KH Ali Shodiq Umman Ulama Nahdlatul Ulama Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
3.2 Kisah Ketika Menjadi Santri
3.3 Shalat Jamaah dengan Dipapah
4. Chart Silsilah Sanad
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Kelahiran
KH. Ali Shodiq Umman lahir sekitar tahun 1929 M di Dusun Gentengan Lingkungan IV, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Beliau waktu itu lahir dan tinggal bersama masyarakat Ngunut yang sangat minim akan pengetahuan agama. Boleh dibilang, karena sangat tidak mengertinya tentang agama, biasa disebut dengan istilah masyarakat abangan.
Ayah KH. Ali Shodiq bernama Pak Umman, beliau adalah kusir dokar yang hidup sederhana dan taat beribadah. Sedangkan Ibu KH. Ali Shodiq bernama Bu Marci. Pasangan suami istri ini datang dari daerah bernama Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Mereka berdua sangat mendambakan seorang anak yang ‘Alim ‘Allamah dalam hal agama. Sehingga, Pak Umman pun, sangat senang dan hormat pada setiap kyai dan santri yang ia temui. Setiap kali ada santri yang menumpang dokar beliau, beliau siap mengantarkannya ke manapun santri itu pergi, tanpa memungut upah darinya.
KH. Ali Shodiq adalah anak ke-7 dari 18 bersaudara. Namun yang hidup hingga dewasa adalah 10 orang. Masing-masing adalah Intiamah, M. Syarif, Markatam, Abdul Syukur, Abdul Ghoni, Umi Sulkah, Ali Shodiq, Amini, Khoirul Anam dan Marzuki. Sedang, yang 8 lainnya wafat ketika masih kecil.
Sejak umur sepasar (lima hari), KH. Ali Shodiq diasuh oleh paman beliau, namaya Pak Tabut. Beliau ini merupakan masih adik dari Ibu Marci. Pak Tabut adalah seorang pedagang batik dan pemborong palawija yang cukup mapan perekonomiannya.
Beliau tinggal bersama istrinya, Ibu Urip, dari Olak Alung, nama salah satu daerah di Ngunut, yang konon dulu, daerah ini merupakan daerah basis PKI (Partai Komunis Indonesia), tepatnya di Jalan Raya 1 No. 34 Ngunut, yang sekarang menjadi Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiien Ngunut (PPHM-Ngunut) pusat.
KH. Ali Shodiq sangat disayang oleh Pak Tabut dan istrinya, Ibu Urip. Kebetulan, pasangan suami istri ini tidak di karuniai seorang anakpun. Dalam momongan Pak Tabut pun, KH. Ali Shodiq hidup dalam kecukupan. Segala keinginan terpenuhi. Sejak itu pulalah, beliau sangat suka dengan kuda.
Namun, di balik itu semua beliau KH. Ali Shodiq, yang masih muda merasa prihatin dengan keadaan/kondisi masyarakat sekitar Ngunut yang dalam pola hidupnya jauh dari nilai-nilai agama. Sejak kecil, beliau mulai belajar mengeja huruf-huruf Al-Qur’an dan cara-cara beribadah kepada Bapak Mahbub, di Desa Kauman, Ngunut.
1.2 Riwayat Keluarga
Menurut Mbah KH. Ihsan (Pengasuh Pondok Pesantren Abul Faidl, Bakalan, Wonodadi, Blitar) setelah KH. Ihsan Jampes wafat sekitar tahun 1952, KH. Ali Shodiq pindah ke Pesantren Lirboyo yang waktu itu masih diasuh oleh
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

