Syekh Haji Musthafa Husein Nasution bin Husein Nasution bin Umar Nasution al-Mandaili adalah seorang Ulama terkemuka di Sumatra Utara yang meninggalkan karya bangunan keislaman monumental Madrasah di Purba Baru Mandailing Tapanuli Selatan ,
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pondok Pesantren
3.2 Peranan di Nahdlatul Ulama
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Syekh Musthafa Husein Al-Mandili lahir pada tahun 1886 di Tano Bato Kayulaut, beliau merupakan putra dari pasangan H. Husein dan Hj. Halimah. Syekh Musthafa Husein pada masa kecilnya bernama Muhammad Yatim adalah anak ke-3 dari 8 orang bersaudara, saudara-saudara beliau diantaranya:
1. Anak tertua adalah Nuruddin, bertempat tinggal tetap dan wafat di Malaya (Malaysia).
2. Hamidah, wafat di Panyabungan.
3. Muhammad Yatim atau Syekh Musthafa Husein Al-Mandili.
4. Siddik yang mendapat gelar Mangkuto Saleh, bertempat tinggal tetap dan wafat di Kayulaut Mandailing.
5. Saleh, bertempat tinggal tetap dan wafat di Medan.
6. Mardin (H. Umnaruddin), bertempat tinggal tetap dan wafat di Makkah Saudi Arabia.
7. Harun, bertempat tinggal tetap dan wafat di Pekalongan Jawa Tengah.
8. Abdul Gani, meninggal di saat Pasar Tanobato dilanda banjir mulia pada malam Ahad, tanggal 28 November 1915.
1.2 Riwayat Keluarga
Pada bulan Syawal tahun 1332 H (sekitar bulan Agustus-September 1914 M), atas permintaan keluarganya, Syekh Musthafa Husein menikah dengan seorang gadis bernama Habibah, seorang gadis yang berasal dari Huta Pungkut, Kotaponan.
Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 10 orang anak, yakni 2 anak laki-laki dan 8 anak perempuan. Anak perempuan yang pertama nantinya dinikahkan dengan Syekh Muhktar Siddik, anak perempuan yang kedua dinikahkan dengan Syekh Ja'far Abdul Wahab.
1.3 Wafat
Pada tanggal 16 November 1955, Syekh Mustafa Husein Nasution menghembuskan nafas terakhir di Padang Sidimpuan, jenazah beliau dimakamkan di Purba Baru. Sepeninggal Syekh Musthafa, Pesantren Musthafawiyah dikelola dan dipimpin oleh putra tertuanya, yakni H. Abdullah Musthafa Nasution. Saat ini Pesantren Musthafawiyah dikelola dan dipimpin oleh cucu Syekh Musthafa yang bernama H. Musthafa Bakri Nasution.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
Syekh Musthafa Husein memulai pendidikannya dengan mengaji di Hutapungkut dalam bimbingan Syekh Abdul Hamid, sekitar 2 tahun (1898–1900). Dalam waktu 2 tahun itu pengajiannya hanya sekali seminggu yaitu pada setiap hari Ahad. Di luar hari mengaji Syekh Musthafa Husein mengikuti Syekh Abdul Hamid ke kebun kopi yang jaraknya 3 km dari Desa Hutapungkut. Tidak jarang mereka bermalam di kebun dan baru kembali ke desa menjelang pengajian.
Sesudah pengajian di Hutapungkut Syekh Musthafa Husein dianjurkan oleh gurunya Syekh Abdul Hamid untuk memperdalam ilmu agama Islam ke Makkah, Saudi Arabia. Pada sekitar bulan Rajab tahun 1900 beliau berangkat ke Makkah, Saudi Arabia bersamaan dengan keberangkatan orang-orang yang hendak menunaikan ibadah haji. Keberangkatan ini dibiayai separuhnya oleh orang tuanya.
Pada 5 tahun pertama di Masjidil Haram Makkah Saudi Arabia, Syekh Musthafa Husein merasa bahwa dia tidak memperoleh ilmu, kemudian dia berkeinginan hendak p
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

