Setelah ayahandanya wafat, Abuya Muhtadi Dimyathi melanjutkan kepemimpinan pesantren. Beliau menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Roudotul 'Ulum Cidahu, Pandeglang.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Gelar
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Pengasuh Pesantren
3.2 Membuka Majlis Ta'alim
4. Teladan
5. Fatwa
6. Chart Silsilah Sanad
7. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Abuya Ahmad Muhtadi Dimyathi Al-Bantany atau yang kerap disapa Abuya Muhtadi Dimyathi lahir pada tanggal 26 Desember 1953 M/28 Jumadil Awal 1374 H di Kampung Cidahu, Desa Tanagara, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Abuya Dimyathi bin KH. M. Amin Al-Bantany dengan Nyai Hj. Asma' binti KH. ‘Abdul Halim Al-Makky.
1.2 Gelar
Abuya Muhtadi Dimyathi adalah sosok ulama yang memiliki banyak gelar, di antaranya:
1. Mufti Asy-Syafi’iyyah, Gelar tersebut didapat karena beliau sudah mengkhatamkan dan menguasai 4 Kitab pedoman Muta'akhkhirin As-Syafi’iyyah (Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Asnal Matholib) dan Kitab Raudlatut Tholibin (Pegangan Para Mufti).
2. Al-Mutafannin, karena beliau adalah ulama yang menguasai berbagai Ilmu Agama.
3. Al-Musnid, karena beliau sudah disahkan untuk mengijazahkan Kitab Sanad Kifayatul Mustafid karangan Syekh Mahfudz At-Tarmasy.
4. Al-Mursyid Thariqah Asy-Syadziliyyah karena beliau juga menguasai 14 cabang Thariqah.
5. Syekhul Masyayikh (Kyainya Para Kyai).
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Abuya Muhtadi Dimyathi memulai pendidikannya dengan belajar di SR Tanagara. Ketika belajar di SR beliau diasuh oleh ibundanya, karena ayahandanya Abuya Dimyathi Amin pada waktu itu masih Siyahah (berkelana) di Pondok-Pondok Pesantren di Nusantara sekaligus bersilaturrahim, bertabarruk dan tholab pada para ulama sepuh kala itu.
Setelah tamat SR, pada tahun 1965 M beliau diajak oleh ayahandanya untuk ikut Siyahah sambil terus menerus digembleng pendidikan agama dalam pengembaraan selama 10 tahun, dan pada tahun 1975 M. Beliau mengikuti ayahandanya Iqomah di Kampung Cidahu Desa Tanagara, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten sambil merintis Pondok Pesantren.
Meski telah memimpin pesantren, bukan berarti beliau berhenti belajar kepada ayahandanya, karena sampai akhir hayat ayahandanya pada 3 Oktober 2003 M/7 Sya’ban 1424 H, beliau masih tetap belajar dengan mengkhatamkan banyak Kitab ulama salaf dari berbagai cabang ilmu.
Dari cabang ilmu tafsir, beliau mengkhatamkan Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabary (Tafsir terbesar) dan Tafsir Ibnu Katsir. Dari cabang Qiro'ah beliau tidak cuma ahli dalam Qiro'ah Sab’ah tapi juga ahli dalam Qiro'ah ‘Asyaroh di samping juga Hafidz Al-Qur'an. Dari cabang Ilmu Al-Qur'an ia mengkhatamkan Al-Burhan, Al-Itqon dan lain-lain. Dari fan hadis beliau mengkhatamk
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

