Syekh Masduqi Al-Lasimy Ulama Nahdlatul Ulama Lasem Rembang Jawa Tengah
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Syekh Masduqi Al-Lasimy
- Kelahiran
- Wafat
- Keluarga
- Pendidikan
- Mendirikan Pesantren
- Murid-Murid
- Teladan
- Karya-Karya
- Chart Silsilah Sanad
Kelahiran
Syekh Masduqi Al-Lasimy lahir sekitar tahun 1908 M di Desa Soditan Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Sulaiman dengan Hj. Nyai Khadijah (Qolmini).
Dari jalur ayah nasab beliau bersambung ke asy-Syaikh as-Sayyid Mutamakkin Kajen Pati yang bersambung ke Raden Achmad Rahmatullah (Sunan Ampel).
Syekh Masduqi Al-Lasimy termasuk runtutan pewaris Tanah Jawa setelah kurun Syekh KH. Asnawi Banten yang dikenal sebagai simbol Tombak Mangku Mulyo (Quthbul Jawi). Simbol tersebut merupakan warisan dari asy-Syaikh Subakir, orang pertama pembabat Tanah Jawa.
Wafat
Syekh Masduqi Al-Lasimy wafat pada tahun 1975 M, tepatnya tanggal 17 Jumadil Akhir tahun 1396 H. Jenazah beliau disemayamkan di Pondok Pesantren al-Ishlah Lasem. Sejak tahun itu Ponpes al-Ishlah diteruskan oleh putranya, KH. Hakim Masduqi, yang dilahirkan sekitar tahun 1942 M. Di usia yang sangat muda, 12 tahun, KH. Hakim sudah mengajarkan kitab Jam’ al-Jawami’.
Keluarga
Sepulang dari Mekkah beliau bertemu dengan Syekh KH. Sayyid Dahlan, salah satu masyayikh di Pekalongan. Dari pertemuan tersebut, akhirnya Syekh KH. Sayyid Dahlan menikahkan putrinya, Nyai Hj. Ma’rifah dengan Syekh Masduqi Al-Lasimy.
Pendidikan
Sejak usia dini Syekh Masduqi Al-Lasimy dididik oleh ayahandanya sendiri. Kemudian ketika menginjak usia remaja atas petunjuk sang ayah dan pamannya, KH. Thayyib, beliau melanjutkan jenjang pendidikannya di Pondok Pesantren Tremas yang diasuh oleh Syekh KH. Dimyathi bin Abdullah yang merupakan adik dari Syekh KH. Mahfudz bin Abdullah (murid dari pengarang kitab I’anah ath-Thalibin) yang makamnya ada di Mekkah.
Beliau menimba ilmu selama 11 tahun dengan rincian 3 tahun belajar dan 8 tahun mengajar, yang salah satu dari sekian banyak muridnya di Tremas adalah KH. Hamid Pasuruan. Kemudian Beliau melanjutkan pendidikannya pada Syekh KH. Masyhud Pacitan.
Usai belajar dari Pondok Tremas, Syekh Masduqi Al-Lasimy melanjutkan pendidikannya ke Tanah Suci Mekkah al-Mukarramah selama 6 tahun. Di sana beliau belajar kepada Syekh Umar Hamdan al-Maghrabi dan Syaikh Muhammad Ali al-Maliki al-Hasani al-Maghrabi.
Di sana beliau dipercaya menjadi pengajar di Haramain. Murid-murid beliau semasa mengajar di Haramain banyak yang dari Indonesia, diantaranya KH. Bisri Musthafa Rembang dan KH. Masyhuri Rejoso Jombang.
Syekh Masduqi Al-Lasimy mendapat gelar asy-Syaikh karena termasuk salah satu ulama Indonesia yang mengajar di Masjidil Haram. Pada waktu itu sebutan Syekh dimiliki oleh 3 orang ulama, yaitu Syekh Masduqi Al-Lasimy, Syekh Mahfudz at-Tremasi (kakak kandung Syekh Dimyathi) dan
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

