KH. Achmad Djazuli Utsman lahir tepatnya tanggal 16 Mei 1900 M di Ploso, dengan nama kecilnya Mas'ud. Ia adalah anak Raden Mas M. Utsman panggilannya Pak Naib, seorang Onder Distrik (penghulu kecamatan).
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Madrasah
3.2 Mendirikan Pesantren
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Mas’ud atau yang biasa disapa KH. Ahmad Djazuli Utsman lahir pada tanggal 16 Mei 1900 M di Ploso. Beliau merupakan putra ketujuh dari tiga belas bersaudara, dari pasangan Raden Mas M. Utsman panggilannya Pak Naib, seorang Onder Distrik (penghulu kecamatan) dengan Nyai Mas Ajeng Muntoqinah binti M. Syafi’i.
Saudara-saudara beliau yaitu, Iskandar, Zarkasi, Miftahul ‘Arifin, Siti Maimunah (Bu Soleh), Siti Halimah, Abdulloh, Masjhud, Ardani, Siti Roihah, Siti Fatonah, Siti Aminah, dan Bairudin.
1.2 Keluarga
KH. Ahmad Djazuli Utsman menikah dengan Nyai Rodliyah. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai 8 putra dan 3 putri. Anak-anak beliau di antaranya:
1. Siti Azizah (meninggal di usia 1 tahun)
2. Hadziq (meninggal di usia 9 bulan)
3. KH. A. Zainuddin Djazuli
4. KH. Nurul Huda Djazuli
5. KH. Hamim Djazuli (Gus Miek)
6. KH. Fuad Mun’im Djazuli
7. Mahfudz (meninggal di usia 3 tahun)
8. Makmun (meninggal di usia 7 bulan)
9. KH. Munif Djazuli (Alm)
10. Ibu Nyai Hajjah Lailatul Badriyah Djazuli
11. Su’ad (meninggal di usia 4 bulan)
1.3 Wafat
KH. Ahmad Djazuli Utsman wafat pada hari Sabtu Wage, 10 Januari 1976 M/10 Muharam 1396 H. Ribuan umat mengiringi prosesi pemakaman sosok pemimpin dan ulama itu di sebelah masjid kenaiban, Ploso, Kediri.
Konon, sebagian anak-anak kecil di Ploso, saat jelang wafat KH. Djazuli, melihat langit bertabur kembang. Langit pun seolah berduka dengan kepergian ‘Sang Blawong’ yang mengajarkan banyak keluhuran dan budi pekerti kepada santri-santrinya itu.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Sebagai anak bangsawan, Kyai Mas’ud adalah anak yang beruntung, karena beliau bisa mengenyam pendidikan sekolah formal seperti SR, MULO, HIS bahkan sampai dapat duduk di tingkat Perguruan Tinggi STOVIA (Fakultas Kedokteran UI sekarang) di Batavia.
Sekolah‑sekolah yang dibentuk Belanda hanya mengajarkan ilmu‑ilmu umum, tujuannya semata‑mata memenuhi kebutuhan pernerintah Belanda untuk mencetak pegawai‑pegawai yang setia kepada pemerintahnya. Tidak sembarang rakyat dapat masuk sekolah, pemerintah Belanda hanya memberi kesempatan kepada kelompok kecil bangsa Indonesia yang terdiri dari anak‑anak pegawai, bangsawan dan tuan‑tuan tanah.
Hari demi hari Kyai Mas’ud terus berkembang seperti anak-anak yang lain.
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

