KH.R Syamsul Arifin Ulama Nahdlatul Ulama Situbondo Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. R. Syamsul Arifin
Kelahiran
KH. R. Syamsul Arifin lahir pada tahun 1841 M di desa lancar, kecamatan larangan, kabupaten pamekasan, madura. Beliau merupakan putra dari KH. Ruham dengan Nyai. Nur Sari (Khotijah).
Ibunda KH. R. Syamsul Arifin (Nyai Nur Sari) adalah keturunan Bendoro saut. Dalam sejarah kerajaan madura, bindoro saut dikenal sebagai Bupati Sumenep yang bergelar Tumenggung tirtonegoro di tahun 1750-an. Bendoro saut merupakan keturunan pangeran katandur yang merupakan cucu Sunan Kudus.
Keluarga
KH. R. Syamsul Arifin melepas masa lajanganya dengan menikahi Maimunah, putri dari KH. Muhammad Yasin yang juga merupakan keluarga dekat KH. Kholil Bangkalan. Pernikahan beliau digelar di Mekkah pada tahun 1890 M.
Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai dua anak laki-laki, As’ad dan Abdurrohman. ketika As’ad berumur 6 Tahun, KH. R. Syamsul Arifin memutuskan untuk pulang ke tanah Air, ke Pesantren Kembang Kuning, Pamekasan, Madura.
KH. R. Syamsul Arifin ingin mengabdikan dirinya kepada masyarakat tempat ia dilahirkan. Maka, ia beserta istri dan putranya, As’ad, Pulang kampung. Kecuali Abdurrahman yang kala itu, masih berumur 4 tahun dititipkan kepada Nyai Salkah, saudara sepupu Maimunah, yang memang mukim di Mekkah.
Di Kembang Kuning, KH. R. Syamsul Arifin membantu ayahnya mengajar di pondok. Namun belum lama ia menggantikan ayahnya, istri tercinta nyai Maimunah jatuh sakit kemudian meninggal. Jenazah almarhum Nyai Mamunah (Ibu kandung As’ad) ini kemudian dimakamkan di belakang masjid jami’ Tallang, sekitar 300M sebelah timur Pondok Kembang Kuning. KH. R. Syamsul Arifin kemudian nikah lagi dengan Nyai Siti Syaidah, janda dari kiai Syarkowi pendiri pondok Guluk-Guluk Sumenep.
Wafat
KH. R. Syamsul Arifin wafat pada tahun 1951 M
Pendidikan
Ketika usia Raden Ibrahim alias KH. R. Syamsul Arifin menginjak usia Remaja (sekitar 12 tahun) KH. Ruham memondokkan KH. R. Syamsul Arifin ke Pondok Pesantren Sidogiri. Di Pondok Pesantren Sidogiri inilah KH. R. Syamsul Arifin belajar berbagai ilmu nahwu, fiqh dan lainnya. Bahkan beliau pernah menjadi tenaga pengajar. Setelah lama mondok di sidogiri, KH. R. Syamsul Arifin kemudian pindah ke Pondok Pesantren Langitan Tuban. Setelah itu pindah lagi ke Pesantren Bangkalan dibawah asuhan langsung Syaikhona KH. Kholil Bangkalan, di Pesantren Bangkalan inilah KH. R. Syamsul Arifin mulai menampakkan keistimewaannya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Pondok Bangkalan. Seperti lazimnya para santri KH. R. Syamsul Arifin mohon diri untuk pulang kampung. Sebelum pulang tak lupa mohon do’a restu sang guru agar menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, bangs
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

