Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Mushlich Abdul Karim, Muasis Pesantren Raudlatut Thalibin Tanggir
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Mushlich Abdul Karim, Muasis Pesantren Raudlatut Thalibin Tanggir

wafat 1985 M · 3.698 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Mushlich Abdul Karim , dengan nama kecil Sho’im, lahir di desa Mojo (yang lebih dikenal dengan sebutan Jambangan) Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban. Tepatnya, pada tanggal 17 ramadhan 1343 H/1921 M

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi
1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru

3.    Penerus
3.1  Anak-anak

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Mendirikan Pesantren
4.2  Karier
5.   Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir

KH. Mushlich Abdul Karim memiliki nama kecil Sho’im, lahir di Desa Mojo (yang lebih dikenal dengan sebutan Jambangan) Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan 1343 H/1921 M, dari pasangan KH. Abdul Karim dan Ny. Mu’isah (Putri KH. Murtadlo, Kuncen Padangan Bojonegoro) bin K. Syihabuddin bin K. Anom bin KH. Abdul Jabbar Nglirip Jojogan (menantu Mbah Sambu Gresik, cucu Sunan Ampel) bin Pangeran Benowo bin Sultang Pajang (menantu Raden Fatah Demak).

1.2 Riwayat Keluarga
KH. Mushlich Abdul Karim menikah dengan Nyai Mashlichah binti H. Abdurrahman pada hari Jumat tanggal 22 September 1947 M. Setelah menikah Mbah Sho’im tinggal di Desa Tanggir, kemudian pada tahun 1950 M beliau mendirikan Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin dan Madrasah Miftahul Huda pada tahun 1951 M dan pada tahun 1954 M beliau menunaikan ibadah Haji.

Dari pernikahan KH. Mushlich Abdul Karim dengan Nyai Maslhlichah, beliau dikaruniai 6 Putra dan 1 Putri yang akan meneruskan perjuangannya.

1.3 Wafat
KH. Mushlich Abdul Karim wafat pada hari Sabtu malam Ahad tanggal 10 Februari 1985 M/20 Jumadil Awal 1405 H jam 12 Malam, KH. Mushlich yang penyabar dipanggil untuk menghadap Allah SWT, tepat pada usia 64 tahun, dan ribuan penziarah datang mendoakan dan menghantarkan sampai ke pemakaman yang berada di dekat Masjid Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Tanggir.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu

Sejak usia 10 tahun, KH. Mushlich Abdul Karim sudah merantau untuk menuntut Ilmu (mesantren), pertama beliau berguru kepada KH. Syarbini Lengkong Lajo Lor Singgahan Tuban. Kemudian dilanjutkan ke Pesantren Sarang Rembang, Jawa Tengah, di bawah asuhan KH. Syu’aib dan KH. Zubair Dahlan untuk memperdalam ilmu alat.

Lalu ke Pesantren Lasem Rembang Jawa Tengah, untuk belajar Ilmu Fiqih dan Hadis pada KH. Kholil dan Ma’shum. Setelah itu, Mbah Sho’im melanjutkan pengembaraannya di Pesantren Kendal Bojonegoro di bawah asuhan KH. Abu Dzarrin dan Pondok Pesantren Jampes Kediri, di bawah asuhan KH. Ihsan Dahlan. Di dua pesantren inilah, KH. Mushlich Abdul Karim mendapatkan kepercayaan dari pengasuh untuk menjadi tenaga pengajar.

2.2 Guru-Guru
1. KH. Syarbini Lengkong Lajo Lor Singgahan Tuban
2. KH. Syu’aib
3. KH. Zubair Dahlan
4. KH. Kholil Lasem
5. KH. Ma’shum Lasem
6. KH. Abu Dzarrin Bojonegoro
7. 

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+