Biografi KH. Abdul Karim, Lirboyo Kediri Jawa Timur Ulama Nahdlatul Ulama
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.2 Lahir
1.3 Riwayat Keluarga
1.4 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru Beliau
2.3 Mendirikan dan Mengasuh Pondok Pesantren
3. Penerus Beliau
3.1 Putera-puteri Beliau
3.2 Murid-Murid beliau
4. Jasa Beliau
5. Kisah Teladan
5.1 Sosok Kiai Riyadah, Lemah Lembut dan Tawakkal
5.2 Membawakan Koper Santri
6. Karomah
7. Chart Silsilah Sanad
8. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Abdul Karim atau yang akrab disapa dengan panggilan Mbah Manab lahir sekitar tahun 1856, di Dukuh Banar, desa Diangan, Kawedanan Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra ketiga dari pasangan Abdur Rahim dengan Salamah.
Ayah beliau adalah seorang petani dan juga seorang pedagang. Kehidupan keluarganya sebenarnya berkecukupan, hanya setelah sang ayah meninggal dan usaha itu dilanjutkan oleh sang istri serta tak lama kemudian Salmah, Ibu beliau menikah lagi.
1.2 Riwayat Keluarga
Setelah cukup lama belajar di Pondok Pesantren Nurul Cholil yang diasuh oleh KH. Kholil Bangkalan, beliau merasa KH. Abdul Karim sudah lulus. Lalu beliau pamit pulang. Namun sesampainya di Jawa Timur, beliau mendengar salah satu sahabatnya kala mondok di Madura, KH. Hasyim Asy`ari telah 3 tahun membina Pesantren Tebuireng, Jombang yang membuat KH. Abdul Karim singgah. Di pesantren ini, ternyata dia tidak sekedar singgah dan malah sempat nyantri selama 5 tahun.
Meskipun usia KH. Abdul Karim ketika itu sudah mendekati setengah abad, toh dia belum juga melepas masa lajang. Tanpa diduga-duga, datang seorang kiai dari Pare kepada KH. Hasyim yang ingin mengambil menantu KH. Abdul Karim. Tetapi, KH. Hasyim diam-diam menolak lamaran itu, karena ingin menjodohkannya dengan salah seorang putri kerabatnya, putri KH. Sholeh dari Banjarmlati, Kediri. KH. Abdul Karim yang saat itu berusia 50 tahun akhirnya menikah dengan Khadijah yang berusia 15 tahun.
1.3 Wafat
Sekitar tahun 50-an, usia MKH. Abdul Karim sudah mendekati satu abad. Tetapi, usia itu tidak menghalangi niatnya untuk menunaikan ibadah haji. Tahun 1952, berkat bantuan biaya dari haji Khozin, seorang dermawan asal Madiun yang waktu itu juga hendak menunaikan ibadah haji, KH. Abdul Karim ingin menunaikan ibadah haji kembali. Tetapi tatkala tiba di Surabaya, kondisinya tampak payah, sehingga tim dokter meragukan kesehatan kiai untuk dapat menunaikan ibadah haji.
Tapi, karena niat itu sudah bulat, maka KH. Abdul Karim melakukan berbagai cara. Atas bantuan
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

