Prof KH Ibrahim Hosen LML Ulama Nahdlatul Ulama Jakarta
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mujtahid Fatwa
3.2 Mendirikan Institut Ilmu Al-Qur'an
4. Teladan
4.1 Sosok Pemikir Sejati
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Prof. KH. Ibrahim Hosen., LML lahir pada tanggal 1 Januari 1917, di Tanjung Agung, Bengkulu. Beliau merupakan putra kedelapan dari 12 bersaudara dari pasangan KH. Hosen, seorang Ulama dan Saudagar keturunan Bugis dengan Siti Zawiyah, keturunan ningrat Kerajaan Salebar, Bengkulu.
1.2 Wafat
Setelah delapan hari dirawat di Mount Elizabeth Hospital, Singapura, Prof. KH. Ibrahim Hosen berpulang ke haribaan-Nya dalam usia 84 tahun, pada tanggal 7 November 2001 M/21 Sya'ban 1422 H. Beliau sendiri yang meminta berobat ke tempat di mana beliau pertama kali mengenal sekolah formal, Madrasah As-Sagaf, 1927 M. Setelah merasa jantung beliau kembali sakit, beliau dimakamkan di Komplek Pemakaman UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Secara formal, Prof. Ibrahim Hosen mulai pendidikannya di Madrasah As-Sagaf, tingkat Ibtidaiyah di Singapura. Kemudian melanjutkan pendidikan di Mu’awanatul Khaer Arabische School (MAS) di Tanjung Karang yang didirikan orang tua beliau. Pada tahun 1932 M, beliau melanjutkan sekolah di Teluk Betung. Di luar waktu sekolah, Prof. Ibrahim Hosen menggunakan kesempatan untuk belajar agama dan bahasa Arab kepada Kyai Nawawi, seorang ulama’ besar yang pernah belajar dan menjadi guru di Makkah selama kurang lebih 12 tahun.
Dan dari Kyai inilah beliau memperoleh kelebihan dalam penguasaan ilmu-ilmu agama, terutama bahasa Arab dan Fiqih. Pada tahun 1934 M Prof. Ibrahim Hosen belajar di Pesantren yang diasuh oleh KH. Abdul Latief di Cibeber, Cilegon di kawasan Banten. Setelah 2 bulan, beliau melanjutkan pengembaraannya menuju Jameat Al-Khaer Tanah Abang, dengan tujuan adalah ingin belajar kepada Sayyid Ahmad As-Segaf, seorang ulama’ yang sangat pandai dalam ilmu bahasa dan sastra Arab.
Pada tahun yang sama, Prof. Ibrahim meneruskan ke Pesantren Lontar, Serang Banten yang diasuh oleh KH. TB. Soleh Makmun (di Arab dikenal dengan Syeh Makmun Al-Khusairi) yang ahli dalam bidang qira’at dan Tilawat Al-Qur’an.
Kemudian, Prof. Ibrahim pergi ke Buntet untuk berguru kepada ulama besar, yaitu KH. Abbas, seorang murid KH. Hasyim Asy’ari pendiri NU. Dengan Kyai Abbas, walaupun hanya 4 bulan, KH. Ibrahim sudah dianggap cukup, kemudian disarankan untuk melanjutkan di Solo atau Gunung Puyuh, Sukabumi.
Di Solo, Prof. Ibrahim menemui Sayyid Ahmad As-Segaf untuk memperdalam bahasa Arab dan Muhsin As-Segaf (kakak Ahmad As-Segaf) untuk memperdalam fiqih. Kemudian beliau mela
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

