KH. Mahfudz Saubari lahir di Demak, Jawa Tengah, 20 November 1954. Mahfudz harus lahir ke bumi tanpa ditemani ayahnya yang telah tiada. Tak lama kemudian, ibunya juga wafat saat Mahfudz masih belia.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
3. Penerus
3.1 Murid-Murid
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mengasuh Pesantren
4.2 Karier
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Mahfudz Saubari lahir di Demak, Jawa Tengah, pada tanggal 20 November 1954. KH. Mahfudz harus lahir tanpa ditemani ayahnya yang telah tiada. Tak lama kemudian, ibunya juga wafat saat KH. Mahfudz masih belia.
1.2 Riwayat Keluarga
Beliau beristri empat wanita sholehah, dari pernikahan itu dikaruniai 17 anak.
1.3 Wafat
Beliau wafat pada tanggal 15 Agustus 2022.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Kyai Mahfudz kecil mendapat pendidikan dari neneknya yang menerapkan kedisiplinan tingkat tinggi. Ketika beranjak remaja, Kyai Mahfudz belajar di pesantren. Terakhir, beliau menjadi santri di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri Jawa Timur sebelum mendalami ilmu dari Dr. Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Makkah, Kyai Mahfudz juga menuntut ilmu di Mesir.
2.2 Guru-Guru
1. KH. Ahmad Djazuli Utsman
2. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Makkah
3. Penerus
3.1 Murid-Murid
Murid-murid beliau adalah para santri di Pesantren Riyadhul Jannah Mojokerto.
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mendirikan Pesantren
Pondok Pesantren Riyadhul Jannah terletak di salah satu kecamatan kawasan wisata Segi Tiga Emas yang dicanangkan pemerintah Kabupaten Mojokerto. Tepatnya ada di tepi Jalan Raya Mojosari–Pacet Km 19 Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Pada awal 1987, DR. Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki yang merupakan guru dari KH. Mahfudz Syaubari mengadakan kunjungan ke Pacet. Dr. Sayyid Muhammad lantas menyarankan kepada Kyai Mahfudz untuk mencari tempat yang lebih representatif bagi sebuah pesantren.
Tiga tahun kemudian, saran dari sang guru bisa terealisasi dengan dibelinya tanah yang menjadi lokasi pesantren saat ini di Jalan Hayam Wuruk 22 Pacet, Mojokerto. Maka dimulailah pembangunan pesantren baru yang diberi nama Riyadhul Jannah. Nama Riyadhul Jannah merupakan pemberian dari Dr. Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki.
Dari segi kurikulum pendidikan, “Riyadhul Jannah” membagi menjadi dua kategori utama. Pertama pendidikan formal pesantren dan yang kedua adalah pendidikan formal nasional. Jumlah santri dan santriwati saat ini yang sudah mencapai 512 orang, sebanyak 194 di antaranya adalah santriwati. Saat ini Riyadhul Jannah sudah m
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

