Mbah Manshur popongan Klaten Jawa Tengah Ulama Nahdlatul Ulama
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil Mbah Manshur Popongan (KH. Muhammad Manshur)
- Kelahiran
- Wafat
- Keluarga
- Pendidikan
- Merintis Pesantren
- Mursyid Thariqah
- Murid-Murid
- Chart Silsilah Sanad
Kelahiran
KH. Muhammad Manshur atau yang kerap disapa dengan panggilan Mbah Manshur Popongan lahir di Dusun Popongan, Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. Beliau merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, dari Syekh Muhammad Abdul Hadi Girikusumo. Saudara-saudara beliau diantaranya Sirajuddin dan Zahid.
Mbah Manshur Popongan bersama kedua saudaranya menjadi guru Thariqah Naqsyabandiyah. Mbah Sirajuddin dan Mbah Zahid mengembangkan thariqah di Girikusumo, meneruskan tugas spiritual Mbah Hadi, sedangkan Mbah Manshur mengembangkan thariqah di Karesidenan Surakarta dan menjadi pendiri Pondok Pesantren Popongan, Dusun Popongan, Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten.
Ayahanda Mbah Manshur Popongan adalah seorang mursyid Thariqah Naqsyabandiyah-Khalidiyah di Girikusumo, Mranggen, Demak. Sumber-sumber Belanda menyebutkan bahwa Syekh Muhammad Abdul Hadi sebagai sosok religious leader (tokoh agama) yang sangat berpengaruh di Semarang.
Syekh Muhammad Abdul Hadi atau yang kerap dipanggil dengan sapaan Mbah Hadi Girikusumo adalah putra Thohir bin Shodiq Jago bin Ghozali (Klaten) bin Abu Wasijan (Medono, Pekalongan) bin Abdul Karim (Paesan, Batang) bin Abdurrasyid (Batang) bin Saifudin Tsani (Kiai Ageng Pandanaran II Semarang) bin Saifudin Awwal (Kiai Ageng Pandanaran I, Sunan Tembayat Klaten).
Ayahanda beliau juga, memiliki peran besar dalam dakwah Islam, khususnya dalam mengembangkan Thariqah Naqsyabandiyah. Jaringan Thariqah Naqsyabandiyah yang dipelopori oleh Mbah Hadi Girikusumo berkembang sampai se-antero Jawa Tengah dan Yogyakarta melalui para murid spiritualnya, yang jumlahnya lebih dari seratus ribu orang.
Mbah Hadi mendirikan pondok pesantren Girikusumo pada tanggal 16 Rabiul Awwal 1288 H atau 1866 M. Sebelumnya, Mbah Hadi belajar agama dan Thariqah Naqsyabandiyah kepada Syaikh Sulaiman Zuhdi di Makkah al-Mukarramah. Di Girikusumo, Mbah Hadi sering juga dipanggil Mbah Giri, Mbah Hasan Muhibat, dan Kiai Giri.
Girikusumo adalah nama sebuah desa. Giri (bhs. jawa) berarti gunung, dan kusumo (bhs. jawa) berarti bunga. Ponpes Giri didirikan oleh Syekh Muhammad Hadi pada tahun 1288 H bertepatan dengan tahun 1866 M. Mbah Hadi memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan dan dakwah Islam. Hal ini dibuktikan dengan mengirim putra-putranya untuk nyantri di luar daerah.
Kepemimpinan pesantren di Girikusumo dipegang oleh Mbah Hadi sendiri, sedangkan para santri muda diasuh oleh Mbah Sirajuddin, sedangkan Mbah Manshur ditugaskan ayahnya untuk meneruskan perjuangannya di daerah Karesidenan Surakarta. Akan tetapi, umur Mbah Sirajuddin pendek, dan ia wafat mendahului ayahandanya. Mbah Hadi meninggal dunia pada tahun 1931, dan selanjutnya tugas kepemimpinan pondok pesantren diteruskan oleh putranya, yaitu adik kandung Mbah Sirojuddin, yaitu Mbah Zahid.
Berdasarkan cerita yang berkembang, pada prosesi pemakaman Mbah Hadi, terjadi sebuah fenomena khariqul ‘adah (aneh, luar biasa), yakni ada batu besar yang berada di dekat calon makam Mbah Hadi. Seluruh pelayat termasuk para kyai tidak mampu menyingkirkan batu tersebut. Setelah Mbah Manshur Popongan datang, batu tersebut bisa diangkat oleh Mbah Manshur sendiri. Itulah salah satu karomah yang dimiliki Mbah Manshur.
Wafat
Mbah Manshur Popongan wafat tahun 1955. Setelah Mbah Manshur Popongan wafat, estafet kepemimpinan
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

