Ibnu Hajar al-'Asqalani (773 H/1372 M – 852 H/1449 M) adalah seorang ahli hadits dari mazhab Syafi'i yang terkemuka.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani
Kelahiran
Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar atau yang lebih dikenal sebagai Ibnu Hajar al-Asqalani lahir pada tahun 773 H, di Mesir.
Ayah beliau meninggal dunia ketika beliau masih kecil, tepatnya pada bulan Rajab 779 H, atau saat Ibnu Hajar berusia enam tahun.
Wafat
Pada akhir hayatnya, Ibnu Hajar menderita sakit, tepatnya tahun 852 H. Hingga akhirnya meninggal karena penyakit tersebut setelah shalat isya, di penghujung malam sabtu tanggal 28 Zulhijjah 852 H. Di antara yang ikut serta mengangkat jenazahnya adalah sang Sultan dan para pengiringnya.
Beliau dimakamkan di daerah Bani al-Kharubi, dekat pusara Imam al-Laits bin Sa’d yang berada di depan Masjid ad-Dailami. Semoga Allah menganugerahkan rahmat yang luas serta pahala yang melimpah kepadanya dari setiap ilmu beliau yang berguna bagi agama Islam dan umatnya.
Pendidikan
Ibnu Hajar memulai masa remaja dengan menghafal al-Qur’an, dan dikatakan beliau memiliki hafalan yang sangat cepat. Karena itulah, pada usia Sembilan tahun beliau sudah bisa menghafal seluruh isi al-Qur’an di bawah bimbingan Syekh Shadru ad-Din ash-Shafti.
Berkaitan dengan masalah ini al-Hafizh as-Suyuthi menyatakan, “Pada mulanya Ibnu Hajar fokus mendalami sastra dan syair (puisi). Namun, ketika telah mencapai tujuannya dalam bidang ini, sejak tahun 794 H beliau mendalami hadis. Beliau juga banyak mendengar hadis dari berbagai sumber dan mengembara sampai ke Irak. Di negeri tersebut, beliau berguru kepada Syekh al-Hafizh Abu al-Fadhl al-‘Iraqi. Tidak mengherankan jika Ibnu Hajar sangat unggul dalam ilmu hadis, dan begitu menonjol dalam seluruh cabang keilmuan ini.”
Menginjak dewasa, Ibnu Hajar berguru kepada asy-Syams bin al-Qatthan, salah seorang pensihatnya dalam ilmu fikih dan Bahasa Arab. Selain itu, beliau juga berguru ilmu fikih kepada al-Ibnasi, Balyaqni, dan Ibnu Mulqin.
Pengembaraan keilmuan Ibnu Hajar hingga ke negeri-negeri yang termasuk wilayah Syam, Mesir, dan Hijaz. Terbukti, beliau pernah mengembara ke Mekah, Damaskus, Yaman, Alexandria, dank e Qush (Afganistan) pada tahun 793 H, sampai ke daerah Sha’id di Mesir. Selain itu, beliau juga mempelajari hadis dari ulama-ulama Haramain (Mekah dan Madinah), Baitul Maqdis (Palestina), Nablus (Palestina), Ramlah, dan Gaza.
Guru-Guru
Ibnu Hajar tercatat memiliki banyak guru yang menjadi kepercayaannya untuk memecahkan berbagai permasalahan. Jumlah gurunya bahkan tak tertandingi oleh siapa pun pada zamannya. Semua gurunya sangat menguasai sekaligus paling menonjol dalam bidangnya masing-masing. Di antaranya adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad at-Tanukhi al-Ba’albaki (dalam bidang baca al-Qur’an atau qira’at), az-Zain al-‘Iraqi (dalam bidang ilmu hadis), al-Haitsami, al-Balqini, dan Majduddinal-Fairus Abadi (seorang ahli Bahasa), dan al-‘Izz bin Jama’ah. Karena itulah Ibnu Hajar sangat menguasai berbagai disiplin ilmu.
Beliau mengutip (hadis-hadis) Abu al-‘Abbas dari Ahmad bin Umar al-Baghdadi, sementara hadis-hadis Abu Hurairah beliau kutip dari Abdurrahman bin al-Hafizh adz-Dzahabi dan Ibnu ‘Irfah al-Maliki. Sedangkan dari kalangan
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

