Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Nyai Hj. R. Djuaesih Minder
✓ Terverifikasi Tim Riset

Nyai Hj. R. Djuaesih Minder

lahir 1901 M · 9.909 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Nyai Hj. R. Djuaesih adalah sosok yang mendobrak sistem patriarki di Nahdlatul Ulama.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil Nyai Hj. R. Djuaesih Minder

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Peranan di Nahdlatul Ulama
  4. Perintis Muslimat NU

 

Kelahiran

Nyai Hj. R. Djuaesih Minder lahir di Sukabumi, Jawa Barat pada Juni 1901. Beliau merupakan putri dari R. O. Abbas dan R. Omara S.

 

Pendidikan

Sejak kecil, Nyai Hj. R. Djuaesih Minder dalam didikan kedua orang tuanya sendiri, R. O. Abbas dan R. Omara S. Selebihnya ia belajar dari pengalaman dan pergaulan dengan lingkungan sosialnya. Ayahnya yang seorang ustadz banyak membekali Djuaesih dengan ilmu agama, sedangkan ibunya mendidik dan mengajari budi pekerti dan tata cara hidup berumah tangga.

Meskipun tak pernah mengenyam pendidikan formal, Nyai Djuaesih menyadari betul pentingnya pendidikan bagi masa depan. Karenanya, begitu ada kesempatan ia pun menyekolahkan anak-anaknya ke pendidikan formal yang dibuka pemerintahan Hindia Belanda saat itu.

Tiga anaknya berhasil menamatkan pendidikan di MULO, sedangkan lainnya di HIS. Untuk ukuran zaman itu, apa yang dilakukan Djuaesih tergolong langka di tengah kehidupan pribumi yang serbasulit, tak hanya di bidang ekonomi dan politik tapi juga pendidikan.

Peranan di Nahdlatul Ulama

Nyai Hj. R. Djuaesih Minder memiliki keberanian yang besar dan rasa percaya diri yang tinggi. Nyai Djuaesih dan Nyai Siti Sarah adalah sosok yang tercatat dalam sejarah sebagai perempuan pertama Nahdhatul Ulama (NU) yang menyuarakan hak-hak kaumnya saat Muktamar ke-13 NU di Menes, tahun 1938.

Berbekal pengalaman yang didapatnya karena kerap kali diajak suaminya dalam kegiatan organisasi, Nyai Djuaesih memiliki keberanian lebih dibandingkan perempuan sebayanya kala itu. Dia dengan lantang dan berapi-api menyuarakan suara hatinya terkait kesetaraan perempuan NU.

Sorot matanya tajam, dan dengan gaya retorika yang elegan istri dari Danuatmadja alias H. Bustomi itu menguraikan pandangannya. Dalam persidangan khusus bagian wanita Muktamar ke-13 NU di Menes, Nyai Djuaesih mengobarkan semangat kaumnya dan menyadarkan bahwa perempuan Nahdliyin memiliki tanggung jawab yang sama dengan kaum laki-laki NU.

Sontak, pidatonya membuat para hadirin terpesona. Dia akhirnya dikenal sebagai sosok perempuan NU yang pertama kali naik mimbar dalam forum resmi organisasi. Isi pidatonya terkait tanggung jawab yang sama dalam organisasi menjadi rintisan pandangan dan cikal bakal lahirnya Muslimat NU.

Awalnya, Nyai Djuaesih mengusulkan agar perempuan turut andil dan aktif menjadi anggota NU. Hal itu sebagai pembelajaran sebelum perempuan NU mandiri dan memiliki organisasi sendiri.

Perintis Muslimat NU

Pada Muktamar NU ke-14 di Magelang, Nyai Djuaesih diberikan kesempatan untuk menyampaikan gagasannya tentang pentingnya organisasi perempuan di tubuh NU.

"Di dalam Islam bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik mengenai pengetahuan agama dan pengetahuan lain. Kaum wanita pun wajib mendapatkan didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntutan agama. Karena itu, kami wanita yang tergabung dalam NU mesti bangkit," (Nyai Hj. R. Djuaesih).

Pidatonya disaksikan langsung oleh

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+