Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Muhammad Dimyati al-Bantani (Abuya Dimyati)
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Muhammad Dimyati al-Bantani (Abuya Dimyati)

1925 – 2003 M · 104.945 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Muhammad Dimyathi yang biasa dipanggil dengan Abuya Dimyathi atau Mbah Dim merupakan sosok Ulama Banten

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil KH. Muhammad Dimyathi al-Bantani (Abuya Dimyathi)

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mendirikan Pesantren
  5. Karomah
  6. Teladan
  7. Karya-Karya

 

Kelahiran

KH. Muhammad Dimyathi atau yang kerap disapa dengan panggilan Abuya Dimyathi atau Mbah Dim lahir lahir sekitar pada tahun 1925 di Banten. Beliau merupakan putra dari pasangan H. Amin dan Hj. Ruqayah.

Wafat

Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M atau bertepatan pada 7 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 WIB. Umat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama telah kehilangan salah seorang ulamanya, KH. Muhammad Dimyati bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani, di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun.

Pendidikan

Sejak kecil Abuya Dimyati sudah menampakan kecerdasan dan keshalihannya. Beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya, menjelajah tanah Jawa hingga ke pulau Lombok untuk menuntut ilmu.

Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa, di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri, Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantani. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.

Beliau adalah sosok yang haus akan ilmu, bahkan ketika telah berkeluarga dan memiliki putera, beliau tetap berangkat mondok bahkan Bersama dengan puteranya. Ketulusannya dalam menimba ilmu agama dan mensyiarkannya membawa beliau pada satu tingkat di atas khalayak biasa

Bagi Abuya Dimyati, hidup adalah ibadah. Tidak salah, kalau KH. Dimyati Rois Kaliwungu Kendal, pernah menjelaskan, bahwa belum pernah seorang kiai yang ibadahnya luar biasa seperti Abuya Dimyati. Menurutnya, selama mondok di Kaliwungu Kendal, Abuya Dimyati tidak pernah menyia-nyiakan waktu.

Di sisi lain, ada sebuah kisah menarik. Ketika bermaksud mengaji pada KH. Baidlowi, Lasem. Beliau bertemu dengannya, Abuya Dimyati malah disuruh pulang. Namun, Abuya Dimyati justru semakin menggebu-gebu untuk menuntut ilmu. Sampai akhirnya kyai kharismatik itu menjawab, “Saya tidak punya ilmu apa-apa”.

Sampai pada satu kesempatan, Abuya Dimyati memohon diwarisi thariqah. KH. Baidlowi pun menjawab, “Mbah Dim, dzikir itu sudah termaktub dalam kitab, begitu pula dengan shalawat, silahkan memuat sendiri saja, saya tidak bisa apa-apa, karena thariqah itu adalah sebuah wadzifah (sarana) yang terdiri dari dzikir dan shalawat.”

Jawaban tersebut justru membuat Abuya Dimyati penasaran. Untuk kesekian kalinya dirinya memohon kepada KH. B

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+