Sejak kecil, KH. Dr. Ahsin Sakho Muhammad., M.A telah menunjukkan bakatnya dalam ilmu-ilmu Al-Qur'an. Ketika masih duduk di kelas IV SD dan belum lagi dikhitan, beliau telah hafal tiga juz Al-Qur'an, yakni juz 28, 29, dan 30.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Pendiri Pesantren
4. Karir-Karir
5. Chart Silsilah Sanad
6. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Dr. KH Ahsin Sakho Muhammad., M.A., lahir pada tanggal 21 Februari 1956 di Arjawinangun, Cirebon. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Muhammad dengan Nyai Umi Salamah bin KH. Syathori, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Arjawinangun.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Sejak kecil, Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad., M.A., telah menunjukkan bakatnya dalam ilmu-ilmu Al-Qur'an. Ketika masih duduk di Kelas IV SD beliau telah hafal tiga juz Al-Qur'an, yakni juz 28, 29, dan 30.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD dan SMP Arjawinangun, beliau melanjutkan pendidikannya di Pesantren Lirboyo, Kediri, sambil belajar di SMU. Sejak lama, Pesantren Lirboyo memang didominasi oleh para santri asal Cirebon dan sekitarnya.
Di pesantren terkemuka itu beliau belajar fiqih dan ilmu-ilmu alat, seperti nahwu, shorof, dan sebagainya. Sementara di saat libur panjang beliau belajar ilmu di pesantren lain, antara lain: mengaji tabarruk kepada KH. Umar Abdul Manan (Solo) dengan menyetorkan hafalan-hafalan Al-Qur’annya. Meski tidak lama belajar kepadanya, tidak sampai dua bulan, beliau merasa sangat beruntung, karena bisa memperoleh syahadah sanad dari sang guru.
Keinginanannya yang kuat untuk mendalami Al-Qur’an membawanya meneruskan belajar di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta (1973- 1976). Beliau juga sempat belajar kepada KH. Arwani (Kudus). Tetapi ketika baru berjalan sekitar dua bulan, beliau diminta pulang ke Cirebon untuk menyiapkan keberangkatannya ke Makkah. “Meski demikian, bagi seorang santri, sesingkat apa pun masa belajarnya, ia harus bisa menyerap berbagai ilmu, termasuk akhlak dan keteladanan gurunya,” katanya.
Bulan Agustus 1976 menandai era baru dalam hidupnya, beliau berangkat ke Arab Saudi untuk mendalami ilmu-ilmu agama sebagaimana cita-cita orangtuanya. Mula-mula beliau belajar di Makkah sekitar satu tahun 1976-1977, mengaji Al-Qur’an di Masjidil Haram di bawah bimbingan Syekh Abdullah Al-`Arabi, seorang Mesir yang didatangkan oleh Jamaah Tahfizh Al-Qur’an. Di Masjidil Haram memang banyak kegiatan, salah satunya dikoordinasikan oleh lembaga tersebut.
Ketika itu yang memimpin lembaga tersebut ialah Syekh Shalih Al-Qazzaz, mantan Sekjen Rabithah `Alam Islami. Yang juga banyak berperan di lembaga ini ialah Syekh Ibrahim Sa`ad, seorang Mesir yang mengatur metode menghafal Al-Qur’an.
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

