Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Noer Muhammad Iskandar., SQ., M.A
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Noer Muhammad Iskandar., SQ., M.A

1955 – 2020 M · 41.669 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ, MA Ulama Nahdlatul Ulama Jakarta

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan
2.2  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Mendirikan Pesantren

4.    Organisasi dan Karir
5.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ, MA, adalah tokoh ulama yang dikenal sebagai pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, sebuah lembaga pendidikan yang kini memiliki sebelas cabang di dalam dan luar kota. Pesantren ini terkenal dengan sistem pembelajaran yang memadukan metode klasik dan modern. Beliau lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, pada tanggal 5 Juli 1955, putra dari pasangan Kyai Iskandar dan Nyai Rabiatun.

1.2 Riwayat Keluarga
Pada usia 27 tahun, tepatnya pada tahun 1982, KH. Noer Muhammad Iskandar menikah dengan Nyai Siti Nurjazilah, putri KH. Mashudi dari Tumpang, Malang, Jawa Timur. Nyai Nurjazilah juga pernah memimpin Pondok Pesantren Putri Cukir Tebuireng, Jawa Timur. Pernikahan mereka dilangsungkan di kediaman KH. Mashudi, dihadiri oleh dua tokoh besar kyai Jawa Timur, yaitu KH. Makhrus Aly sebagai wakil dari keluarga KH. Noer Muhammad Iskandar, dan KH. Adlan Aly dari pihak Nyai Hj. Nurjazilah, yang juga pimpinan Pondok Pesantren Cukir Tebuireng Jombang. Akad nikah dipimpin oleh KH. Adlan Aly, sementara khutbah nikah disampaikan oleh KH. Makhrus Aly.

Setelah pernikahan, mereka kembali ke Jakarta, namun belum memiliki tempat tinggal tetap dan sempat berpindah-pindah dari satu rumah teman ke rumah teman lain. Akhirnya, KH. Noer Muhammad Iskandar menitipkan istrinya kepada keponakannya, Dra. Marsyidah Tahir, agar istrinya memiliki teman berbicara dan berbagi cerita. KH. Noer Muhammad Iskandar kemudian memantapkan kembali Yayasan Al-Muhlisin di Pluit, dan mulai banyak mengisi ceramah agama di Radio CBB serta berbagai daerah lainnya.

Beliau dianugerahi enam orang anak, yaitu Nur Eka Fatimatuzzahro, Istiqomah Iskandar, Ahmad Makhrus Iskandar, Atina Balqis Izza, Muhammad Muhsin Ibrahim Iskandar, dan Ahmad Ibrahim Iskandar yang meninggal beberapa hari setelah dilahirkan.

1.3 Wafat
KH. Noer Muhammad Iskandar. SQ., MA wafat pada tanggal 13 Desember 2020, jam 13.41 WIB. Jenazahnya dimakamkan di Kompleks Pesantren Asshiddiqiyah Kedoya.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ, MA memulai pendidikannya di pesantren tradisional Sumber Beras, Banyuwangi, Jawa Timur, yang diasuh oleh ayahnya sendiri, KH. Iskandar. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di madrasah ibtidaiyah pada tahun 1967, beliau melanjutkan ke Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, yang diasuh oleh KH. Makhrus Aly. Di Lirboyo, beliau pernah memimpin ikatan santri Banyuwangi. Pada tahun 1974, beliau lulus dari Pondok Pesantren Lirboyo dan melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) Jakarta.

2.2 Guru-Guru
1. KH. Iskandar
2. KH. Mahrus Ali
3. KH. Baidhowi Iskandar
4.&n

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+