KH. Hisyam Ismail lahir pada tahun 1908 M. di Kampung Kauman (kampung sekitar makam Sunan Bonang) kelurahan Kutorejo Tuban. Beliau adalah putra ke-10 dari 12 bersaudara pasangan dari H. Ismail dan Masyfi'ah.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru Beliau
2.3 Mengasuh Pondok Pesantren
3. Penerus Beliau
3.1 Anak-anak Beliau
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Karier Beliau
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Hisyam Ismail lahir pada tahun 1908 M. di Kampung Kauman (kampung sekitar makam Sunan Bonang) kelurahan Kutorejo Tuban. Beliau adalah putra ke-10 dari 12 bersaudara pasangan dari H. Ismail dan Masyfi'ah.
1.2 Wafat
Beliau wafat pada 1992 karena sakit.
1.3 Riwayat Keluarga
Beliau diambil menantu oleh KH. Fathurrahman Abu Said dan dinikahkan dengan putrinya yang bernama Hamnah. Sejak saat itu beliau membantu mertua untuk mengajar di pondok dan madrasah. Bahkan tidak lama kemudian diberi amanat untuk memimpin madrasah.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Pada waktu masih kecil, beliau bersekolah di HIS (SD zaman Belanda) pada pagi hari dan sore harinya mengaji al Qur'an pada KH. Murtadlo (Mbah Yai Tolo) Pesantren Makamagung yang berjarak sekitar satu kilo meter dari rumahnya. Terkadang, sore hari juga mengikuti les menulis halus.
Namun sekolahnya harus berhenti di kelas lima, karena Ayahnya meninggal dunia. Saudara-saudaranya tidak mampu untuk membiayai sekolahnya di HIS tersebut. Akhirnya, beliau hanya mengikuti sekolah diniyah di Madrasah Ulum yang berada di sebelah utara Masjid Agung Tuban dan dekat dengan rumahnya.
Baru satu tahun di Madrasah Ulum, beliau tidak kerasan, karena paling tua sendiri. Kemudian beliau diajak tinggal bersama kakak sulungnya, H. Syamsul Hadi di Babat Lamongan. Di Babat ini, beliau mengaji pada Kiai Hamid dan Kiai Syu'aib.
Tiga tahun di Babat beliau pindah ke Jenu Tuban ikut kakaknya, H. Masyhudi, yang menjadi naib di Jenu. Di sini beliau mengaji pada KH. Fathurrahman Abu Said di "Pondok Beji Lor" (sekarang Pon. Pes. Manbail Futuh).
Setelah tiga tahun mengaji di "Pondok Beji Lor", oleh KH. Fathurrahman beliau disarankan menimba ilmu di Sarang Rembang pada Kiai Syu'aib dan Kyai Dahlan (kakek KH. Maimoen Zubair). Baru satu tahun di Sarang, beliau diajak oleh Kyai Zubair Dahlan untuk mendirikan madrasah sekaligus membantu mengajar di madrasah yang sekarang bernama Madrasah Ghazaliyah Syafiiyyah (MGS).
Karena masih merasa kurang ilmunya, beliau pamit untuk melanjutkan pengembaraannya ke Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadlaratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari.
2.2 Guru-Guru Beliau
- KH. Murtadlo
- Kyai Hamid
- Kyai Syu'aib
- KH. Fathurrahman Abu Said
- Kyai Dahlan
- Kyai Zubair
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

