KH. Ma’shum Zainullah merupakan pendiri dan sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa Grujugan Cermee Bodowoso. Beliau dilahirkan dari pasangan Bapak Narmo dan Ibu Rukmiyati (Hj. Halimatus Sa’diyah) pada 11 November 1951 di Ramban Kulon, Cermee Bondowoso Jawa Timur. Beliau adalah anak pertama dari tiga bersaudara; H. Baidawi dan Bapak Suharto.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Ma’shum Zainullah merupakan pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa Grujugan, Cermee, Bodowoso. Beliau lahir dari pasangan Bapak Narmo dan Ibu Rukmiyati (Hj. Halimatus Sa’diyah) pada tanggal 11 November 1951 M di Ramban Kulon, Cermee, Bondowoso Jawa Timur. Beliau adalah anak pertama dari tiga bersaudara; H. Baidawi dan Bapak Suharto.
1.2 Riwayat Keluarga
Kyai Ma’shum menikah dengan Nyai Raudlatul Hayati pada tahun 1974 M. Dari pernikahannya beliau dikaruniai dua anak, yakni: Nyai Hj. Nur Aini Ma’shum (1977) dan KH. Nawawi Ma’shum (1985).
1.3 Wafat
KH. Ma’shum Zainullah berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 9 Januari 2021 M karena sakit.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Ketika menginjak usia remaja, Kyai Ma’shum hijrah ke daerah Situbondo untuk mencari ilmu, tepatnya di Pondok Pesantren Curah Jeru yang saat itu diasuh oleh dua kyai bersaudara; KH. Rusydi dan KH. Rasyidi. Selama beliau menuntut ilmu di pesantren tersebut, adalah Ibu Nawiya yang merupakan saudara tertua lain ibunda Kyai Ma’shum yang menanggung biaya hidupnya. Saat itu pun, ekonomi Ibu Nawiya masih jauh dari kata cukup, untuk membiayai Kyai Ma’shum muda, beliau harus menjual dagangannya dengan berjalan kaki hingga sampai di daerah di mana Kyai Ma’shum muda belajar agama Islam.
Setelah cukup lama menimba ilmu di Pondok Pesantren Curah Jeru, kemudian beliau nyantri di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo di bawah asuhan KH. Zaini Mun’im. Saat belajar di pesantren tersebut, beliau dikenal dengan salah seorang santri yang tawadhu, wara’, memiliki pengetahuan agama yang cukup baik dan memiliki rasa tanggungjawab besar.
Mengetahui hal itu, maka KH. Zaini Mun’im memerintahkan beliau untuk membimbing beberapa santri, menjadi pengurus pesantren. Dan menariknya, para santri yang tertarik untuk mendapat bimbingan dari Kyai Ma’shum muda jauh lebih banyak dari pada jumlah santri bimbingan pengurus lainnya. Padahal tak sedikit dari para pengurus yang lebih alim dari pada beliau.
Semasa belajar di Pesantren Nurul Jadid, beliau juga dikenal dengan pribadi yang supel, akrab dengan para santri, pengurus, dan bahkan juga dikenal dekat dengan putra pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Muhammad Hasyim Zaini, BA.
Setiap kali putra pengasuh itu hendak pangkas rambut, pasti beliau meminta Kyai Ma’shum muda untuk melakukannya. Karena budi pekertinya yang luhur, ketaatan serta keakrabannya dengan berbagai kalangan di pesantren, maka hampir s
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

