Biografi KH. Abdul Karim Lirboyo

 
Biografi KH. Abdul Karim Lirboyo

Daftar Isi

1        Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1     Lahir
1.2     Riwayat Keluarga  
1.3     Wafat

2         Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1      Mengembara Menuntut Ilmu 
2.2      Guru-Guru Beliau
2.3      Mendirikan dan Mengasuh Pondok Pesantren

3         Penerus Beliau
3.1      Putera-puteri Beliau
3.2      Murid-murid Beliau

4         Jasa Beliau

5         Kisah Teladan
5.1      Sosok Kiai Riyadah, Lemah Lembut. dan Tawakkal
5.2      Membawakan Koper Santri

6         Karomah

7         Referensi 

 

 

1        Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1     Lahir

KH. Abdul Karim atau yang akrab disapa dengan panggilan Mbah Manab lahir sekitar tahun 1856, di Dukuh Banar, desa Diangan, Kawedanan Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra ketiga dari pasangan Abdur Rahim dengan Salamah.

Ayah beliau adalah seorang petani dan juga seorang pedagang. Kehidupan keluarganya sebenarnya berkecukupan, hanya setelah sang ayah meninggal dan usaha itu dilanjutkan oleh sang istri serta tak lama kemudian Salmah, Ibu beliau menikah lagi.  

1.2     Riwayat Keluarga  

Setelah cukup lama belajar di Pondok Pesantren Nurul Cholil yang diasuh oleh KH. Kholil Bangkalan, beliau merasa KH. Abdul Karim sudah lulus. Lalu beliau pamit pulang. Namun sesampainya di Jawa Timur, beliau mendengar salah satu sahabatnya kala mondok di Madura, KH. Hasyim Asy`ari telah 3 tahun membina Pesantren Tebuireng, Jombang yang membuat KH. Abdul Karim singgah. Di pesantren ini, ternyata dia tidak sekedar singgah dan malah sempat nyantri selama 5 tahun.

Meskipun usia KH. Abdul Karim ketika itu sudah mendekati setengah abad, toh dia belum juga melepas masa lajang. Tanpa diduga-duga, datang seorang kiai dari Pare kepada KH. Hasyim yang ingin mengambil menantu KH. Abdul Karim. Tetapi, KH. Hasyim diam-diam menolak lamaran itu, karena ingin menjodohkannya dengan salah seorang putri kerabatnya, putri KH. Sholeh dari Banjarmlati, Kediri. KH. Abdul Karim yang saat itu berusia 50 tahun akhirnya menikah dengan Khadijah yang berusia 15 tahun.

1.3     Wafat

Sekitar tahun 50-an, usia MKH. Abdul Karim sudah mendekati satu abad. Tetapi, usia itu tidak menghalangi niatnya untuk menunaikan ibadah haji. Tahun 1952, berkat bantuan biaya dari haji Khozin, seorang dermawan asal Madiun yang waktu itu juga hendak menunaikan ibadah haji, KH. Abdul Karim ingin menunaikan ibadah haji kembali. Tetapi tatkala tiba di Surabaya, kondisinya tampak payah, sehingga tim dokter meragukan kesehatan kiai untuk dapat menunaikan ibadah haji.

Tapi, karena niat itu sudah bulat, maka KH. Abdul Karim melakukan berbagai cara. Atas bantuan KH. Wahid Hasyim akhirnya beliau bisa berangkat dari Jakarta. Seusai ibadah haji kedua, KH. Abdul Karim mulai menunjukkan tanda kurang sehat. Beberapa waktu, sempat sakit-sakitan. Akan tetapi yang cukup menyedihkan adalah kesehatan itu kian turun drastis sehingga saraf sebelah kaki tak lagi berfungsi, mengakibatkan ia lumpuh.

Sebenarnya kelumpuhan itu sempat diderita cukup lama, hampir satu setengah tahun. Sampai akhirnya saat memasuki bulan Ramdhan 1374, seminggu kemudian sakit KH. Abdul Karim semakin kritis, sehingga tidak mampu lagi memberikan pengajian dan menjadi imam jama`ah dalam shalat.

Tepat, pada hari senin ketiga di bulan suci Ramadhan tahun itu, atau tepatnya tanggal 21 Ramadhan 1374 H, sekitar pukul 13.30 KH. Abdul Karim dipanggil Sang Kuasa. Suasana sedih tentu melingkari keluarga Pesantren Lirboyo. Sebab, pendiri pesantren yang selama itu diagungkan telah tiada. Pada sisi yang lain, juga meninggalkan jejak bangunan pesantren yang perlu untuk diteruskan.

 

2         Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau


2.1      Mengembara Menuntut Ilmu 

Suatu hari, Aliman pulang ke Magelang. Rupanya Aliman juga bermaksud mengajak KH. Abdul Karim yang saat itu berusia 14 tahun untuk berkelana. Dengan berbekal restu orangtua, KH. Abdul Karim akhirnya berangkat ke Jawa Timur.

Dalam perjalanan itu, keduanya sampai di Dusun Gurah Kediri, bernama Babadan. Di susun inilah, keduanya menemukan sebuah surau yang diasuh oleh seorang kiai, dan mulai nyantri untuk mempelajari ilmu-ilmu dasar, seperti ilmu amalaiyah dengan membagi waktu sambil ikut mengetam padi, menjadi buruh warga desa saat panen tiba.

Setelah dirasa cukup, beliau meneruskan nyantri ke pesantren yang terletak di Cepoko, 20 kilometer sebelah selatan Nganjuk, dengan bekerja di pesantren itu. Di sini, KH. Abdul Karim belajar selama 6 tahun. Lantas pindah ke pesantren Trayang, Bangsri, Kertosono. Di pesantren ini pula, konon KH. Abdul Karim memperdalam al-Qur`an.

Dengan berjalannya waktu, KH. Abdul Karim kian beranjak dewasa. Beliau semakin menambah ilmu dengan tekun mengaji. Seakan tak puas hanya belajar di dua pesantren, KH. Abdul Karim pindah ke Sidoarjo, pesantren Sono yang terkenal akan ilmu sorofnya. Di pesantren ini, ia mondok 7 tahun dan tidak lagi belajar sambil bekerja, karena seluruh kebutuhannya sudah ditanggung kakaknya. KH. Abdul Karim sempat bercerita kepada cucu tertuanya, Agus Ahmad Hafidz, “Aku bisa nyantri, karena dianggat oleh kakakku”.

Di pesantren itu, beliau memperdalam ilmu sorof. Karena beliau ingin jadi spesialis ilmu gramatika Arab ini, sehingga memilih ilmu ini sebagai hobinya. Karena baginya, ilmu sorof itu bagaikan ibunya ilmu sedangkan nahwu adalah ayahnya ilmu. Dari pesantren Sono, beliau lalu nyantri ke pesantren Kedungdoro dan kemudian ke Madura untuk nyantri kepada KH. Kholil Bangkalan (wafat tahun 1923).

Saat belajar ilmu di Madura, KH. Abdul Karim banyak menimba ilmu dan tak jarang menerima berbagai ujian. Sempat Mbah Manab bekerja guna mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari bersama Abdullah Fiqih (dari Cemara, Banyuwangi) ke daerah Banyuwangi dan Jember. Tapi, apa yang terjadi setelah ia bersusah payah kerja dan pulang dengan membawa hasil. Justru, hasil dari kerjanya itu diminta oleh KH. Kholil untuk makanan kambing-kambing sang kiai.

Mau bagaimana lagi, KH. Abdul Karim menyerahkannya. Rupanya, itu sebagai isyarat dari KH. Kholil bahwa KH. Abdul Karim ternyata tidak diijinkan bekerja. Konon, sebagai gantinya KH. Abdul Karim disuruh memetik daun pace yang tumbuh di sekitar pondok untuk makan sehari-hari. Dari daun itu, KH. Abdul Karim, semua ini tidak pernah ia keluhkan. Bertahun-tahun ia melakukan tirakat ini sehingga tak aneh jika Mbah Manab lebih dikenal sebagai santri yang betah dalam keadaaan lapar. Anehnya, semua itu bagi KH. Abdul Karim dirasa sebagai bentuk “perjuangan” untuk mendapat sesuatu yang diharapkan kelak.

Di pesantren ini, hampir 23 tahun KH. Abdul Karim nyantri. Saat itu ia sudah berusia 40 tahun, sehingga sudah mencerminkan sosok yang alim dan figur Manab-pun telah menampakkan sosok sesorang kiai. Tidak salah, jika santri-santri menempatkan KH. Abdul Karim sebagai kiai, tempat untuk bertanya, minta pendapat dan berguru. Salah satu kiai yang sempat berguru kepadanya adalah Kiai Faqih asal Patik Nganjuk.

Kealiman KH. Abdul Karim tentunya bukan sesuatu yang turun begitu saja dari langit. KH. Abdul Karim dengan tekun mengaji kitab-kitab kuning dan melakukan telaah. Meski dia kekurangan uang untuk membeli kitab, namun dia punya siasat jitu. Konon, Mbah Manab sering melakukan barter. Kitab yang sudah dia pelajari, dia tukar dengan kitab-kitab baru milik temannya. Kadang langsung dijual, lalu dari uang itu dia belikan kitab yang baru.

2.2      Guru-Guru Beliau

  1. KH. Kholil Bangkalan
  2. KH. Hasyim Asy`ari

 

2.3   Mendirikan dan Mengasuh Pondok Pesantren

Walau sudah menikah, KH. Abdul Karim masih nyantri di Tebuireng. Setengah tahun kemudian, karena sebagai suami, dia akhirnya bermukim di Banjarmlati mendampingi sang istri. Satu tahun kemudian, lahir seorang putri pertama, Hannah (1909) dan KH. Abdul Karim masih belum memiliki rumah.

Akhirnya, KH. Sholeh berkeinginan membeli tanah di Lirboyo dan memberikannya kepada KH. Abdul Karim . Pembelian itu tidak menemui masalah, sebab Lirboyo dikenal sarang dari keonaran sehingga lurah Lirboyo yang tak mampu lagi menentramkannya memohon bantuan KH. Sholeh untuk menempatkan menantunya agar masyarakatnya yang kering akan siraman rohani bisa sadar. Akhirnya, KH. Abdul Karim pun menetap di Lirboyo.

Dari situ, KH. Abdul Karim boleh dikatakan merintis dari awal. Bahkan, di awal-awal KH. Abdul Karim menetap di Lirboyo tidak jarang kena teror. Tujuannya agar KH. Abdul Karim tak betah. Tapi dengan ketabahan, KH. Abdul Karim justru berhasil menyadarkan penduduk.

Lalu, KH. Abdul Karim memulai membangun sarana peribadatan, musholla yang 3 tahun kemudian disempurnakan menjadi masjid tahun 1913. Dengan keberadaan masjid itu keberhasilan dakwah KH. Abdul Karim kian nampak. Masjid itu tidak sekedar hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai sarana pendidikan dan pengajian.

Dari situ, banyak masyarakat yang kemudian berguru, malahan ada seorang santri yang datang dari Madiun, bernama Umar. Santri pertama inilah yang kemudian menjadi cikal bakal keluarga besar Pesantren Lirboyo, yang dirintis dari nol oleh KH. Abdul Karim .

Dengan tekun, rajin dan tabah, KH. Abdul Karim mengembangkan pesantren. Dalam satu dasawarsa sudah banyak kemajuan yang dicapai. Jumlah santri semakin bertambah, datang dari berbagai penjuru. Untuk itu, beliau kemudian merelakan sebagian tanahnya untuk dihuni santri. Begitulah sifat KH. Abdul Karim , seorang pemimpin sejati yang mendahulukan kepentingan orang di atas kepentingan pibadi.

3         Penerus Beliau
 

3.1      Putera-puteri Beliau

Putera-puteri beliau diantaranya adalah:

  1. Ny. Hj. Salamah (Isteri KH. Manshur, Ibunda KH. Anwar dan KH. Abdul Aziz)
  2. Ny. Hj. Zainab (Isteri KH. Mahrus Ali)
  3. Ny. Hj. Maryam (Isteri KH. Marzuqi Dahlan)
  4. Ny. Hj. Qamariyyah (Isteri KH. Zaini Munawwir)

3.2      Murid-murid Beliau

Murid-murid beliau adalah para santri di pesantren Lirboyo Kediri

4         Jasa Beliau

KH. Abdul Karim juga ikut menggembleng dan memberikan doa restu kepada barisan Sabilillah dan Hizbullah. Di samping itu, beliau mengirimkan para santrinya untuk ikut bertempur di medan laga, dua kali ke Surabaya dengan jumlah santri mencapai 97 dan 74 orang, dan sekali ke Sidoarjo dengan jumlah pasukan 309 santri. Juga sempat terlibat dalam pelucutan senjata tentara Jepang di Kediri. Jadi, sang kiai terlibat dalam mempertahankan kemerdekaan negeri ini.

5         Kisah Teladan

5.1.          Sosok Kiai Riyadah, Lemah Lembut. dan Tawakkal

Ada satu sisi kehidupan KH. Abdul Karim yang patut diteladani, yakni suka riyadhah, mengolah jiwa (tirakat). Kebiasaan ini tak pernah ditinggalkan, sejak menuntut ilmu sampai berkeluarga dan menjadi kiai pemangku pesantren. Selain itu, sering menghidupkan shalat malam. Jarang tidur, toh jika tidur cuma sebentar. BeIiau habiskan malam dengan dzikir, munajat kepada Allah, membaca al-Qur`an dan menelaah kitab. Kebiasaan ini tak asing di mata santri.

KH. Abdul Karim ini juga dikenal lembut. Terbukti ketika menyadarkan santri, kiai memilih jalan menasehatinya dengan tindakan dan kadang-kadang dalam bentuk tulisan yang ditempelkan di dinding pesantren. Pendek kata, kiai memilih jalan menasehati tanpa ada unsur pemaksaan. Apalagi, sampai dengan cara melukai hati.

Tapi, hal yang sungguh luar biasa adalah bentuk tawakkal yang dipegang teguh oleh KH. Abdul Karim. Pernah Belanda menyerbu ke pesantren tapi ia tetap diam dan tak gentar sedikitpun. Meski demikian, di masa penjajahan Belanda, kiai tak lantas berpangku tangan. Bahkan pada zaman penjajahan Jepang (1942-1945), beliau bersama para ulama sempat dipanggil ke Jakarta. Tujuan Jepang saat itu adalah untuk membentuk Shumubu, Jawatan Agama Pusat yang kemudian diketuai oleh KH. Hasyim Asy`ari dan Shumubu (JA Daerah).

5.2           Membawakan Koper Santri

Suatu ketika, kejadian mencengangkan adalah ketika datang seorang santri baru. Saat santri baru itu turun dari kendarannya dan kebetulan Mbah Manab sedang berada dijalan. Karena penampilan beliau yang tidak seperti Kiai, santri baru tersebut meminta beliau untuk membawakan kopernya ke kamar. Kiai Abdul Karim pun merasa tidak keberatan.

Santri lain melihat kejadian ini kaget bukan main. Ketika adzan tiba, santri baru itu pun ikut jemaah. Ia kaget ketika melihat orang yang telah membawakan kopernya barusan menjadi imam. Konon, karena tak kuat menanggung malu, akhirnya santri tersebut keluar.


6        Karomah 

Dengan Sedekah Pergi Haji

Tapi belum sempurna jika KH. Abdul Karim belum menunaikan rukun Islam kelima. Itulah yang masih mengganjal dalam benaknya. Karena itu, setelah kebutuhan santri dipenuhi, dia berkeinginan untuk menunaikan ibadah haji. Awalnya, dia mau menjual tanah untuk biaya haji, tapi sebelum tanah itu terjual, kabar keberangkatan ternyata sudah tersiar.

Dari kabar itulah, banyak penduduk yang ingin mengucapkan selamat dan memberikan tambahan bekal. Anehnya, dari uang pemberian itu terkumpul uang banyak dan sudah bisa digunakan pergi haji dengan tanpa harus menjual tanah. Akhirnya, KH. Abdul Karim pun berangkat ke tanah suci dan sepulang dari tanah suci itu, kiai Manab mengganti namanya menjadi KH. Abdul Karim.

7         Referensi

https://lirboyo.net/

 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya