Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Muhammad Abdul Muhith Nawawi, Masyayikh Pesantren Al-Fitroh, Bantul
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Muhammad Abdul Muhith Nawawi, Masyayikh Pesantren Al-Fitroh, Bantul

1936 – 2004 M · 4.069 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Abdul Muhith Nawawi lahir pada tahun 1936 M di Dusun Jejeran, Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul. Seperti orang Jawa pada umumnya yang memberikan nama kecil dan nama besar bagi anak-anaknya, nama kecil beliau adalah Nahrowi.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi
1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru

3.    Penerus
3.1  Anak-Anak

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Mendirikan Pesantren
4.2  Karier
4.2  Karya-Karya

5.   Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir

KH. Abdul Muhith Nawawi lahir pada tahun 1936 M di Dusun Jejeran, Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul. Seperti orang Jawa pada umumnya yang memberikan nama kecil dan nama besar bagi anak-anaknya, nama kecil beliau adalah Nahrowi.

KH. ‘Abdul Muhith merupakan putra dari seorang kyai yang mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan agama Islam di Dusun Jejeran yaitu KH. Muhammad Nawawi, sedangkan Ibunda beliau bernama Ny. Jumanah.

1.2 Riwayat Keluarga
KH. Muhammad Abdul Muhith menikah pada usia 27 tahun, tepatnya pada tahun 1963. Beliau mempersunting Ny. Hj. Musta'inah, puteri dari pasangan suami isteri K.H Abdurrohman dan Ny. H. Muniroh Glagahombo. Ny. Musta'inah sendiri merupakan anak nomor 5. Saudara-saudara kandungnya berurut-urut yaitu: H. Ahmad Rifa'i, Ny. Hj. Barziyah, K.H Muhyiddin, H. Turmudzi, K.H Habibulloh, dan K.H Nurhadi.

Berselang sekitar 2 tahun setelah akad pernikahannya, kemudian berurut-urut lahir putera-putera sebanyak 6 orang, yang semuanya laki-laki. Mereka yaitu: KH. Ahmad Mamsyad, H. Ahmad Muntaqo, H. Ahmad Aziz Binuqo, Hibatul Mujib, Ahmad 'Asyjad, dan Ahmad Syafiq.

1.3 Wafat
KH. Abdul Muhith Nawawi wafat pada tanggal 14 Desember 2004, lantaran sakit flek pada paru-parunya.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu

KH. Muhmmad ‘Abdul Muhith Nawawi tidak begitu menekuni pendidikan formal dan hanya sekolah di Sekolah Rakyat (SR) sampai kelas tiga. Setelah itu, KH. Abdul Muhith Nawawi menekuni membaca dan mempelajari Al-Qur’an dan hadis serta kitab-kitab karangan ulama-ulama. Sementara dalam pendidikan agama Islam, sejak kecil sudah dididik oleh ayahnya, KH. Nawawi.

Pendidikan yang diberikan oleh KH. Nawawi selalu mengarah pada upaya mencintai ilmu Al- Qur’an dan beberapa dasar ilmu keagamaan, seperti fiqih, akhlak, dan bahasa terutama ilmu nahwu shorof/ilmu alat.

Beliau mondok ke beberapa pondok pesantren untuk menimba ilmu di antaranya Pondok Pesantren Watu Congol dalam pengasuhan KH. Dalhar, Pondok Pesantren Kaliwungu Kendal berguru pada KH. Rukyat, kemudian di Pondok Pesantren Banten memperkuat keilmuannya dalam bimbingan KH. Dimyati, di Banten ini beliau belajar cukup lama.
2.2 Guru-Guru
1. KH. Nawawi
2. KH. Dalhar, Watu Congol
3. KH. Rukyat, Kaliwungu
4. ​KH. Dimyati, Banten

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+