KH. Ahmad Zayadi Muhajir, ulama Betawi yang terkenal santun dan tawadhu` ini, lahir pada tanggal 23 Desember 1918 di Kampung Tanah 80 Klender, Jakarta Timur dari pasangan H. Muhajir bin Ahmad Gojek bin Dato KH. Muhammad Sholeh bin Tinggal bin Syafiuddin dan Umi Anisah yang merupakan orang asli Betawi.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Ahmad Zayadi Muhajir adalah ulama Betawi yang terkenal santun dan tawadhu, lahir pada tanggal 23 Desember 1918 M di Kampung Tanah 80 Klender, Jakarta Timur. Beliau putra dari pasangan KH. Muhajir bin KH. Ahmad Gojek bin Dato KH. Muhammad Sholeh bin Tinggal bin Syafiuddin dengan Nyai Hj. Umi Anisah yang merupakan orang asli Betawi. Kakek buyutnya, KH. Muhammad Sholeh, yang dikenal dengan nama Mu`allim Ale adalah seorang ulama Banten yang hijrah serta menetap di Kampung Tanah 80.
1.2 Riwayat Keluarga
Pada tahun 1938 M ketika beliau berusia 20 tahun dan masih mengaji di Kampung Bulak Cipinang Muara, beliau dinikahkan dengan Hj. Asmanih, putri H. Kirom, oleh gurunya, yakni KH. Muhammad Thohir.
Pada tahun 1948 M untuk pertama kalinya, beliau bersama KH. Achmad Mursyidi, KH. Hasbiyallah, dan Hj. Asmanih serta tujuh orang yang masih mempunyai hubungan keluarga, bersama-sama melaksanakan ibadah haji. Selama berkeluarga dengan Hj, Asmanih, beliau tidak diberikan keturunan sampai istrinya wafat pada hari Sabtu 22 November 1986 M pada usia pernikahan yang ke-48 tahun.
Setelah istri beliau wafat, KH. Ahmad Zayadi Muhajir kemudian menikah dengan Nyai Siti Fatimah, putri KH. Hasbiyallah Klender, teman sekampung dan sepengajiannya di Rawa Bangke dan Cipinang Muara. Dari istrinya ini, beliau dikaruniai empat orang putra, yakni: Gus Muhajir, Gus Sholahuddin, Gus Ali Ridho, dan Gus Imam Husnul Ma’ab.
1.3 Wafat
KH. Ahmad Zayadi Muhajir wafat pada hari Ahad 14 Syawal 1414 H bertepatan pada tanggal 27 Maret 1994, di usia 76 tahun di Mushala Uswatun Hasanah yang terletak di kaki Gunung Jati, Cirebon ketika sedang melaksanakan Shalat Jama` Taqdim sekitar jam 13.30 WIB. Beliau berangkat ke Gunung Jati dalam rangka kegiatan Ziarah Walisongo yang diadakan rutin setiap tahun semenjak tahun 1974 M. Sebelum shalat, beliau sempat berkata kepada orang-orang yang akan melakukan shalat Jama` Taqdim, ”saya tidak bisa mengikuti shalatnya kalian, dan kalian tidak dapat mengikuti shalatnya saya.”
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
KH. Ahmad Zayadi Muhajir memulai belajar mengaji kepada KH. Muhammad Thohir Cipinang Muara dan KH. R. Mustaqiem Rawa Bening Jatinegara. Guru-gurunya yang lain adalah Nyai Umi Anisah dan Kyai Hasan dari Kampung Tanah 80, Kyai Karnain Pondok Bambu, Kyai Marzuqi Cipinang Muara, Habib Ali Husein Al-Attas (Habib Ali Bungur), dan Habib Ali Abdurrahman Al-Habsiy (Habib Ali Kwitang). Walaupun telah menikah, beliau masih terus mengaji di Cipinang Muara.
2.2 Guru-Guru
1. KH. Muhammad Thohir Cipinang Muara
2. KH. R. Mustaqiem R
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

