Kyai Noerhasan menikah dengan Nyai Hanifah putri KH. Mahalli Pengasuh Pesantren Sidogiri. Pasangan Kyai Noerhasan dan Nyai Hanifah dikaruniai enam orang anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru Beliau
3. Penerus Beliau
3.1 Murid-Murid Beliau
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Menjadi Pengasuh Pesantren
4.2 Pengajar Kitab-Kitab Besar
4.3 Metode Pengajaran Beliau
5. Teladan Beliau
5.1 Istikamah dalam Ibadah
5.2 Disegani Guru Beliau
5.3 Khumul, Tidak Suka Menampakan Diri
6. Melestarikan Amalan Shalawat Nabi
7. Peletakan Batu Pertama Surau H
8. Peninggalan Beliau
9. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Kyai Noerhasan Lahir antara awal Abad 18 M. Ayah beliau adalah Kyai Noerkhotim. Urutan Saudara beliau diantaranya:
- KH. Noerhasan,
- KH. Yusuf,
- KH. Mustahal,
- KH. Abdus Syakur.
Kyai Noerhasan beserta saudara-saudara beliau yang lain juga lahir di Tanjung Anom, Sidoarjo.
1.2 Riwayat Keluarga
Kyai Noerhasan menikah dengan Nyai Hanifah putri KH. Mahalli Pengasuh Pesantren Sidogiri. Pasangan Kyai Noerhasan dan Nyai Hanifah dikaruniai enam orang anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Yaitu:
- KH. Bahar,
- KH. Dahlan,
- KH. Nawawie,
- Nyai Munawwarah,
- Nyai Fathonah,
- Nyai Anisatun.
1.3 Wafat
Kyai Noerhasan bin Noerkhatim diperkiraan wafat akhir tahun 1800 M. Di makamkan di selatan mihrab masjid Sidogiri. Sebagaimana makam-makam kuno lainnya, makam Kyai Noerhasan pernah pula tidak diperhatikan.
Rerimbunan pohon dan tetumbuhan kecil yang menutupi makam Kyai Noerhasan membuat makam itu semakin tidak tampak. Banyak santri dan masyarakat yang tidak mengenal makam yang tersembunyi di balik semak-semak belukar itu. Sehingga kerap kali dibuat tempat duduk, mengobrol, bahkan lalu lalang di makam leluhur agung Masyayikh Sidogiri itu.
Diperparah lagi dengan tumpukan benda dan barang-barang bangunan seusai pembangunan masjid sekitar tahun 1972 M, yang membuat beberapa makam kala itu nampak rata tanpa terlihat batu nisannya.
Baru kemudian pada suatu ketika KH. Hasani Nawawie menaruh perhatian terhadap kondisi makam sang kakek, Kyai Noerhasan. Beliau berkata pada santri, “Iki pesareane embahku (Ini makam kakek saya)”.
Begitu miris hati beliau melihat keadaan makam kakek beliau. Hal sama pernah juga diucapkan KA Sa’doellah Nawawie, kakak Kyai Hasani, tatkala beliau memperhatikan makam sang kakek, “Iki kuburane embahku. Engkuk le’ aku mati, kuburen dek kene (Ini makam kakek saya. Nanti kalau saya mati, kuburkanlah saya di sini).”
Beberapa
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

