KH. Mahfudz Ridwan Ulama Nahdlatul Ulama Gedangan Kab. Semarang Jawa Tengah
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4. Teladan
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Mahfudz Ridwan atau akrab disapa Kyai Mahfudz, lahir di Salatiga pada tanggal 10 Oktober 1941. Beliau merupakan putra pertama dari lima bersaudara, dari pasangan KH. Ridwan dan Hj. Maemunah. Kyai Mahfudz dikenal sebagai perintis Pondok Pesantren Edi Mancoro di Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Mahfudz menikah dengan Hj. Nafisah asal Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Dari pernikahan beliau dengan Hj. Nafisah, beliau dikaruniai tiga putra dan satu putri, yakni Ir. Khamud Wibisono (Gus Wibi), Dr. Muna Erawati (Ning Muna), Sauqi Prayogo, S. T. (Gus Uqi), dan Muhamad Hanif, M. Hum (Gus Hanif).
1.3 Wafat
KH. Mahfudz wafat pada hari Ahad, tanggal 28 Mei 2017. Jenazah beliau dimakamkan di Pemakaman Keluarga di Desa Gedangan Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Sepeninggal dari KH. Mahfud Ridwan, semua urusan kepesantrenan diberikan kepada Gus Muhamad Hanif, M. Hum putra bungsu beliau.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
KH. Mahfudz Ridwan merupakan salah satu tokoh yang dilahirkan di Salatiga, sejak belajar di pesantren beliau ditempa di Pondok Pesantren Watucongol, Magelang yang saat itu diasuh oleh KH. Nahrowi Dalhar (Mbah Dalhar). Mbah Dalhar merupakan sosok kyai yang akrab dengan Nabi Khidir dan melakukan riyadhah secara khusus untuk mendoakan para santri dan keturunannya. Terbukti, keturunan dan para santri yang pernah ditempa beliau kelak menjadi Ulama dan Waliyullah terkemuka di daerahnya. Mata air makrifat yang didapat beliau di Makkah, setetes demi setetes beliau bagikan kepada para santri dan keturunan beliau.
Selama di pesantren Mbah Dalhar inilah, KH. Mahfud Ridwan benar-benar mengabdi dan menerima tempaan spiritual di bawah tangan Mbah Dalhar. Ia menyaksikan sendiri bagaimana mutiara makrifat yang dipertontonkan oleh Mbah Dalhar. Salah kesaksiannya, sebagaimana dijelaskan, KH. Mahfud Ridwan pernah disuruh mengambil makanan di dapurnya saat tengah malam dan ternyata tidak ada makanan di dapurnya.
Kyai Mahfud kemudian disuruh untuk duduk dan menunggu di depan rumah Mbah Dalhar dan datanglah seorang tidak dikenal dengan membawa nasi ambengan (berkat) dan diletakkan tepat di depan tempat duduk Kyai Mahfud. Peristiwa ini membuat Kyai Mahfudz bertanya-tanya karena pada malam itu para tetangga tidak ada yang melaksanakan hajatan.
Selama berada di Indonesia, KH. Mahfud Ridwan juga berguru kepada KH. Bisri Mustofa, Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin, Leteh, Rembang. Di pesantren ini KH. Mahfud mendapatkan ilmu agama yang cukup mumpuni serta segala sikap beliau diilhami oleh gurunya menjadi sosok manusia yang egaliter dalam mengayomi masyarakat dan para santrinya. Proses pembentukan sikap “ngemong” yang ditunjukkan Kyai Mahfudz kepada setiap orang yang berada bersamanya diapli
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

