Syekh Muhammad Ahyad Bogor adalah ulama NU.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil Syekh Muhammad Ahyad Bogor
Kelahiran
Syekh Muhammad Ahyad lahir pada malam Rabu tanggal 21 Ramadhan 1302 atau bertepatan pada tahun 1884, di Bogor, Jawa Barat. Beliau merupakan putra dari Kiai Muhammad Idris ibn Abi Bakar bin Tubagus Mustofa al-Bakri al-Bughuri.
Wafat
Syekh Muhammad Ahyad wafat pada malam Sabtu tanggal 9 bulan Shafar 1372 (1952) dengan usia kurang lebih 70 tahun. Jenazah beliau dimakamkan di Ma’la.
Pendidikan
Dalam mendidikan putra-putrinya, Kiai Idris sangat mengutamakan pengajaran agama dibanding dengan yang lainnya. Ketika sendi-sendi ajaran Islam sudah tertanam baik, maka Kiai Idris memerintahkan anaknya seperti Ahyad untuk mengkaji pelajaran umum supaya antara ilmu agama dan umum dapat selaras dan seimbang.
Mulanya Ahyad menerima didikan ilmu agama dari ayahnya dan ulama-ulama yang ada di daerahnya. Dasar-dasar ilmu agama Islam seperti membaca Al-Qur’an, Nahwu, Sharaf, Fiqih, Hadist, dan lain-lain dikuasainya dengan baik. Metode menghafal, sorogon, dan bandongan selalu menjadi makanan keseharian Ahyad ketika masih dalam prosesi belajar di kampung halamannya.
Untuk sekolah umum, Kiai Idris memasukkan Ahyad di Volk School hingga tamat di Meer Uietgebreid Leger Orderwijs (MULO), yakni sebuah sekolah yang jenjangnya setingkat dengan SMP. Di sekolah buatan Belanda ini, Ahyad dapat menguasai bahasa Belanda, Matematika, Biografi, dan ilmu umum lainnya.
Pada tahun 1899, saat umur Ahyad 15 tahun, ia berangkat ke Haramain untuk mematangkan keilmuannya kepada ulama yang menggelar halaqah di Masjidil Haram. Rihlah ini sudah menjadi idamannya sejak kecil, sebab ayahnya sering bercerita tentang kelebihan belajar di Haramain dibanding dengan yang lainnya.
Terlebih di sana, sang ayah mempunyai sahabat yang menjadi pengajar di Masjidil Haram, yaitu Syekh Mukhtar ibn Atharid al-Bughuri. Kegiatan belajar mengajar di Haramain sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan yang ada di Hindia Belanda (Indonesia). Kompeni selalu mengawasi setiap kegiatan agama Islam yang dianggapnya berbahaya semenjak terjadinya perlawanan para Kiai Banten pada 1888 yang dikenal dengan pemberontakan Cilegon. Pemberontakan ini terjadi sebab kompeni telah menghina sebagian ajaran Islam dan kelakuannya yang selalu menyensarakan rakyat petani.
Setibanya di Haramain, Ahyad ikut bergabung dengan halaqah Masyayikh Haramain, baik yang ada di Masjidil Haram, Masjid an-Nabawi, dan di kediaman mereka. Di antara guru Ahyad ketika belajar di Haramain adalah Syekh Muhtar ibn Atharid al-Bughuri, Syekh Baqir ibn Muhammad Nur al-Jukjawi, Syekh Ahmad Sanusi, Syekh Ahmad Muhammad bin Ahmad Ridwan al-Madani, Syekh Abbas bin Muhammad bin Ahmad Ridwan (putra Syekh Ahmad Muhammad bin Ahmad Ridwan al-Madani), dan Syekh Muhammad Abdul Hayyi al-Kittani.
Kepada ulama Haramain ini, terlebih Syekh Mukhar yang menjadi umdah-nya (guru sandaran utamanya), Ahyad mendalami ilmu Fiqih Syafii, Tafsir, Hadist, Ushul, Faraidh, Falak, Nahwu, Sharaf, Balaghah, dan Arûdh. Jika sudah menghatamkan satu disiplin ilmu dari awal hingga akhir, maka Syekh Mukhtar akan membacakan sanad atau silsilah keilmuan kitab tersebut kepada santri-santrinya termasuk Ahyad.
Mengajar di Masjidil Haram
Dengan penuh ketekunan dan kesungguhan, Ahyad mempelajari apa yang transmisikan oleh Masyayikh Haramain. Ia kelihatan lebih menonjol dibandingkan dengan yang lainnya. Karena kealiman yang tersemat dalam dirinya, Syekh Mukhtar mengusulkan kepada Masyayikh Masji
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

