Wahib Wahab yang saat itu menginjak usia dewasa memulai karier militer dengan bergabung alam pasukan PETA. Hingga kemudian dirinya ikut pula bergabung dalam Laskar Hizbullah dan sempat menjadi komandan untuk wilayah Jombang, hingga bergabung ke barisan TNI Jombang.

Perjalanan KH. Wahib Wahab dalam kiprahnya di dunia militer diawali ketika tahun 1940an. Setelah Jepang berhasil mendarat di Indonesia menggantikan pendudukan Belanda sebelumnya, atas saran sang ayah, beliau akhirnya masuk tentara PETA setelah sebelumnya menjalani latihan di Bogor selama empat bulan.

Meski menjabat sebagai Shodanco atau komandan pleton, sikapnya juga terhitung cukup aneh dan konfrontif kepada Jepang. Semisal dengan keengganannya memakai seragam tentara hingga kedekatannya pada mayarakat yang juga digunakannya untuk mengobarkan semangat pemberontakan terhadap penjajah.

Di waktu bersamaan, kiai Wahib juga telah bergabung dengan Laskar Hisbullah, organisasi semi militer di bawah PETA yang berisikan anggota pemuda-pemuda islam. Karirnya pun cukup mentereng. Bahkan kiai wahib pernah tercatat mengomandani Laskar Hisbullah Jombang atas perintah KH. Hasyim Asy'ari untuk memobilisasi pemuda dan santri di wilayah Jombang, yang disampaikan  KH. Wahab Chasbullah kepada H. Affandi (Kaji Pandi Jagalan).

Putra sulung KH. Wahab Chasbullah ini menyanggupi, asal mendapat restu dari markas kiai yang saat itu sudah menempati front pertahanan di daerah Kedungsari Surabaya menjelang kedatangan pasukan Sekutu. Suasana kota Surabaya memang mulai memanas sejak akhir Agustus 1945, karena sebagian besar pasukan Jepang yang kalah perang, ternyata menolak menyerahkan senjata kepada pejuang Indonesia. Hingga akhinya terbentuk Laskar Hisbullah Jombang yang dikomando langsung KH. Wahib Wahab.

Pasukan ini terus bertahan setelah beberapa kali berganti nama, seperti menjadi TRI Hisbullah hingga menjadi TNI Resimen 293 yang tetap di bawah komandonya. Meski ternyata Komandan Resimen 293, Letkol Wahib Wahab tidak lama memimpin pasukan ini, karena kemudian dia mengundurkan diri. Sebab, Letkol Wahib Wahab lebih dibutuhkan tenaga serta pikirannya untuk berjuang di jalur politik dengan menjadi politisi di Partai Masyumi dan di parlemen.

Selanjutnya, jabatan Komandan Resimen 293 diserahkan pada Letkol Mansyur Solichi, yang sebelumnya menjabat Kepala Staf Resimen 293. Namun, ada juga yang menyebut, alasan pengunduran diri dari karir militer itu karena Kiai Wahib Wahab sangat kecewa dan menolak keras hasil Perundingan Linggarjati tahun 1947. Hal ini dikarenakan perjanjian tersebut, menunjukkan lemahnya posisi Indonesia mempertahankan kedaulatan. Karena sebagian besar wilayah Indonesia masih dikuasai Belanda dan sekutu.

Karier di Politik

Kiprahnya dalam dunia politik juga cukup sentral. Memanasnya hubungan politik antara kaum sipil politik dengan militer menyusul saling serangnya DPR dan Pihak militer membuatnya kembali harus turut berperan aktif. Ya, Kiai Wahib memang pernah ditunjuk oleh Soekarno untuk memimpin sosialisasi lanbgsung BKS (Badan Kerja Sama) Sipil-Militer ke berbagai penjuru Indonesia. “Hal ini juga yang mengantarkan Kiai Wahib memikul tugas selanjutnya sebagai Menteri Negara Urusan Kerja Sama Sipil Militer di masa genting pergolakan partai dan militer karena pengalaman di BKS yang dianggap berhasil,” dikutip dari buku menteri-menteri agama RI.

Hingga puncaknya, kiai Wahib juga sempat menduduki kursi Menteri Agama Republik Indonesia setelah ditunjuk langsung Presiden Soekarno. Dalam masa kepemimpinanya pun, banyak hal revolusioner terjadi. Sebut saja pendirian gedung Departemen Agama di tahun 1958, pendirian Masjid Istiqlal di tahun 1960 dan pembentukan IAIN serta penyerahan Alquran pusaka di tahun yang sama.

Meski kiprahnya di dunia militer hingga politik sangat mentereng, ternyata masa kecil kiai Wahib yang saat itu masih dipanggil Gus, adalah anak yang dibilang bandel dan nakal. Sebagai anak kiai besar, Gus Wahib menghabiskan waktu dengan bermain bersama teman-teman sebayanya.

“Ia sering lupa pulang ketika bermain bahkan seringkali terlampau jauh dari tempat tinggalnya. Pribadinya memang dikenal sebagai anak yang nakal dan susah diatur. Namun kebiasannya ini menjadikan pergaulan luas. Serta pembawaannya yang periang membuat siapa saja gemar bertemu dan berlama-lama untuk sekadar ngobrol dengannya,” tulis Abdul Aziz di bukunya.

Bahkan, kebiasaan nyeleneh ini juga terus berjalan ketika dirinya menimba ilmu di berbagai pesantren ketika remaja. Gus Wahib memang pernah berkelana ke berbagai pesantren, namun tak pernah lama karena jiwa petualangnya sejak kecil. Dalam sebuah wawancara dengan teman masa kecilnya, Aziz menulis sahabatnya tersebut menyebut kiai Wahib bahkan pernah tidak pulang dalam waktu lama hanya karena mengikuti sebuah romboingan ludruk yang melakukan pertunjukan.

Ketika menimba Ilmu di Pesantren Buntet  pun, beberapa temannya mengakui bila Gus Wahib lebih senang menimba ilmu kanuragan, daripada belajar ilmu keagamaan laiknya santri umum. “Ia terlihat jarang memelajari ilmu agama, lebih-lebih ia lebih suka belajar cara membuka gembok lemari yang terkunci dengan amalan-amalan wirid. Dan beliau sangat senang ketika berhasil melakukannya,” hasil wawancara dengan H Mustamid, teman mondok Gus Wahib.

Meski demikian, di balik sikapnya yang urakan tersebut, Gus Wahib di mata teman-temannya tetaplah sahabat yang baik dermawan, cerdas dan bersolidaritas tinggi. Hal ini juga diakui sendiri oleh adiknya. “Yang jelas beliau itu banyak mengikuti sepak terjang abah, orangnya organisatoris dan senang terjun di masyarakat. Kepribadiannya itu tegas, bijaksana, kepemimpinannya menonjol dan sisi sosialnya itu tinggi sekali,” pungkas Nyai Hj. Mahfudloh.