KH. Sholihin Hamzah adalah putra ke 3 dari empat bersaudara dari pasangan Kyai Hamzah dan Nyai Kasiyatin. Dua orang kakaknya (Khasiyah dan Hj. Rohanah) adalah seorang perempuan dan seorang adiknya (K. Ahmad) adalah satu-satunya adik laki-laki yang bersama-sama beliau mengelola Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren Al-Ghozaliyah dan wafat pada tahun 2004
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Mursyid
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Sholihin Hamzah adalah putra ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Kyai Hamzah dan Nyai Kasiyatin. Beliau lahir pada tanggal 12 Februari 1925 (pada masa itu Indonesia dalam penjajahan Belanda) di Dusun Bapang, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Sholihin Hamzah menikah pada tanggal 21 Juli 1956 M atau 12 Dzulhijjah 1375 H, dengan Nyai Munasyaroh binti H. Abdul Wahab ibn H. Qosim dari Sukoharjo Pelemahan Kediri, saat berusia 31 tahun. Dari pernikahannya dengan Nyai Munasyaroh ini beliau dikarunia 10 anak, yaitu :H. M. Minachul Karim, BA, Sati'ul Inayah Fadjar Setijawati, Busyrol Adzim, Lutful Hakim, Aunur Rochim, Nasrullohil Alim, Abu Hayyilah Al-Hamzawi, Kafanal Kafi, Yaqutatul Mutawakkillah, dan Durrotul Maknunah.
Putra keenam yang bernama Nasrulloh saat ini menjabat sebagai Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Al-Ghozaliyah. Sedangkan, putra ketujuh yang bernama Abu Hayyillah Al Hamzawi sekarang menjadi Kepala Madrasah Diniyah Al-Ghozaliyah. Baik dari pondok maupun unit pendidikannya diutamakan dari keturunan KH. Sholichin Hamzah baik dari putra maupun putrinya.
1.3 Wafat
KH. Sholihin Hamzah wafat di usia yang ke-83 tahun, bertepatan pada tahun 2008 dan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Al-Ghozaliyah Dusun Sidowaras, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Saat berusia 11 tahun, beliau mulai masuk Sekolah MDU (Madrasah Darul Ulum) Rejoso Peterongan Jombang dalam kelas Nol Satu, yaitu pada tahun 1936. Tahun berikutnya, tahun 1937 beliau naik tingkat menjadi kelas Nol Dua. Tahun berikutnya lagi, tahun 1938 beliau naik kelas Nol Tiga. Kemudian pada tahun 1939 beliau masuk kelas I, tahun 1940 masuk kelas II, dan masuk kelas III pada tahun 1941.
Setelah itu beliau sempat berhenti sekolah karena pada tahun 1942 Jepang datang ke Indonesia dan sekolah sempat diberhentikan. Tahun berikutnya, 1943 beliau dapat melanjutkan sekolah lagi sampai dengan kelas VI (1945). Beliau lulus persis pada tahun yang sama dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945).
Pada tanggal 13 Oktober 1947 (28 Dzulqoidah 1366 H), Kyai Sholihin Hamzah mulai ikut kursus Masyumi di Peterongan Jombang. Kemudian beliau harus meninggalkan kegiatannya tersebut dan pergi ke Garu Kesamben untuk mengungsi. Setelah suasana kota agak tenang, beliau mulai berangkat mencari ilmu di Pondok Pesantren Jampes Kediri, yang pada waktu itu diasuh oleh Kyai Rukyat tepatnya pada 17 Agustus 1948 M atau 15 Syawal 1367 H.
Baru empat bulan berada di sana, beliau terpaksa pulang ke Jombang lagi karena pada saat itu, 21 Desember 1948, Belanda datang lagi dan berhasil menduduki Kota Kediri, dan kemudian menduduki Kota Jombang (25 Desember 1948). Begitulah pada saat
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

