Gurutta Daud Ismail memulai pendidikan awalnya dimulai di bawah bimbingan orang tuanya di rumah, khususnya dalam mempelajari Al-Qur'an. Selanjutnya, beliau melanjutkan pendidikannya ke berbagai pesantren di Sengkang, di mana beliau belajar dari berbagai ulama terkemuka di wilayah tersebut.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Pengajar
3.2 Masa Penjajahan
3.3 Menjadi Qadhi
3.4 Menjadi Pemimpin Pesantren
3.5 Mendirikan Pesantren
4. Karya-Karya
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Anregurutta KH. Daud Ismail lahir di Cenrana, Lalabata, Soppeng pada tahun 1907 M, beliau merupakan putra dari pasangan H. Ismail dan Hj. Pompola.
1.2 Wafat
Anregurutta KH. Daud Ismail memimpin Pondok Pesantren YASRIB hingga akhir hayatnya. Beliau meninggal dunia pada usia 99 tahun pada hari Senin, 21 Agustus 2006, sekitar pukul 20.00 WITA, setelah dirawat selama tiga pekan di Rumah Sakit Hikmah, Makassar.
Saat wafat, beliau masih menjabat sebagai Qadhi di Kabupaten Soppeng dan pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Soppeng pada tahun 1993-2005.
Atas permintaan almarhum, jenazah akan dimakamkan di Kompleks Pondok Pesantren Yasrib Watansoppeng, Kabupaten Soppeng, tempat kelahirannya. Ziarah di Makam Anregurutta KH. Daud Ismail, Pendiri Pesantren Yasrib Soppeng, Sulawesi Selatan
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Anregurutta KH. Daud Ismail memulai pendidikan awalnya dimulai di bawah bimbingan orang tuanya di rumah, khususnya dalam mempelajari Al-Qur'an. Selanjutnya, beliau melanjutkan pendidikannya ke berbagai pesantren di Sengkang, di mana beliau belajar dari berbagai ulama terkemuka di wilayah tersebut.
Anregurutta KH. Daud Ismail merupakan individu yang memiliki semangat belajar yang kuat sejak masa kecilnya. Meskipun tidak mendapat pendidikan formal yang terstruktur, beliau mampu belajar secara otodidak untuk menguasai aksara Lontara dan Latin. Namun demikian, beliau juga sangat menghargai pentingnya belajar dari orang lain, sehingga beliau aktif menimba ilmu dari berbagai guru, baik di wilayah asalnya di Soppeng, Kabupaten Soppeng, maupun di Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
Antara tahun 1925 hingga 1929, Anregurutta KH. Daud Ismail mengalami periode penting dalam pembelajarannya. Beliau mengikuti pelajaran kitab Qawaid di Lapasu Soppeng Riaja, yang terletak sekitar 10 kilometer dari Mangkoso dan 40 kilometer dari Kota Pare-Pare. Di sana, beliau belajar di bawah bimbingan seorang ulama terkemuka bernama Haji Daeng. Selama masa tersebut, Anregurutta KH. Daud Ismail juga belajar dari seorang ulama lainnya yang bernama Qadhi Soppeng Riaja, yaitu H. Kittab. Keputusannya untuk mengikuti pelajaran di tempat-tempat tersebut menunjukkan dedikasi dan ketertarikannya yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan dan agama.
Pada tahun 1930, Anregurutta KH. Daud Ismail kembali ke Sengkang untuk belajar di Pesantren Bugis yang didirikan oleh Anregurutta H. Muhammad As'ad, yang diberi na
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

