KH. Thohir Wijaya dilahirkan di Blitar sekitar tahun 1927 M, putera ketiga dari Kyai Sarkun, seorang ahli tirakat dari kampung Bakung, di ujung barat Blitar, atau persisnya berada hampir di perbatasan antara Blitar dan Kediri, yang masuk wilayah teritorial Kecamatan Udanawu.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mengasuh Pesantren
4.2 Karier
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Thohir Wijaya dilahirkan di Blitar sekitar tahun 1927 M, putera ketiga dari Kyai Sarkun, seorang ahli tirakat dari kampung Bakung, di ujung barat Blitar, atau persisnya berada hampir di perbatasan antara Blitar dan Kediri, yang masuk wilayah teritorial Kecamatan Udanawu.
1.2 Wafat
Beliau berpulang ke Rahmatullahi pada tahun 1999 karena sakit yang beliau dera terus menggerogoti kesehatannya, yang pada akhirnya mengharuskan dia menghadap Allah Swt dalam Usia 72 tahun.
1.3 Riwayat Keluarga
Beliau menikah dengan Hj. Munawarah dari pernikahan itu beliau dikaruniai enam anak yaitu: Hj. Astutik Hidayati, Hj. Asmawati, Hj. Nur Saida, H. Jauhar Wardani, Hj. Reni Rahmawati, Hj. Rina Laila Wati.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Cita-citanya menjadi ulama, sesuai dengan keinginan ayahnya, KH. Sarkun, yang mendidiknya dengan keras. ”Masih berusia empat tahun, saya sudah diajari salat dan mengaji,” tutur anak ketiga dari tujuh bersaudara ini. Tohir Wijaya menghabiskan masa kecilnya di pondok pesantren.
Usai lulus SD di kota kelahirannya, Blitar, Jawa Timur, beliau dikenal sebagai anak yang paling menyenangi pelajaran sejarah. Gemar membaca buku cerita kepahlawanan. Tokoh yang dikaguminya Teuku Umar. ”Pejuang yang berjiwa penuh keimanan,” komentarnya.
Beliau termasuk santri generasi pertama di Pondok Pesantren Lirboyo, di bawah bimbingan langsung Mbah Manab (KH. Abdul Karim, Muassis PP. Lirboyo). Masa nyantrinya di Lirboyo merupakan awal dedikasinya dalam berjuang menegakkan Agama Allah di muka bumi. Kembali menjadi santri, Tohir berpindah-pindah pondok pesantren. Antara lain di Tebuireng, Peterongan, Rejoso, dan Tremas, semuanya di Jawa Timur. Ia mendalami tafsir Alquran dan hadis, juga mempelajari dakwah dan sejarah perkembangan Islam.
2.2 Guru-Guru:
1. KH. Abdul Karim
2. KH. Hasyim Asy'ari
3. Penerus Perjuangan
3.1 Anak-anak
- Hj. Astutik Hidayati
- Hj. Asmawati
- Hj. Nursaidah H
- H. Jauhar Wardani
- Hj. Reni Rahmawati
- Hj. Rina Laila Wati
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mendirikan Pesantren
Setelah KH. Manshur wafat, Pesantren ini diasuh para menantunya, KH. Thohir W
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

