Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Abdullah Mubarok Tasik, Pendiri Pesantren Suryalaya Tasikmalaya
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Abdullah Mubarok Tasik, Pendiri Pesantren Suryalaya Tasikmalaya

1836 – 1956 M · 16.216 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Pada tahun 1890 M, ketika usianya 50 tahun, beliau membuka pengajian. Mula-mula di kampung Tundangan, kemudian ke kapung Cisero. Dan di tahun 1902 M, pindah ke kampung Godebag.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan
2.2  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Mendirikan Pesantren
3.2  Menjadi Mursyid Tarekat

4.    Chart Silsilah Sanad
5.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
KH. Abdullah Mubarok atau yang akrab dipanggil Abah Sepuh lahir tahun 1836 M, di Desa Cicalung, Kecamatan Tarikolot, Kabupaten Sumedang. Sekarang, kampung tersebut masuk ke dalam Desa Tanjungsari, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya. Beliau merupakan putra dari R. Nurapraja.

1.2 Wafat
Abah Sepuh wafat pada tangal 25 Januari 1956 M dalam usia yang cukup panjang, yaitu 120 tahun. Beliau meninggalkan sebuah lembaga Pondok Pesantren Suryalaya yang sangat berharga bagi pembinaan umat manusia. Pesantren tersebut dilanjutkan putranya yang sudah dipersiapkan sejak awal, Abah Anom. Putranya yang kelima tersebut juga melanjutkan dan menggantinya dalam mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
Abah Sepuh memulai pendidikannya dengan belajar mengaji kepada ayahnya, R. Nurapraja yang bekerja sebagai upas kecamatan. Abah Sepuh kemudian dibesarkan oleh uwaknya yang dikenal sebagai Kyai Jangkung. Sejak kecil, sudah gemar mengaji dan mesantren dan membantu orang tua dan keluarga, serta suka memperhatikan kesejahteraan masyarakat.

Setelah menyelesaikan pendidikan agama dalam bidang akidah, fiqih, dan lain-lain di tempat orang tuanya, beliau melanjutkan menimba ilmu agama ke Pesantren Sukamiskin Bandung. Di Pesantren Sukamiskin, beliau mendalami fiqih, nahwu, dan shorof. Selain di pesantren tersebut, beliau juga belajar tarekat kepada pada Syekh Tolhah di Trusmi, Cirebon dan dan Syekh Kholil Bangkalan, Madura.

2.2 Guru-Guru
1. R. Nurapraja (ayah)
2. Syekh Tolhah,
3. Syekh Kholil Bangkalan,

3. Perjalanan Hidup dan Dakwah

3.1 Mendirikan Pesantren
Pada tahun 1890 M, ketika usianya 50 tahun, beliau membuka pengajian. Mula-mula di kampung Tundangan, kemudian ke Kampung Cisero. Dan di tahun 1902 M, pindah ke Kampung Godebag. Karena itulah beliau dikenal dengan sebutan Ajengan Godebag. Pada tahun 1905 M, beliau mendirikan Pesantren Suryalaya yang ternyata menarik minat masyarakat dan kemudian berkembang subur dan masih berdiri dan berkembang hingga sekarang.

3.2 Menjadi Mursyid Tarekat
Pada tahun 1907 M, guru tarekatnya dari Cirebon, Syekh Tolhah, sempat mengunjungi Pesantren Godebag. Gurunya tersebut melihat pesantren sebagai masa depan cerah untuk mengembangkan ilmu agama, termasuk tarekat. Maka, sekitar tahun 1908 dalam usia 72 tahun, beliau diangkat secara resmi (khirqoh) sebagai guru dan pemimpin pengamalan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah oleh Syekh Tolhah.

Di dalam tarekat itu, juga memperoleh bimbingan ilmu tarekat dan (bertabaruk) kepada Syekh Kholil Bangkalan Madura dan bahkan memperoleh ijazah khusus Shalaw

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+