Kyai Haji Dimyathi dilahirkan pada tahun 1875. di Dusun kauman, desa campurdarat, kecamatan Campurdarat, kabupaten Tulungagung. Beliau adalah putra ke 6.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru Beliau
2.3 Mendirikan Pondok Pesantren
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Kyai Haji Dimyathi dilahirkan pada tahun 1875. di Dusun kauman, desa campurdarat, kecamatan Campurdarat, kabupaten Tulungagung. Beliau adalah putra keenam dari sepuluh orang putra-putri Mbah Zayadi dan ibu Warisah. yaitu Mirah, Hindun, Khodijah, Klumpuk, Sulbiyah, Katminah, Mariam dan Kasmi. Pada waktu dilahirkan oleh kedua orang tuanya. beliau diberi nama Khossun, dengan makna Khos: Kedudukannya dan Sun: perbuatan atau tingkah lakunya.
1.2 Wafat
Pada tahun 1974 beliau KH. Dimyathi wafat dan dimakamkan di dusun Kauman Desa Campurdarat (dibelakang Masjid Daruttaibin, Campurdarat), masyarakat Campurdarat dan sekitarnya menyebut makam mbah wali campur, ada juga yang menyebut mbah wali Dimyathi. Wallohu a'lam.
1.3 Riwayat Keluarga
KH. Dimyathi menikah dengan putri dari Desa Kalirong Kecamatan Gringging Kabupaten Kediri yang bernama Syufi’ah binti KH. Abdulloh Hasyim (Abdul Jalal), saat itu beliau baru saja menyelesaikan pendidikan di di pondok pesantren Nduwu Nganjuk.
Dari pernikahannya dengan Syufi’ah, Khossun memiliki putra-putri sebanyak 10 orang, yaitu
- Muti’ah,
- KH. Moh. Syamsudin
- Fathonah
- Imam Mawardi
- Musrifatin
- Suparti
- Syamsul Mu’adzom (meninggal pada usia kanak-kanak)
- Musrifah
- Rodiyah
- Nurhadi.
Saat ini putra-putri beliau tinggal dibeberapa kota di Jawa Timur. Sebagai penerus perjuangan beliau dalam mendidik masyarakat dengan nilai-nilai Islam di Campurdarat saat ini diemban oleh KH. Mohammad Syamsudin Dimyathi .
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Sejak masa kecilnya KH. Dimyathi Campurdarat belajar Al Qur’an pada keluarganya di Campurdarat, Selanjutnya beliau menuntut ilmu pada mbah Mesir di Durenan-Trenggalek, setelah menyelesaikan ngaji pada mbah Mesir beliau melanjutkan nyantri pada KH. Dimyathi Tremas, beliau disana selama 6,5 tahun.
Pada saat di Tremas inilah, suatu ketika Khossun dipanggil oleh gurunya yakni KH. Dimyathi dengan maksud meminta agar Khossun mengganti nama yang sama dengan dirinya yaitu "DIMYATHI". Mendengar perintah dari Gurunya Khossun tidak berani menolak, namun beliau menyatakan kepada KH. Dimyathi bahwa dirinya berkenan memakai nama Dimyathi jika sudah berhasil sampai di Makkah untuk menunaikan ibadah Haji.
Perjalanan pendidikan KH. Dimyathi Campurdarat tidak hanya berhenti di Tremas, seteleh masa nyantri di Pondok Tremas dianggap cukup, KH. Dimyathi Campurdarat melanjutkan ke Pondok Tragal-Jawa Tengah. Dari Tragal KH. Dimyathi Campurdarat kemudian berguru pada KH. Kholil – Bangkalan - Madura. Menyelesaikan pendidikan di Madura, KH. Dimyathi Campurdarat lalu berguru pada KH. Zainudin di Mojosari, Nganjuk. Usai dari Mojosari KH. Dimyathi Campurdarat meneruskan mencari ilmu pada KH. Marwah di Mang
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

