Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Ahmad Maimun Adnan, Pendiri Pondok Pesantren Al-Ishlah Bungah, Gresik
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Ahmad Maimun Adnan, Pendiri Pondok Pesantren Al-Ishlah Bungah, Gresik

1933 – 2015 M · 21.640 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Ahmad Maimun Adnan lahir pada tanggal 22 Juli 1933 di Desa Tanggungan Baureno, Bojonegoro. Beliau merupakan putra ketiga dari delapan bersaudara, dari pasangan KH. Adnan dan Nyai Robi’ah.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan
2.2  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Mendirikan Pesantren
3.2  Kiprah di Nahdlatul Ulama

4.    Chart Silsilah Sanad
5.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
KH. Ahmad Maimun Adnan lahir pada tanggal 22 Juli 1933 di Desa Tanggungan Baureno, Bojonegoro. Beliau merupakan putra ketiga dari delapan bersaudara, dari pasangan KH. Adnan dan Nyai Robi’ah. Saudara-saudara beliau di antaranya:

  1. Abdul Hamid,
  2. Umamah,
  3. Ahmad Maimun Adnan,
  4. Abdul Majid,
  5. Sholihah,
  6. Zaenah,
  7. M. Chozin,
  8. Choiroh.

1.2 Riwayat Keluarga
Ayah beliau merupakan seorang guru ngaji sekaligus pedagang tembakau yang sukses di desanya. Meskipun ayahnya sosok yang berpengaruh di Desa Tanggungan, tidak menjadikan Kyai Maimun kecil dikenal sebagai pribadi yang sombong. Sebaliknya beliau dikenal sebagai pribadi yang lembut, mudah bergaul dan suka mengajak ngaji teman-teman sepermainannya.

Pada suatu kesempatan saat masih kecil, Kyai Maimun tengah bermain kelereng di depan rumahnya dan mendengar suara adzan dari saung yang dibangun oleh Kyai Adnan. Beliau langsung berdiri dan membereskan kelereng yang tergeletak, kemudian berkata pada temannya, "Ayo wes saiki awakmu melok aku sembayang sek, ben engkok aku diolehi dolen maneh ambek bapakku." Lalu, dua puluh teman Kyai Maimun kecil hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya dari belakang.

Di lain waktu, Kyai Maimun juga mengajak teman dekatnya yang bernama Darda’ untuk ikut mengaji dengannya. Ketika itu di Desa Tanggungan terdapat pagelaran pencak silat yang diisi dengan acara-acara pemujaan, Kyai Maimun kecil dilarang untuk keluar oleh orang tuanya. Teman-temannya pun mencari keberadaannya.

Saat itu, Abu Darda’, teman Kyai Maimun kecil mengetuk pintu rumahnya untuk mengajaknya keluar dan menonton. Namun Kyai Maimun kecil menolak dan berkata, "Melok aku ngaji ae nak Deso Kidul kono, engkok mulene ayo dolen maneh." Di desa ini memang masih memegang tradisi turun temurun dari nenek moyang mereka, sehingga saat itu Kyai Adnan yang salah satu dari alumni dari pondok pesantren ingin merubah kebiasaan dari masyarakat sekitar.

Beliau mendirikan sebuah saung atau langgar yang mana tempat ini diisi ngaji Al-Qur’an selepas habis Subuh dan Ashar. Di saung atau langgar ini Kyai Adnan mempunyai sepuluh santri yang semuanya dari luar Desa Tanggungan. Dan di tempat ini juga pendidikan agama pertama Kyai Maimun kecil dilakukan.

Selain sebagai pribadi yang ramah dan mudah bergaul, di keluarga Kyai Maimun juga dikenal sebagai pribadi yang penurut, tidak banyak berbicara. Di antara saudara-saudaranya, Kyai Maimun kecil adalah anak yang paling sering dibawa oleh Kyai Adnan ketika mengisi pengajian di luar Desa Tanggungan.

Saat menginjak usia 13 tahun, Kyai Maimun remaja harus berlapang dada menerima kenyataan bahwa ayah yang selama ini menjadi teman dan sek

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+