Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Abdullah Alwi Murtadho
✓ Terverifikasi Tim Riset

Abdullah Alwi Murtadho

lahir 1936 M · 26.406 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Beliau merupakan putra dari Kiai Alwi bin Kiai Murtadho, tokoh ulama di Singosari, Malang

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil A. A. Murtadho

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Mendirikan Pesantren
  4. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  5. Salah Satu Sosok Pendiri PMII
  6. Chart Silsilah Sanad

Kelahiran

Abdullah Alwi Murtadho atau yang kerap disapa dengan panggilan A. A. Murtadho dilahirkan di Singosari, Malang. Beliau merupakan putra dari Kiai Alwi bin Kiai Murtadho, tokoh ulama di Singosari, Malang. Kiai Alwi semasa hidupnya juga pernah menjadi Ketua PCNU Singosari, yang kemudian menjadi cikal bakal NU Cabang Kabupaten Malang. Maka tak heran, jika para putranya kemudian ikut meneruskan perjuangannya di NU.

Selain Abdullah (A. A. Murtadho), putra-putri Kiai Alwi yakni Pengasuh Pesantren Ilmu Al-Quran (PIQ) Singosari Malang, Kiai Bashori Alwi (yang baru saja wafat 23 Maret 2020). Kemudian Kiai Abdis Salam (Pasuruan), Nyai Muthmainnah (Ibunda H.M Said Budairy), Anshor (wafat masih kecil), dan Abdul Karim.

Pendidikan

A. A. Murtadho, meskipun secara nasab ia merupakan paman dari Said Budairy, namun secara usia, keduanya tidak terpaut jauh (M. Said Budairy lahir pada 12 Maret 1936). Alhasil, keduanya akrab sejak kecil dan menempuh jalur pendidikan yang hampir sama.  

Dimulai dari nyantri di Pesantren Bungkuk Singosari, juga bersekolah SD hingga SMA di Malang. Baru kemudian saat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, A. A. Murtadho ke Jakarta untuk menimba ilmu di ADLN, sedangkan Said Budairy kuliah di Perguruan Tinggi Jurnalistik Jakarta (sayangnya tidak sampai tamat).

Kedua, mengenai proses keterlibatannya hingga ikut dalam proses pendirian PMII. Meski berbeda kampus, namun A. A. Murtadho dan Said Budairy masih sering berjumpa, sebab keduanya aktif di dalam organisasi yang sama, yakni IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) yang didirikan pada tahun 1954.  

Mendirikan Pesantren

Dalam meneruskan perjuangan dakwah yang telah dirintis ayahnya, ia ikut membantu dalam berdirinya Pesantren Ilmu Al-Quran (PIQ). Pada tanggal 1 Mei 1978, bersama dua saudaranya, KH Bashori dan Abdul Karim. Kiai Bashori Alwi kemudian didapuk untuk menjadi pengasuh pesantren. Sumbangsihnya dalam mendirikan pesantren, serta PMII ini, tentu menjadi salah satu jariyah yang akan terus mengalir bagi dia, yang kini telah berkalang tanah.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Pimpinan Pusat IPNU yang kala itu berkedudukan di Yogyakarta (sedangkan ibukota Negara RI di Jakarta), membentuk Perwakilan Pimpinan Pusat (PPP) IPNU di Jakarta, yang berfungsi untuk membantu penyelenggaraan organisasi dan hubungan eksternal.

Sebagaimana yang diterangkan dalam buku KH. Moh. Tolchah Mansoer: Biografi Profesor NU yang Terlupakan (Caswiyono dkk, 2009), PPP IPNU diketuai oleh A. A. Murtadho. Dalam menjalankan organisasi, ia dibantu oleh Suwigyo (Wakil Ketua), Chalid Mawardi (Sekretaris, Mahasiswa Fakultas Hukum UI), Shobih Ubaid (Sekretasi I), M. Said Budairy (Sekretaris II), Jusuf Mustaqim (Bendahara I), A. Baidlowi (Bendahara II), Mahfud Nur dan Qomaruddin Arifin (pembantu umum). PPP IPNU berkantor di Jl Kebon Sirih Barat Dalam No. 90.

Tugas PPP IPNU adalah mewakili PP IPNU dengan organisasi lain, termasuk federasi

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+