KH. Harits Dimyathi Tremas adalah ulama NU.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Harits Dimyathi Tremas
Kelahiran
KH. Harits Dimyathi lahir pada tahun 1932, di Tremas. Beliau merupakan putra bungsu dari delapan bersaudara, dari pasangan KH. Dimyathi Abdullah dan ibunya Nyai Khotijah.
Wafat
Kiai Harits Dimyathi wafat pada tahun 1995. Pesarean beliau berada di makam gunung Lembu Desa Tremas, bersama dengan para sesepuh Tremas lainya. Dan tiap hari makamnya selalu ramai diziarahi oleh para santri.
Wasiat terakhirnya yakni agar Pesantren Tremas tetap selalu menjaga jatidirinya sebagai pesantren salaf seperti ketika pesantren ini didirikan pertama kalinya oleh KH Abdul Manan Dipomenggolo pada tahun 1830 M.
Keluarga
Kiai Harits Dimyathi menikah dengan salah satu putri Hadratusyyekh KH. Hasyim Asy'ari Tebuireng, yang bernama Fathimah. Namun mahligai rumah tangganya bersama putri pendiri NU itu tidak berlangsung lama. Kemudian, Kiai Harits menikah kembali dengan Nyai Hadiyah yang berasal dari Jatimalang, Arjosari, Pacitan. Dari pernikahan itu, Kiai Harits dikarunia empat orang putra-putri; Kiai Hammad Al Alim, Nyai Jihan Al Janin, Kiai Luqman Al Hakim, dan Gus Mu'adz.
Pendidikan
KH. Harits Dimyathi merupakan sosok yang lahir dan besar dalam lingkungan pesantren. Hidup di bawah bimbingan dan pengawasan orang-orang alim. Agaknya inilah yang menyebabkan kepribadian Kiai Harits tumbuh menjadi orang alim.
Pada tahun 1939 melanjutkan belajarnya ke Madrasah Salafiyah Kauman Surakarta di bawah asuhan KH. Dimyathi Abdul Karim sampai kurang lebih tahun 1942. Dan semasa pemerintahan penjajah Jepang Kiai Harits Dimyathi kembali ke Tremas sampai tahun 1945. Dan kemudian melanjutkan lagi ke Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH. Ali Maksum sampai kurang lebih tahun 1952.
Di bawah bimbingan guru besarnya ini, ketekunan Kiai Harits Dimyathi dalam belajar semakin besar. Dalam waktu singkat kitab-kitab klasik telah dikuasai dengan baik. Seluruh waktunya hanya digunakan untuk belajar semata. Maklum, tanggung jawab yang akan dipukulnya ke depan semakin berat. Apalagi sebagai putra Kiai Dimyathi Abdullah yang kesohor kealimanya itu.
Hingga beberapa waktu kemudian Kiai Harits Dimyathi mengikuti jejak kakaknya, Kiai Habib Dimyathi kembali ke Tremas untuk membina dan membangun kembali Pondok Tremas sebelumnya sempat vakum, karena kakaknya yang menjadi pengasuh saat itu, Kiai Hamid Dimyathi dibunuh oleh PKI pada peristiwa Affair Madiun tahun 1948.
Awal-awal menetap di pesantren Tremas, Kiai Harits Dimyathi tidak tinggal di kediamanya, melainkan tinggal di asrama santri. Kiai Harits memilih tinggal bersama para santrinya tak lain untuk mempermudah dalam mendidik dan menagawasi para santri secara langsung.
Konon, Kiai Harits Dimyathi termasuk salah seorang pengasuh yang melakukan tirakat "Nahun". Kiai Harits tetap tinggal di asrama santri dan sama sekali tidak pulang ke kediamanya selama tiga tahun, tiga bulan, dan tiga hari. Padahal kediamanya sel
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

