Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Mohammad Ma'roef RA (Mbah Ma'roef Kedunglo)
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Mohammad Ma'roef RA (Mbah Ma'roef Kedunglo)

lahir 1852 M · 54.511 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH Ma'ruf Kedunglo Ulama Nahdlatul Ulama Kediri Jawa Timur

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil KH. Mohammad Ma'roef RA (Mbah Ma'roef Kedunglo)

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Guru-Guru
  6. Mendirikan Pesantren
  7. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  8. Teladan
  9. Pergi Haji
  10. Melawan Penjajah
  11. Karomah
  12. Chart Silsilah Sanad

Kelahiran

KH. Mohammad Ma'roef RA atau yang kerap disapa dengan panggilan Mbah Ma'roef lahir pada tahun 1852, di dusun Klampok Arum Desa Badal Ngadiluwih Kabupaten Kediri. Beliau merupakan putra dari KH. Abdul Madjid (Mbah Yai Madjid), seorang pendiri Pondok Klampok Arum selatan Masjid Badal.

KH. Mohammad Ma'roef RA. Merupakan putra kesembilan dari sepuluh bersaudara.

  1. Nyai Bul Kijah,
  2. KH. Muhajir,
  3. Kiai Ikrom,
  4. Kiai Rohmat,
  5. Kiai Abdul Alim,
  6. Kiai Jamal,
  7. Nyai Muntaqin,
  8. Kiai Abdullah,
  9. KH. Mohammad Ma'roef
  10. Nyai Suratun.

Sejak kecil, KH. Mohammad Ma'roef RA sudah menjadi seorang Piatu, beliau ditinggalkan oleh ibunya. Sebagai gantinya, beliau mendapat kasih sayang dari ayahnya (Mbah Yai Madjid) dan saudara-saudaranya. Akan tetapi tidak lama berselang, ayahnya juga menyusul ibunya kehadirat Allah. Setelah itu Mbah Ma’roef diasuh oleh Mbah Yai Bul Kijah, mbak ayunya yang sulung.

Wafat

Pada hari-hari terakhir menjelang wafatnya beliau (Mbah Ma'roef) yang memiliki doa - doa ampuh untuk segala macam urusan beliau tulis keseluruhannya di papan tulis. Kemudian beliau menyuruh santrinya untuk menulis doa-doa yang disukai. Dengan senang hati para santri segera menulis doa-doa tersebut lalu disowankan kepada gurunya.

Doa-doa pilihan yang sudah ditulis di kertas itu oleh Mbah Ma’roef hanya ditiup saja. Beliau juga sering berwasiat kepada tamunya yang sowan dan minta petunjuk. Agar mengamalkan shalawat saja. Lebih jelasnya beliau mengatakan kalau di Kedunglo nanti akan lahir shalawat yang baik.

Wasiat serupa juga diwasiatkan kepada Mbah Khomsah familinya saat minta restu akan mengikuti baiat thariqah yang dihadiri oleh Kiai Romli dari Nganjuk. Beliau dawuh, “Sah, jangan ikut baiat thariqah. Thariqah itu berat. Untuk orang yang punya uang ndak kuat. Sepeninggalku nanti, disini (Kedunglo) akan ada shalawat yang baik, tunggulah kamu akan menjumpai shalawat itu.” Terbukti, tujuh tahun setelah Mbah Ma’roef wafat shalawat yang dinantikan yakni Shalawat Wahidiyah lahir. Maka seluruh keluarga Mbah Khomsah langsung mengamalkan Shalawat Wahidiyah.

Pada detik-detik menjelang wafatnya, Mbah Ma’roef yang sudah berusia 103 tahun dan tidak kuat naik ke masjid, tidak biasanya beliau menyuruh murid-muridnya yang dari Mojo (Mbah Makhsun, Mbah Ruba’i, Mbah Mahfud dan Mbah Mukhsin) agar mengajar anak-anak kecil pakai papan tulis. Padahal jangankan mengajar mau sekolah saja empat sekawan tersebut oleh Mbah Ma’roef tidak diperkenankan.

Dalam kepayahannya karena sakit, beliau masih memikirkan pembangunan pondoknya dengan menyuruh Mbah Makhsun dan Mbah Siyabudin mencari uang untuk membangun pondok. Mbah Makhsun dan Mbah Siyabudin ke Surabaya, Gresik dan Malang melaksanakan perintah Mbah Ma’roef. Ketika masih di Surabaya, Mbah Makhsun mimpi ditemui Mbah Ma’roef yang menyuruhnya pulang karena dimasakkan kepala Kambing.

Kelihatan sekali kalau sang pendiri pondok Kedunglo sangat dermawan. Meski ajal akan m

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+