Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Abuya Muhammad Wali
✓ Terverifikasi Tim Riset

Abuya Muhammad Wali

1917 – 1961 M · 51.596 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Setelah mendapat ijazah thariqat beliau kembali ke Kota Padang dan mendirikan sebuah Pesantren yang bernama Bustanul Muhaqqiqin di Lubuk Begalung, Padang. Sebuah pesantren yang terdiri dari beberapa surau dan asrama. banyak murid yang mengambil ilmu di pesantren tersebut bahkan juga santri-santri dari Aceh.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup
1.1  Lahir
1.2  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan
2.2  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Mendirikan Pesantren
3.2  Menjadi Mursyid Tarekat

4.    Karya-Karya
5.    Chart Silsilah Sanad
6.    Referensi

1. Riwayat Hidup

1.1 Lahir
Abuya Muhammad Wali lahir pada tahun 1338 H/1917 M di Desa Blang Pohroh, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan, Aceh. Beliau adalah putra bungsu dari pasangan Syekh Haji Muhammad Salim bin Malin Palito dengan Siti Janadat, putri seorang kepala desa kalau di Aceh sering orang menyebut dengan istilah Keuchik yang bernama Nya` Ujud yang berasal dari Desa Kota Palak, Kecamatan Labuhan Haji, Aceh Selatan.

1.2 Wafat
Abuya Muhammad Wali wafat pada tanggal 20 Maret 1961 atau bertepatan pada tanggal 11 Syawal 1318 H.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2. Pendidikan
Abuya Muhammad Wali belajar cara membaca Al-Qur'an dan kitab-kitab kecil tentang tauhid, fiqih, dan dasar ilmu bahasa Arab pada ayahnya. Pembelajaran ini sering dilakukan pada malam hari sesudah shalat Maghrib. Setelah tamat sekolah Volks-School, beliau diajak untuk belajar oleh ayahnya ke sebuah pesantren di Ibu Kota Labuhan Haji yaitu Pesantren Jam`iah Al-Khairiyah yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Ali yang dikenal oleh masyarakat dengan panggilan Teungku Lampisang dari Aceh Besar.

Kurang lebih selama 4 tahun beliau belajar di Pesantren Al-Khairiyah, lalu kemudian melanjutkan pendidikan Pesantren Bustanul Huda di Ibu Kota Kecamatan Blangpidie. Atas dasar arahan, bimbingan dari ayahnya, di Pesantren Bustanul Huda di bawah asuhan Teungku Syekh Mahmud, beliau mempelajari kitab-kitab yang masyhur di kalangan ulama Syafi`iyah dalam bidang fiqih seperti I`ānah Al-Ṭalibīn, Tahrīr, dan Mahally, dalam ilmu nahwu dan ilmu shorof seperti Alfiyah dan Ibn `Aqil.

Setelah beberapa tahun belajar di Bustanul Huda, pada tahun 1935 di usianya yang ke 18 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Krueng Kalee di Aceh Besar. Lamanya Abuya Muhammad Wali di Pesantren Kreung Kalee hanya tidak lebih satu hari, beliau bersama Tengku Salim mencari pesantren lain untuk menambah ilmu.

Akhirnya merekapun berpisah, dan kemudian Abuya Muhammad Wali mendapatkan informasi bahwa ada seorang ulama lain yang ada di Aceh Besar yaitu Teungku Hasballah Indrapuri di mana beliau memiliki sebuah pesantren di Indrapuri. Pesantren yang beliau pimpin lebih menonjol dalam ilmu Al-Qur'an yang berkaitan dengan Qira’ah dan lainnya. 

Setelah sekian lamanya di Pesantren Indrapuri, datanglah tawaran dari salah seorang pemimpin masyarakat yaitu Teuku Hasan Glumpang Payung kepada Abuya Muhammad Wali untuk belajar ke sebuah perguruan di Padang yaitu Normal Islam School yang didirikan oleh seorang ulama jebolan dari Universitas Al-Azhar Kairo Mesir yaitu Syekh Mahmud Yunus.

Teungku Hasan setelah memperhatikan kepribadian Abuya Muhammad Wali, timbullah niat dalam hatinya bahwa pemuda ini perlu dikirim ke Al-Azhar Kairo Mesir, namun karena

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+