Mbah Kiai Abdullah Faqih bin Umar, Ulama Pejuang dari Ujung Timur Pulau Jawa
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil Mbah KH. Abdullah Faqih (KH. Faqih Cemoro)
Kelahiran
Mbah KH. Abdullah Faqih atau yang kerap disapa dengan KH. Faqih Cemoro lahir pada tahun 1870 M
Wafat
Mbah KH. Abdullah Faqih wafat pada malam Jumat Kliwon tahun 1953 di usia 83 tahun. Kiai karismatik itu dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di dekat istrinya, almarhumah Suryati, yang meninggal lebih dulu di usia 60 tahun.
Keluarga
Mbah KH. Abdullah Faqih melepas masa lajanganya dengan menikah Suryati. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai lima anak. Putra putri beliau diantaranya KH. Ahmad Muhtarom, KH. Sholeh Abdullah, Siti Maryam, Mohammad Idris, dan Salamah.
Pendidikan
Mbah KH. Abdullah Faqih merupakan sosok anak muda yang giat belajar. Sejak belia ia rajin menuntut ilmu serta tirakat. Melalui bimbingan ayahnya yang terkenal memiliki ilmu agama dan kanuragan yang pilih tanding, beliau kecil rajin berpuasa sunnah.
Pada tahun 1887, kala itu Kiai Faqih masih berusia sembilan tahun. Dia sudah memutuskan untuk berkelana mencari ilmu. Faqih muda telah berkelana ke berbagai tempat. Diantaranya ke Kiai Purwosono di Lumajang. Kurang lebih dua tahun, ia menuntut ilmu sekaligus mengabdi disana.
Selain ke Lumajang, Faqih muda juga pergi ke Lirboyo. Di tempat itu, ia berkeinginan untuk menuntut ilmu disebuah pesantren yang diasuh oleh KH. Abdul Karim, pendiri Pesantren Lirboyo.
Setelah itu, Kiai Faqih muda melanjutkan pengembaraannya ke Pasuruan. Ia berguru kepada KH. Siddiq ulama besar asal Lasem yang bermukim di Pasuruan lalu menetap di Jember. Dari Kiai Siddiq ini, banyak terlahir ulama besar. Baik secara biologis maupun ideologis. Diantara putranya, ialah KH. Ahmad Siddiq, Rois Syuriah PBNU periode 1984 – 1989.
Usai nyantri di Pasuruan, Kiai Faqih menyebrang ke Madura. Ia menuntut ilmu ke soko guru para ulama Nusantara, Syaikhona Kholil Bangkalan. Tak kurang dari sembilan tahun, ia menyerap ilmu dari waliyullah tersebut.
Kiai Faqih merupakan santri ke-22 dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Saat belajar di Bangkalan, beliau satu angkatan dengan KH. Hasyim Asyari dan KH. Wahab Chasbullah, dua kiai besar asal Jombang yang dikenal sebagai pendiri NU.
Kiai Faqih juga satu angkatan dengan KH. M. Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, KH. Ma’shum pendiri Pondok Pesantren Lasem Rembang, dan KH. Syamsul Arifin pendiri dan pengas
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

